Jumat, 01 Februari 2008

Merajut Cerita dalam Novel





Kulit di kening Anto langsung berkerut lipat sembilan saat bertamu ke rumah Andi. Kenapa? Karena Anto melihat robekan-robekan kertas dan berbagai macam kertas yang telah diremas-remas oleh seseorang.

Sementara itu, Andi terkapar di kursi panjangnya linangan air liur hampir menutupi wajahnya (wuih..hiperbola banget neh bahasa. Masa' iler aja sampai hampir menutupi wajah).

Anto yang tak mau terkontaminasi iler sahabatnya itu membangunkan Andi dengan melemparkan kertas yang telah diremas-remas ke wajah Andi.

Lemparan pertama .... gagal. Lemparan kedua ... hanya menyerempet ujung rambut Andi. Dan kini, lemparan ketiga............... wiuh! Gagal lagi! Berkali-kali melempar tapi tetap gagal, Anto jadi frustasi juga. Akhirnya dia meraup semua kertas yang telah diremas-remas, mengumpulkannya di dalam keranjang dan melemparkan semuanya ke arah Andi. Bukan hanya kertasnya, tapi juga keranjangnya sekalian (waduh!).

Andi yang kelelahan dan tampaknya sedang bermimpi indah itu langsung melompat bangun dan memasang kuda-kuda seperti orang berkelahi. "Aits...Aits..siapa itu? Siapa berani mengganggu Andi, jagoan dari Betawi, keturunan langsung Si Pitung?" teriak Andi sambil memamerkan jurus-jurus silatnya.

Tiba-tiba, "Tuk" sebuah kertas menyambar kepala Andi dari belakang. "Aits!" Andi langsung berbalik.

"Apa, Lo?" tanya Anto dengan lagak menantang.

"Eh, ternyata kamu, Nto," kata Andi sambil mengelus-elus dadanya dan kembali duduk di kursi panjang.

"Eh, emangnya hujan barusan turun, ya? Kok, rumahku bocor?" Andi kebingungan ketika dia merasakan kursi panjangnya basah kuyup. Padahal, Andi yakin rumah kontrakannya itu tidak bocor.

"Itu bukan karena rumah kamu bocor, tapi mulut kamu tuh yang bocor. Liat aja, iler sampai berleleran di wajah kamu gitu. Jorok banget sih!" tukas Anto sambil cengar-cengir.

Setelah membereskan iler-iler yang menggenang di beberapa tempat (soalnya Andi kalau tidur suka pindah kemana-mana tanpa disadarinya), dan membersihkan kertas-kertas yang berserakan, Andi mempersilakan Anto untuk duduk.

"Kamu lagi bikin apaan, Ndi. Kok rumah kamu jadi kayak kapal pecah begini?" tanya Anto.

"Dari semalam aku lagi pengin bikin novel anak. Cuman, kok sulit banget, ya. Untuk membuat cerpen sekarang aku sudah agak lancar, tetapi saat mencoba membuat novel anak, entah kenapa otak ini jadi buntu dan rasanya terlalu berat untuk membuat novel anak yang harus sekian puluh, bahkan sekian ratus halaman," keluh Andi.

Dengan tersenyum, Anto mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu. Setelah Andi selesai berbicara, Anto pun bertanya, "Bagian mana yang menurut kamu sulit?"

"Bagian memperpanjang cerita yang menurutku paling sulit. Aku merasa bahwa konflik yang aku bangun hanya cocok untuk sebuah cerpen. Kalau untuk novel, otakku nggak nyampe," jawab Andi.

Anto masih saja tersenyum melihat kegelisahan sahabatnya itu.

"Sebenarnya, membuat novel itu sama saja dengan membuat cerpen. Dalam masalah yang kamu hadapi, yaitu kebuntuan mengembangkan cerita, banyak sekali dialami oleh hampir semua penulis novel.

Aku pun juga pernah mengalami kebuntuan untuk mengembangkan cerita dalam novelku".

"Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya Andi memotong penjelasan Anto.

Meski dipotong, namun Anto tidak merasa tersinggung. Anto memang sangat memahami betapa frustasinya saat seorang penulis mengalami kebuntuan dalam membuat cerita.

"Apa yang kulakukan? Aku kemudian berpikir tentang selimut," jawab Anto sambil mengangkat telunjuknya sebagai isyarat agar Andi yang saat itu hendak bicara untuk diam dan tidak memotong penjelasannya.

"Kamu tahu selimut, kan? Kebanyakan selimut dibuat dari satu kain, hanya motifnya yang kemudian diramaikan. Tapi, ada juga selimut yang dibuat dari kain perca. Bentuknya tak kalah indah, dan menurutku cenderung lebih menarik. Begitu pun dengan menulis novel, kita bisa membuat selimut novel dengan berbagai perca cerita pendek. Semua tergantung dari kejelian kita dalam menjalin perca cerita itu hingga menjadi selimut novel yang menarik.

Trik seperti itu bisa dikatakan sebagai patchwork. Nah, apa keunggulan novel dengan gaya penulisan ala patchwork ini?

Keunggulannya banyak, yaitu novel kita akan lebih bervariasi isinya, karena cerita yang kita buat mempunyai multi konflik dan multi ending. Kemudian, karakter tokoh lebih banyak tergali dan tidak hanya sekedar tempelan dan tentu saja kita akan lebih mudah menggarapnya."

"Hmm...menarik juga untuk dicoba. Cuman aku masih meraba-raba untuk membuat cerita dengan gaya seperti itu," kata Andi.

"Oke. Kamu bisa menerapkan gaya patchwork ini dengan tahapan-tahapan. Yang pertama, buat kerangka dulu cerita yang akan dibuat untuk novel. Kedua, kumpulkan perca konflik, cerpen yang pernah kita buat bisa kita manfaatkan. Ketiga, pilih satu konflik yang paling menarik dan kuat, jadikan konflik ini sebagai benang merah. Keempat, buat pem-bab-an dengan baik. Misal 3-1. Dalam bab kita masukkan, satu 3 konflik. Satu konflik kita akhiri, satu konflik untuk bab berikutnya, satu lagi merupakan benang merah. Seterusnya perbab, hingga bab terakhir hanya satu bab yang kita tutup konfliknya.

Yang kelima, buat penokohan dengan sistem grup. Misalnya 5 sahabatnya di kantor, 4 sekawan kost, 4 sahabat sekelas, trio anggota band, dan lain-lain. Yang terakhir, langsung buka awal tulisan dengan konflik kecil," jelas Anto panjang lebar.

Manggut-manggut Andi mendengar penjelasan sahabatnya itu. Perlahan namun pasti, Andi mulai membenahi kembali lembar-lembar kertas diatas mejanya dan duduk diam menatap lurus ke arah kertas itu.

Anto yang melihat tingkah Andi jadi bengong. "Lho, kamu ngapain, Ndi, bukannya ngomong kok malah bengong. Kesambet baru tahu, lo."

Andi tidak menjawab dan tetap menatap kertas yang ada di depannya.

"Ndi, ngomong, dong. Ye... capek-capek njelasin malah dicuekin," Anto makin keras berteriak.

Akhirnya Andi menoleh ke arah Anto, itupun dilakukan dengan perlahan seperti gerakan lambat dalam sebuah film. Perlahan pula telunjuknya ditempelkan di bibirnya. "Sssst! Tolong jangan berisik. Aku sedang memikirkan konflik-konflik kecil yang akan aku rangkai menjadi konflik besar dalam novelku ini," kata Andi dengan mimik sok serius.

Sedikit kesal tapi juga ingin tertawa Anto melempar apa aja yang ada di dekatnya ke wajah Andi yang saat ini tampak mengesalkan baginya.

Kamis, 17 Januari 2008

31 Hak Anak

31 Hak Anak

Andi sekarang sudah mulai lumayan dalam membuat cerita anak. Namun, yang namanya manusia, terkadang bisa juga kehabisan ide atau tema cerita.

Seperti biasa, tempat Andi curhat dan diskusi adalah Anto, sahabat sekaligus guru dalam bidang kepenulisannya.

"Nto, aku lagi bingung, neh," kata Andi saat bertemu sahabatnya itu.

"Bingung apaan? Klo bingung pegangan pagar tuh, biar mantep," canda Anto.

"Ah, kamu ini, bercanda melulu. Aku serius nih," kata Andi lagi.

"Oke-oke, maaf, deh. Kamu lagi bingung apa Andi sayang," Anto masih terus bercanda, namun Andi sepertinya benar-benar serius sehingga tidak menganggap perkataan Anto sebagai canda. Andi terus melanjutkan keluh kesahnya.

"Aku lagi bingung. Aku sudah banyak menulis cerita pendek untuk anak. Tapi, kini aku kehabisan ide. Aku merasa bahwa semua ide atau tema sudah kutulis semua. Nah, kalau sudah begini, apa yang harus kutulis lagi?" tanya Andi.

"Ehm....sebenarnya, sebagai penulis kita tidak akan pernah kehabisan bahan untuk cerita. Banyak kejadian disekitar kita yang bisa kita jadikan bahan. Seperti yang pernah kukatakan, tidak harus cerita yang wah dan muluk-muluk, tapi bisa juga hanya dari peristiwa kehilangan sandal jepit, kita bisa membuatnya menjadi sebuah cerita yang menarik dan mempunyai pesan moral yang tinggi. Itu kalau kita mau. Tapi, sepertinya cara ini agak sulit bagi kamu.

Untuk itu, kamu mungkin bisa menulis berpatokan pada beberapa hak anak yang ada dalam Konvensi Hak Anak," jelas Anto yang jadi ketularan serius.

"Memang ada gitu, Konvensi Hak Anak?" Andi heran karena baru kali ini dia mendengar tentang konvensi hak anak.

"Ya ada lah, secara anak-anak yang harus kita lindungi gitu loh," jawab Anto sambil melanjutkan, "Makanya, kalau mau total dalam dunia kepenulisan anak-anak, kamu harus juga mau bekerja keras dan cerdas untuk memahami dunia mereka serta mempelajari apa saja yang berkaitan dengan dunia anak-anak.

Dalam Konvensi Hak Anak disebutkan sekitar 31 hak bagi anak, yaitu:
1. Hak untuk kelangsungan hidup dan berkembang.
2. Hak untuk mendapatkan nama.
3. Hak untuk mendapatkan kewarganegaraan.
4. Hak untuk mendapatkan identitas.
5. Hak untuk mendapatkan standar hidup yang layak.
6. Hak untuk mendapatkan standar kesehatan yang paling tinggi.
7. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam konflik bersenjata.
8. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami konflik hukum.
9. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi sebagai pekerja anak.
10. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi dalam penyalahgunaan obat-obatan.
11. Hak untuk mendapatkan perlindungan hukum jika mengalami eksploitasi seksual dan penyalahgunaan seksual.
12. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dari penculikan, penjualan dan perdagangan anak-anak.
13. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus jika mengalami eksploitasi sebagai anggota kelompok minoritas atau masyarakat adat.
14. Hak untuk hidup dengan orang tua.
15. Hak untuk tetap berhubungan dengan orang tua bila dipisahkan dengan salah satu orang tua.
16. Hak untuk mendapatkan pelatihan ketrampilan.
17. Hak untuk berekreasi.
18. Hak untuk bermain.
19. Hak untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seni dan budaya.
20. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus dalam situasi yang genting.
21. Hak untuk mendapatkan perlindungan khusus sebagai pengungsi.
Hak untuk bebas beragama.
22. Hak untuk bebas berserikat.
23. Hak untuk bebas berkumpul secara damai.
24. Hak untuk mendapatkan informasi dari berbagai sumber.
25. Hak untuk mendapatkan perlindungan pribadi.
26. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari siksaan.
27. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari perlakuan kejam, hukuman dan perlakuan tidak manusiawi.
28. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari penangkapan yang sewenang-wenang.
29. Hak untuk mendapatkan perlindungan dari perampasan kebebasan.
30. Hak untuk mendapatkan pendidikan dasar secara cuma-cuma.


Jadi, dari 31 Hak Anak tadi, kamu bisa mulai lagi membuat cerita anak yang lebih bagus, fokus dan sarat pesan moral. Ok?!"

Andi manggut-manggut kayak ayam matukin beras dan dalam hati berjanji akan membuat cerita bagi anak yang lebih bagus dan bermakna.