Rabu, 04 Desember 2013

Irman Gusman: Pejuang Daerah yang Menjadi Tokoh Nasional

Hari minggu pagi, Anto duduk di teras rumahnya sambil membaca berita-berita nasional yang terpampang di layar monitor laptopnya. Tangan kanannya mengambil gelas di meja dan mengarahkannya ke mulutnya.

“Assalamu’alaikum....” tiba-tiba terdengar teriakan salam yang cukup keras dan mengagetkan Anto.

“Astagfirullah...” teriak Anto sambil bersamaan memuncratkan air minum yang ada di dalam mulutnya ke arah asal suara tadi.

“Bhuaaaaa....” orang yang mengagetkan Anto itu spontan berteriak sambil mengibaskan bajunya yang basah terkena semprotan air minum dari mulut Anto.

Saat keduanya saling berpandangan, secara bersamaan mereka pun berteriak, “Kaaaaaaaammmmu....!!”

“HOOOOOOIIIII....!!” tiba-tiba ada teriakan yang lebih keras dari teriakan Anto dan tamunya.

“Apaan sih kalian ini. Pagi-pagi udah pada teriak-teriak aja. Berisik tahu!” semprot mbak Ana, kakak Anto.

“Yeee.... mbak Ana juga ikutan teriak barusan,” protes Anto.

“Iya... tapi itukan gara-gara kalian. Udah jangan pada berisik. Malu ama tetangga,” kata Mbak Ana memperingatkan Anto dan tamunya sambil masuk kembali ke dalam rumah.

Setelah mbak Ana masuk, Anto kembali teringat pada tamunya dan memperhatikan wajah tamunya baik-baik.

“A... Andi...?” tanya Anto seraya tak percaya.

“He eh. Aku Andi, To,” jawab tamu tadi sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.

Anto pun menyambut uluran tangan sang tamu, yang ternyata adalah sahabat lamanya. “Wah, udah sukses kamu, ya? Udah berapa lama kita tidak bertemu?” tanya Anto.

“Ya... sekitar tiga tahun,” jawab Andi. “Eh... pagi-pagi begini, kamu lagi ngapain? Udah sukses juga nih. Biasanya baca koran, sekarang malah buka laptop,” sambung Andi bernada meledek.

“Ah biasa aja. Laptop ini hasil honor nulis di beberapa majalah,” jawab Anto sambil melanjutkan, “Ini aku sedang mencari sosok negarawan yang akan kujadikan sebagai tokoh utama dalam naskahku berikutnya.

“Wah.... mau bikin buku apalagi nih?” tanya Andi sambil duduk di sebelah Anto.

“Aku mau bikin buku tentang seorang negarawan yang berasal dari daerah dan memiliki komitmen kuat untuk memajukan pembangunan di daerah, tidak hanya daerah asal tokoh itu sendiri, melainkan juga daerah-daerah lain yang ada di Indonesia. Pokoknya, tokoh negawaran ini haruslah seorang tokoh nasional yang perduli akan perkembangan daerah-daerah di seluruh Indonesia,” jawab Anto sambil kembali memelototi layar monitor laptopnya.

“Wah... cocok banget tuh dengan Pak Irman Gusman,” ucap Andi.

“Siapa?” tanya Anto

“Itu Pak Irman Gusman, Ketua DPD RI yang sekarang,” jawab Andi sambil menambahkan,” Pak Irman itu kan seorang putra daerah yang sekarang menjadi Ketua Dewan Perwakilan Daerah. Dan sebagai seorang Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, beliau juga memiliki komitmen yang kuat untuk memajukan pembangunan daerah-daerah di  seluruh Indonesia”.
“Oh... gitu,” ucap Anto.

“Iya... bahkan beliau juga banyak menerima berbagai macam penghargaan, seperti Bintang Mahaputra Adipradana, Pemimpin Muda Berpengaruh, Pemimpin Muda Indonesia, dan bahkan mendapatkan pula penghargaan dari pemerintah Amerika Serikat sebagai Pemimpin Muda Potensial di Parlemen,” kata Andi menggebu-gebu.

“Oh... gitu,” lagi-lagi Anto berkata.

“Loh... koq gitu-gitu melulu? Apa masih kurang prestasi dan posisi Pak Irman Gusman untuk menjadi tokoh negarawan dan pejuang daerah yang akan kamu tulis?” tanya Andi.
“Bukan kurang, tapi aku juga harus mengetahui pandangan-pandangan beliau mengenai pembangunan daerah-daerah tertinggal di Indonesia,” kata Anto mengungkapkan alasannya.

“Oh... kalau soal itu, kamu nggak perlu khawatir. Kebetulan beberapa waktu lalu, aku sendiri pernah mendengarkan kata-kata beliau mengenai pertumbuhan ekonomi dan pembangunan daerah,” kata Andi.

Setelah menarik napas sesaat, Andi kemudian melanjutkan, “Menurut beliau, saat ini tercatat hampir 60 persen dari 183 kabupaten daerah tertinggal terdapat di kawasan timur Indonesia. Oleh karena itu, Pak Irman Gusman berharap agar program pembangunan dan pemberdayaan ekonomi daerah harus didukung dengan percepatan, perluasan, dan pemerataan pembangunan infrastruktur di seluruh daerah, tentunya dengan memberikan perhatian khusus terhadap kawasan timur Indonesia”.

“Pak Irman juga berpendapat bahwa kita harus mengubah paradigma dan pola pikir dengan menjadikan daerah sebagai titik sentral dalam pembangunan nasional,” kata Andi.

“Lalu, apa solusi yang ditawarkan oleh Pak Irman Gusman?” tanya Anto pada Andi.

Setelah terdiam sejenak, seolah-olah sedang mengingat-ingat sesuatu, Andi pun menjawab pertanyaan Anto. “Kalau tidak salah, Beliau pernah menyampaikan bahwa untuk meningkatkan daya saing daerah, ada sejumlah  hal yang perlu diperhatikan sejalan dengan upaya memperbaiki dan meningkatkan kualitas daya saing itu, antara lain menyangkut kualitas lembaga pemerintahan, infrastruktur, stabilitas makro ekonomi, kesehatan maupun pendidikan dasar.”

“Bahkan, beliau juga mengatakan bahwa daerah-daerah di Indonesia bukan hanya bersaing antar daerah, namun juga dengan daerah di luar negeri pada tingkat regional. Sebagai negara agraris, menurut Irman, Indonesia memiliki sumber daya alam yang besar dan mampu dijadikan tulang punggung perekonomian maupun peningkatan produksi nasional.,” jelas Andi.

“Wah... keren juga nih. Ngomong-ngomong, Pak Irman Gusman ini orang mana sih?” tanya Anto.

“Beliau merupakan putra Minangkabau. Tapi, beliau juga tokoh nasional yang berjuang untuk memajukan pembangunan daerah. Tidak hanya daerah kelahirannya, namun juga daerah-daerah lain di seluruh Indonesia,” jawab Andi mantap.

“Oke banget nih Pak Irman... Cocok untuk jadi tokoh utama dalam bukuku nanti, biar bisa jadi teladan bagi anak-anak dan generasi muda Indonesia,” ujar Anto sambil menambahkan sebuah pertanyaan, “Oh iya, koq kamu bisa tahu banget soal Pak Irman Gusman?”

Sambil tersenyum, Andi menjawab, “Kan aku sekarang udah jadi staf di kantor DPD RI. Jadi, aku tahu banyak tentang Pak Irman Gusman dan kiprahnya untuk bangsa Indonesia.”

“Wah... udah kerja koq nggak bilang-bilang. Ya udah, klo gitu aku minta traktirannya aja deh,” kata Anto sambil melirik tukang bubur ayam yang lewat di depan mereka.

Rabu, 29 September 2010

Berpikirlah Seperti Anak-Anak untuk Menjadi Penulis Cerita Anak

Andi tiba-tiba datang ke rumah Anto, sahabatnya, dengan wajah ditekuk hingga hidung, mata, dan mulutnya nggak kelihatan (hehehe… nggak ding, ini mah lebay banget).

Tanpa permisi apalagi mengucap salah, Andi langsung menghempaskan pantatnya (Nah, kalo ini beneran sesuatu yang menempel dibagian belakang tubuh Andi, ya) di kursi teras yang ada di rumah Anto.

Kebetulan, Anto hendak keluar untuk membeli permen bagi keponakannya. Begitu melihat Andi yang duduk di kursi teras dengan wajah ditekuk, Anto mengurungkan niatnya dan duduk di sebelah Andi.

"Ada apa, sih, Ndi. Datang nggak kasih kabar, tahu-tahu duduk di kursi orang sambil pasang tampang nyeremin, begitu?" tanya Anto dengan nada sabar.

"Ach! Dasar editor kacangan!" somber Andi yang diterjemahkan Anto sebagai jawaban dari pertanyaannya sekaligus permasalahan yang ingin disampaikan oleh sahabatnya itu.

"Loh… loh.. loh. Kenapa, sih? Pasti naskahmu ditolak lagi, ya?" tebak Anto dengan tepat.

"Hooh," jawab Andi lemas.

"Alasan editornya?" tanya Anto dengan hati-hati.

"Masa katanya naskahku lebih cocok untuk orang dewasa daripada anak-anak. Padahal, kan aku bikin naskah itu untuk konsumsi anak-anak," jawab Andi dengan sengitnya.

"Memangnya kamu menulis apa?" tanya Anto lagi tanpa banyak berkomentar.

"Aku menulis tentang Pengusaha Sukses di awal umurnya yang ke empat puluh tahun," jawab Andi dengan yakinnya.

"Apakah kau bawa naskahmu?" lagi-lagi Anto bertanya.

"Tanya mulu, sih? Bantuin 'napa?" protes Andi yang mendengar sahabatnya itu selalu bertanya tanpa memberikan solusi kepada permasalahannya.

"Makanya aku mau lihat naskahmu dulu. Bagaimana aku bisa membantumu kalau nggak jelas ujung pangkalnya. Masa aku harus membelamu tanpa tahu kamu itu benar atau bukan, kalau aku berbuat begitu, berarti aku bukan sahabatmu, tetapi hanya orang yang mendorongmu ke jurang kehancuran," kali ini kata-kata Anto menjadi sebuah kata jawaban.

Dengan malas, Andi mengambil naskah yang dikembalikan oleh editor dari sebuah penerbit dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Anto. Setelah membaca beberapa saat, Anto manggut-manggut sambil menggumam, "Hmmm… heeh… heeh".

"Apaan sih, heeh… heeh.. nggak jelas," sungut Andi.

"Justru sekarang baru jelas," jawab Anto sambil menambahkan, "Editor yang mengembalikan naskahmu ini bukanlah editor kacangan. Justru dia editor yang baik karena menolak naskahm".

"Loh…" belum sempat Andi melanjutkan protesnya, tangan Anto sudah terangkat ke atas sebagai isyarat agar Andi diam.

"Dari naskah yang kubaca ini, memang benar bahwa isinya tidak cocok sama sekali untuk anak-anak," kata Anto sambil memperhatikan ekspresi Andi.

Setelah beberapa saat menunggu dan Andi tidak memprotesnya lagi, Anto melanjutkan kata-katanya, "Kau menulis sesuatu dengan cara dan sudut pandangan orang dewasa. Hal ini akan menyulitkan anak-anak dalam membaca naskahmu nanti".

"Jadi, aku harus menulis bagaimana?" tanya Andi yang mulai mau menerima kesalahannya.

"Ingat nggak, kalau nonton film detektif. Para jagoannya selalu ngomong bahwa untuk menangkap penjahat, kita harus berpikir seperti penjahat?" ucap Anto.

"Lah, emang daku mau jadi detektif, apa? Aku kan mau jadi penulis cerita anak," lagi-lagi Andi protes tanpa mikir dulu.

"Aduh… makanya kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Jangan asal ngejeplak dong," Anto mulai kesal dengan sifat sahabatnya itu.

"Maksudnya, kalau kamu nulis untuk anak-anak, ya berpikirlah seperti anak-anak. Lebih jelasnya lagi, jangan nulis sesuatu berdasarkan pemikiran kamu sebagai orang dewasa. Buatlah cerita yang memuat sikap anak-anak dalam berperilaku, menyikapi sesuatu dan cara berpikir mereka sehingga apa yang kamu tulis itu bisa masuk dalam alam pikiran mereka," jelas Anto.

"Lah, Harry Potter aja juga kubilang termasuk novel dewasa koq," protes Andi nggak mau kalah.

"Harry Potter itu, kalau kamu baca dengan lebih teliti lagi, akan ketemu bahwa itu memang bacaan untuk anak-anak meski disukai juga oleh orang dewasa. Tokohnya anak-anak dan mereka terkadang berbuat kesalahan yang khas anak-anak dan butuh tokoh orang-orang dewasa untuk menjaga dan mengarahkan mereka.

Oleh karena itu, ada tokoh Dumbledore, para profesor di sekolah Hogwart dan ada pula orang tua Ron yang menjadi tempat bagi Harry Potter serta pamannya. Tapi, tetap saja si tokoh harus berpikir dan berprilaku seperti layaknya seorang anak-anak. Begitu! Paham?!" tanya Anto.

"Ooohhh… begitu, toh. Aku paham sekarang," jawab Andi sambil menambahkan, "Kalau begitu besok aku harus minta maaf sama editornya karena sudah berprasangka buruk dan menuduhnya sebagai editor kacangan".

"Bagus itu. Makanya jangan selalu mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain. Cobalah untuk selalu instropeksi diri dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Anto.

"Baik, pak profesor," kata Andi dan mereka berdua pun tertawa bersama.

Kamis, 29 Juli 2010

Royalti 20 persen

Sudah lama Andi tak bertemu dengan Anto, sahabat karibnya. Hari itu, tiba-tiba saja Andi berkunjung ke rumah Anto dan tanpa permisi langsung menghempaskan pantatnya ke kursi malas yang ada di depan rumah Anto. Dengan menghela nafas panjang, Andi hanya menoleh ke dalam rumah sahabatnya itu tanpa memanggilnya walaupun pintu rumah Anto terbuka.

Kebetulan saat itu, Anto sedang membawa setumpuk pakaian basah yang baru saja dicucinya. Saking banyaknya tumpukan pakaian itu, sampai-sampai ia tidak dapat melihat ke depan. Anto pun berjalan sambil mengira-ngira apakah ada halangan atau tidak di depannya. Karena konsentrasi penuh, Anto tidak mengetahiu kalau Andi sedari tadi duduk di kursi malas yang ada di sebelah pintu dan dengan cepat setelah melewaeti pintu rumahnya, Anto meletakkan tumpukan pakaian basah yang dibawanya itu dengan maksud untuk beristirahat dan memperhatikan hendak dijemur dimana pakaiannya itu.

Tiba-tiba…

"Wadaw!!!" teriak Andi yang kaget karena tiba-tiba dirinya kejatuhan pakaian basah.

"Wadaw juga!!!" Anto yang juga kaget spontan berteriak latah.

"Apa-apaan kau ini, Nto?!" semprot Andi yang seluruh tubuhnya jadi setengah basah (bukan setengah mati, ye!).

"Apa-apaan?! Kamu itu yang apa-apaan?! Sejak kapan kamu duduk disitu? Lagian datang-datang bukannya ngucap salam malah duduk diam di teras rumah orang. Kayak maling aja, tahu!!" semprot Anto tak mau kalah.

Baru bertemu, kedua sahabat itu langsung terlibat pertengkaran seru. Setelah saling mengeluarkan kekesalannya masing-masing, akhirnya kedua sahabat itu berdamai dan saling meminta maaf.

"Maaf sih boleh saja. Tapi, gimana dengan cucianku, nih?! Capek-capek aku nyucinya, sekarang jadi kotor lagi, deh," keluh Anto sambil melihat cucian basahnya yang berhamburan di lantai.

"Ya sudah. Kita bilas lagi aja," ajak Andi yang juga merasa bersalah.

Mereka berduapun segera memunguti cucian basah milik Anto dan membilasnya di kamar mandi.

"Eh, ada kabar apaan? Tumben kamu main ke sini?" tanya Anto pada Andi sambil mengguyur cuciannya dengan air bersih.

"Nggak ada apa-apa, kok," jawab Andi berbohong.

"Alaaaa… nggak usah bohong, deh. Aku tahu kalau mukamu kusut begitu, berarti kamu lagi ada masalah, Iya, kan?!" tanya Anto lagi.

"Hooh, nih. Sebenarnya aku lagi kesel banget," jawab Andi akhrinya.

"Kenapa?" tanya Anto.

"Kemaren, aku ke sebuah penerbit dan bernegosiasi soal royalti. Tapi ternyata mereka pelit banget. Akhirnya, aku pulang dan membatalkan naskahku yang akan diterbitkan mereka," kata Andi menceritakan kekesalannya.

"Hmmm… memang berapa royalti yang mereka tawarkan padamu?" tanya Anto yang ingin mengetahui lebih jelas duduk permasalahannya.

"7 persen," jawab Andi singkat.

"Loh, itukan angka yang wajar. Kenapa kamu tolak?" tanya Anto heran.

"Aku maunya royalti 20 persen. Kalau cuman 7 persen, aku nggak bisa cepet kaya, dong!!" sergah Andi yang merasa Anto tidak mendukungnya.

Mendengar jawaban sahabatnya, Anto tertawa sambil memberikan celana jeans yang baru saja diguyurnya dengan air bersih pada Andi.

"Andi… Andi. 7 persen itu adalah angka royalti yang wajar di setiap penerbit. Kalau kamu maunya 20 persen, nggak akan ada penerbit yang mau nerbitin naskah kamu. Lagian, siapa kamu minta royalti setinggi langit begitu," kata Anto menertawakan sahabatnya yang dianggapnya keterlaluan dalam menentukan tarif royaltinya.

Sambil memeras celana jeans yang baru saja diterimanya dari Anto, Andi bertanya balik, "Memang kenapa kalau aku mau 20 persen? Sah-sah saja, kan, permintaanku?"

"Tentu saja sah. Tapi, tidak akan ada yang bersedia menerbitkan naskahmu dan kamu hanya akan berangan-angan mendapatkan royalti 20 persen tanpa pernah merasakan royalti tersebut," jawab Anto sambil menyerahkan sebuah kaos oblong pada Andi.

"Umumnya, penerbit akan menawarkan royalti kepada penulis sekitar 6 sampai 12 persen, meskipun ada juga yang menawarkan hingga 20 persen.. "

"Nah, tuh, kan. Ada yang nawarin 20 persen. Kenapa kamu bilang aku nggak boleh dan nggak mungkin mendapat royalti 20 persen?!" serobot Andi sebelum Anto menyelesaikan penjelasannya.

"Dengar dulu kata-kataku," ucap Anto yang sedikit kesal pada ketidaksabaran Andi.

"Untuk menentukan besaran royalti itu, penerbit akan melihat dulu kapasitas penulis, kelayakan naskah dan juga perkiraan penjualannya dan setiap penulis bisa mendapatkan royalti yang berbeda-beda. Tapi, ada juga yang tidak ingin dibayar secara royalti tapi ingin dibayar flat fee," tambah Anto.

"Apa itu flat fee?" tanya Andi sambil menerima kaos dalam dari tangan Anto setelah selesai memeras kaos oblong sahabatnya itu.

"Flat fe itu adalah pembayaran dengan cara beli putus. Di sini, angka yang ditawarkan sesuai dengan hasil tulisannya, penulisnya siapa, dan perkiraan penjualannya. Untuk penulis baru, jelas tidak sama jumlah yang didapatkannya dengan penulis yang telah mempunyai banyak karya," jawab Anto.

"Emang berapa angkanya?" tanya Andi.

"Ya… sekitar 3 sampai 30 jutaan lah," jawab Anto sambil menyerahkan celana dalamnya yang baru saja diguyur air pada Andi.

"Oh.. begitu. Wadawww apaan nih?!" jerit Andi sambil melemparkan celana dalam yang diterimanya.

"Loh, kok dibuang, sih?!" tanya Anto sewot sambil menambahkan, "Itukan celana dalamku. Emang kamu nggak pernah pegang celana dalam apa?"

"Megang sih pernah. Tapi punyaku sendiri. Kalau punya orang lain mah, cuci dan bilas aja sendiri," kata Andi sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Anto sendiri yang memandang celana dalamnya yang nyemplung ke WC akibat dilemparkan Andi tadi.

Jumat, 13 November 2009

Whatever hatred saves the number. Sebuah Kalimat Sakti

Rupanya, Andi baru saja mengetahui bahwa sekarang internet sedang booming dan menjadi pilihan siapapun untuk menerbitkan tulisannya. Baik itu melalui blog, komentar atau sekedar mengisi guess blog orang lain.

Dan setelah bercerita panjang lebar mengenai orang-orang yang dibayar untuk menulis di internet, Anto yang sedari tadi mendengarkan perkataan Andi, tiba-tiba saja menyodorkan laptopnya dan meminta Andi untuk membaca tulisan yang tertera di layar laptopnya.

"Hah! program apaan tuh Sponzai?" tanya Andi penasaran.

"Itu semacam program Paid Review yang akan membayar kita setelah menulis di blog kita. Tapi, yang ini kayaknya kita cukup copy paste artikel orang yang membayar kita deh. Dulu aku disuruh posting dengan kata Whatever hatred saves the number. " jawab Anto sambil mengalihkan kembali layar monitor ke arahnya.

"Koq, kamu bisa tahu program beginian sih?" kejar Andi dengan pertanyaan.

"Kan, sudah sekitar 6 bulan ini aku ikut program Paid Review begini. Hasilnya, komputer baru di meja itu minggu lalu baru saja aku beli dari hasil menulis di internet," jawab Anto sambil tersenyum melihat sahabatnya itu ternganga tak percaya.

Kamis, 05 November 2009

Mengirim Naskah Ke Penerbit

Sambil berlari-lari menghindari genangan air akibat hujan deras semalam, Andi berusaha secepat mungkin tiba di rumah sahabatnya, Anto.

Akhirnya, dengan terengah-engah sampai juga Andi di teras rumah Anto (jadi belum sampai masuk rumah, ya. Hal ini perlu diperjelas karena terkadang pembaca suka salah menafsirkan tulisan..hehehe just kidding).

"Assalamualaikum," teriak Andi mengucapkan salam.

"Waalaikumsalam... ," setelah beberapa lama hening akhirnya terdengar jawaban dari dalam rumah.

Begitu pintu rumah dibuka, tampaklah Anto dengan tubuh yang masih basah dan penuh dengan busa sabun. Andi yang melihatnya langsung terlompat kaget (lompatnya dikit doang, kok).

"Astagfirullah!!" teriak Andi sambil melompat (penjelasan melompat ada di alinea atas, ya).

"Hei, emang kenapa kaget gitu. Orang lagi mandi, kamunya malah datang. Ntar kalo nggak dibuka katanya kelamaan. Klo dibuka sekarang.. ya begini jadinya," kata Anto sekenanya.

"Ya... sudahlah. Kamu terusin aja mandinya. Aku tunggu di ruang tamu," kata Andi sambil nyelonong masuk dan langsung duduk di kursi, sedangkan Anto kembali melanjutkan mandinya yang tertunda.

Tak berapa lama kemudian, Anto keluar dari kamarnya dengan dandanan yang rapi jali dan badan yang harum mewangi.

"Eits!! Wangi amat," mau nglamar kerja dimana?" tanya Andi.

"Bukan nglamar kerja, tapi mau nglamar penerbit biar naskahku diterbitkan," jawab Anto.

"Oh gitu toh! Emang gimana caranya nglamar penerbit?" tanya Andi lagi.

Mendengar pertanyaan Andi, Anto langsung tahu bahwa sahabatnya itu tidak bisa dipuaskan dengan jawaban-jawaban yang singkat. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjelaskan cara melamar penerbit agar mau menerbitkan naskahnya dengan sejelas-jelasnya.

"Begini, yang pertama tentunya kita harus memastikan dahulu bahwa penerbit yang akan kita lamar itu membutuhkan naskah seperti yang sedang kita tulis," kata Anto.

"Bagaimana caranya kita tahu bahwa penerbit itu membutuhkan naskah sesuai yang kita tulis?" sambar Andi dengan pertanyaan.

"Ya... kita kan bisa menelepon penerbit itu lalu tanya sana tanya sini yang berhubungan dengan naskah dan penerbit itu sendiri," jawab Anto.

"Ih.. SKSD tuh!" celetuk Andi.

"Apaan tuh SKSD?" tanya Anto.

"Sok Kenal Sok Dekat! Lom kenal siapa-siapa sudah main tanya sana tanya sini. Apa bukan SKSD tuh!" jawab Andi.

"Ya.... kan kalo lom kenal, pada saat telpon itu kita bisa sekalian kenalan. Kan ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Kalo nggak kenalan trus tanya sana tanya sini, itu namanya nggak tahu etika," kata Anto sambil menambahkan, "mau dilanjutin nggak penjelasannya?"

"Mau... mau," kata Andi.

"Nah, itu tadi yang pertama. Kita mesti memastikan bahwa penerbit yang kita hubungi membutuhkan naskah yang sedang kita tulis.

Kemudian yang kedua, print-lah karya kita secara rapi dengan sampul depan dan belakang. Jangan lupa sertakan sinopsisnya jika karya kita itu sebuah novel. Jika karya kita berupa seri buku anak-anak, maka sertakan pula konsep produknya yang mengandung unsur-unsur kelebihan naskah tersebut dari buku lain. Untuk ini, kita bisa menampilkan visualisasinya ataupun desain covernya dan jangan lupa CV lengkap kita.

Yang ketiga, tulis besar-besar di pojok amplop jenis naskah yang kita kirim, misalkan Novel Misteri. Tulis nama editor yang pernah ngobrol dengan kita di telepon. Oh ya, waktu ngirim naskah pergunakan jasa pengiriman kilat khusus semacam TIKI, kemudian simpan resinya sebagai tanda bukti.

Kemudian yang keempat, setelah seminggu dikirim, coba telepon ke editor yang pernah berkomunikasi dengan kita, tanyakan apakah naskah kita telah tiba dengan selamat," jelas Anto panjang lebar.

"Sudah pakai jasa pengiriman kilat khusus, masa nggak sampai sih?" tanya Andi memotong penjelasan Anto.

"Ya.. kemungkinan itu pasti ada. Makanya resinya disimpan yang rapi supaya dapat dipergunakan sebagai bukti apabila menanyakan naskah kita yang nggak sampai ke alamat tujuan.

Sudah sekarang kita lanjut ke poin nomer lima. Setelah naskah kita sampai dengan selamat, tunggu selama satu hingga tiga bulan. Jika lebih dari tiga bulan tidak ada kabar berita, sebaiknya ditarik kembali dan memulai proses dari awal. Tapi kalo ada jawaban dari penerbitnya, maka naskah kita layak terbit dan itu berarti peluang untuk terbit semakin besar.

Tapi, proses ini baru sampai di editor akuisisi, nanti naskah kita akan melewati proses rapat-rapat lanjutan dan pada rapat lanjutan ini bagian marketing akan mencari info di pasar, penanggung jawab naskah tersebut akan mencari referensi tambahan dan copy edtornya akan membaca berulang kali kalau naskah tersebut jadi terbit. Jadi, siap-siap untuk masuk jadwal edit. Selain itu, editor development juga siap-siap mencari referensi visual dan desain serta layoutnya."

"Wah, ternyata perjalanan sebuah naskah itu ribet juga, ya," kata Andi sambil merenung.

"Udah nggak usah banyak merenung, pokoknya sekarang Stop Dreaming Start Action," kata Anto sambil melanjutkan, "Yang keenam, jika naskah kita kemudian dinyatakan akan diterbitkan, segera minta surat perjanjian. Baca satu per satu pasal yang ada dalam surat perjanjian tersebut. Jangan sampai ada yang terlewat. Kadang penulis pemula yang naskahnya baru pertama kali akan diterbitkan sering melupakan hal ini. Dia tidak perduli isi surat perjanjian tersebut karena yang terbayang di benaknya adalah naskahnya yang siap menjadi buku.

Jadi, di poin keenam ini, kita harus jeli memperhatikan apa judulnya sudah sesuai, berapa nilai kontraknya, berapa royaltinya, bagaimana cara pembayarannya, berapa lama kira-kira naskah kita akan diproses. Apakah tiga bulan atau satu tahun. Pokoknya kalo ada yang aneh, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya.

Lantas, bagaimana kalo setelah masa perjanjian, buku kita belum terbit juga? Nah, ini masuk ke dalam poin selanjutnya atau yang ketujuh. Apabila setelah masa perjanjian terlewati, naskah kita belum terbit juga, segera tanyakan kepada editor yang menjadi penanggungjawab naskah tersebut. Jangan menanyakan hal ini kepada bagian keuangan, OB atau resepsionisnya, pasti jawabannya akan sukses membingungkan kita...hehehe...," kata Anto mencoba melucu. Tapi melihat Andi tidak tersenyum apalagi tertawa, Anto menyadari bahwa Andi sedang mendengarkan penjelasannya secara cermat.

Oleh karena itu, Anto kembali melanjutkan penjelasannya, "Kebalikan dari poin tujuh adalah poin delapan, yaitu bagaimana jika tiba-tiba sudah terbit dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Malah dikasih tahu orang lain. Pasti kita surpraise dan bangga dunks. Tapi, menyikapi hal ini bukan surparise atau kebanggaan yang seharusnya kita tonjolkan melainkan segeralah telepon untuk mendapat penjelasan dari editor atau pihak penerbitnya.

Tindakan ini sah-sah saja bahkan harus kita lakukan. Apabila dasar hukumnya kuat, kita bahkan bisa meminta agar buku yang telah diedarkan ditarik kembali."

"Lho, kok poin ketujuh dan kedelapan bisa terjadi. Bukankah lembaga penerbitan itu lembaga yang telah mempunyai prosedur kerja yang baku dan tidak sembarangan saja cara kerjanya?" tanya Andi yang tampak kebingungan.

Mendengar pertanyaan Andi, Anto tersenyum dan memuji ketelitian sahabatnya itu. "Kenapa bisa terjadi? Ya, bisa saja editor kan juga manusia. Pada intinya, kejadian pada poin ketujuh dan kedelapan dapat terjadi dikarenakan banyak faktor, diantaranya adanya rotasi jabatan pada perusahaan tersebut, atau ada orang baru yang menangani proyek buku kita, atau bisa jadi lagi pihak penerbit sudah berusaha menghubungi kita, tapi kitanya lagi nggak berada di bumi. Hehehe..lebay banget, ya?

Pokoknya, kalau alasan yang pertama, yaitu rotasi jabatan yang terjadi, kita bisa mengatakan bahwa ini kesalahan dari atasannya, karena atasannya wajib meminta laporan sedetil mungkin kepada editor yang pernah ada di bawahnya. Jadi semua proses naskah yang akan terbit, sedang dikerjakan, sedang dibaca atau masih antri untuk dibaca semua harus dimiliki oleh atasannya sehingga poin ke tujuh dan kedelapan tidak harus terjadi," urai Anto sambil menambahkan, "Ya sudah. Aku mau berangkat dulu, ntar keburu siang dan editor yang menungguku bisa-bisa kabur entah kemana."

"Okelah kalo begitu. Aku juga mau ikut kamu ke penerbit," kata Andi sambil berdiri dari duduknya.

"Lho, ngapain?" Anto bertanya dengan heran.

"Aku kan juga mau memasukkan naskahku ke penerbit," jawab Andi singkat.

"Memang...," tanya Anto yang keburu dipotong oleh Andi.

"Memang semua yang barusan kamu katakan sudah kulakukan. Pokoknya aku yakin naskahku kali ini akan diterbitkan. Jadi, yuk kita berangkat," potong Andi sambil menunjukkan amplop besar yang sedari tadi ditentengnya.

Akhirnya kedua sahabat itu berangkat bersama dengan membawa mimpi-mimpi indah tentang buku mereka yang meledak di pasaran menjadi buku BEST SELLER!!

Jumat, 09 Oktober 2009

Mengatasi Kejenuhan Menulis Cerita Anak

Andi dan Anto kembali bertemu setelah sekian lama tak bertatap muka. Di hari raya Idul Fitri nan suci ini kedua sahabat itu berpelukan dan saling bermaaf-maafan,
"Minal Aidin Walfaidzin. Mohon maaf lahir batin," kata Anto sambil menjabattangan dan memeluk sahabatnya itu.
"Sama-sama," jawab Andi membalas pelukan sahabatnya itu.
"Bagaimana kegiatan menulismu, Masih berlanjut?" tanya Anto.
"Alhamdulillah masih, Hanya saja di bulan ramadhan kemaren aku sempat mengalami kebosanan dan kejenuhan dalam menulis, sampai-sampai aku mau muntah kalau melihat buku, pulpen atau komputer," jawab Andi.
"Wah!! Lebay bener kamu, Ndi. Masa sampai segitunya. Lagian kita pernah membahas soal kejenuhan dan kebosanan dalam menulis, deh," kata Anto sambil melanjutkan, "Kalau kamu mengalami kebosanan dalam menulis, kamu bisa rehat sebentar dengan bermain game, jalan-jalan ke mall atau aktivitas lain yang bisa bikin kamu refresh lagi. Tapi ingat, jangan terlalu lama refreshnya, ntar malah nggak mau nulis lagi jadinya."
Andi yang mendengar penjelasan sahabatnya itu bukannya mengangguk malah menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju pada kata-kata Anto.
"Aku sudah melakukan itu semua. Malah aku sampai pulang kampung untuk rehat sejenak dari menulis. Tapi, tetap saja aku merasa bosan dan jenuh dengan menulis," kata Andi.
"Ya... kalau pulang kampung, itu sih bukan untuk rehat dari menulis, tapi memang ritual kamu setahun sekali harus pulang kampung," tukas Anto dan kedua sahabat itupun tertawa bersama. Begitu senangnya mereka berdua dengan pertemuan ini hingga tawa merekapun sangat lepas dan tanpa beban.
Andi baru menyadari bahwa tiba-tiba dirinya ingin berbagi cerita saat di kampung kepada Anto. "Nto, aku ingin cerita pengalamanku selama lebaran di kampung>"
"Boleh. Aku juga ingin mendengar kegiatanmu selama di sana," jawab Anto.
"Tapi kamu masih punya laptop,kan di rumah?" tanya Andi.
"Masih, dong. Emang kenapa?" Anto balik bertanya dengan kening berkerut.
"Aku mau pinjem dulu, sebab aku mau menceritakan pengalamanku di kampung dengan menulis bukan dengan bicara," jawab Andi.
Anto yang mendengar jawaban Andi segera menyadari bahwa sahabatnya itu sudah mulai punya semanga untuk menulis alias bosan dan jenuhnya sudah hilang dan Antopun tertawa yang juga disambut dengan tawa lepas Andi.
Kedua sahabat itupun berjalan menuju rumah Anto dengan berangkulan dan meninggalkan tawa gembira di sepanjang perjalanan mereka.

Kamis, 19 Maret 2009

Mencari Bahan Tulisan untuk Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009

And i dan Anto sudah lamaaaaa.. sekali tidak bersua. Kali ini mereka berjumpa dalam sebuah kesempatan yang digelar oleh sebuah partai yang sedang mengadakan kampanye. Namun, mereka berdua berada pada partai yang berbeda.

"Wah, sudah lama sekali kita tidak bersua, Nto," kata Andi menyapa terlebih dahulu.

Sambil menjabat tangan sahabatnya itu, Anto menjawab, "Betul Ndi, sudah hampir 6 bulan, kali, ya?"

"Apa kamu ikut kampanye partai ini karena kamu simpatisannya?" tanya Andi.

"Ssttt... bukan. Aku ikut kampanye ini bukan karena menjadi simpatisannya. Aku ikut karena ingin buat tulisan untuk kontes SEO," jawab Anto.

"Kontes Es E O? Emang enak Es itu?" Andi kembali bertanya sambil menjilat sudut bibirnya sendiri.

"Uuuuh, kamu tuh emang pikirannya makanan melulu," kata Anto sambil melanjutkan, "SEO itu Search Engine Optimisation. Aku ingin buat tulisan tentang Kontes SEO Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 untuk dipublish di webku."

"Oh, itu tah. Kirain makanan baru," Andi berkata sambil terus menjilat sudut bibirnya sendiri.

"Aku lagi butuh duit nih. Kebetulan hadiah Kontes SEO itu adalah duit sebesar 5 juta rupiah. Udah ada beberapa web yang mengulas tentang kampanye itu. Seperti web yang mengulas tentang kegiatan Kampanye Pemilu dan artikel tentang Kampanye Damai Pemilu Indonesia," jelas Anto penjang lebar.

"Terus kamu posting tulisan kamu dimana?" tanya Andi lagi.

"Aku baru beli domain baru dengan nama yang tidak sesuai dengan keyword kontes tersebut, tapi aku yakin untuk keyword Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009, aku dapat bersaing dengan yang lain asal tulisanku lebih baik dan berbobot dari mereka.

Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba serombongan sepeda motor yang melakukan konvoi mendekat ke arah mereka membuat suasana menjadi hiruk pikuk dengan suara knalpotnya yang meraung-raung.

Karena makin tidak kondusif, akhirnya Andi dan Anto memutuskan untuk pulang saja. Toh, Anto sudah mendapat sekilas pandang mengenai suasana Kampanye Damai yang sebenarnya tidak damai-damai amat sih.

Rabu, 21 Januari 2009

Sekedar Nulis

Sudah lama rasanya Anto dan Andi tidak bertemu. Ini dikarenakan mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing.

Meski mereka berdua menyukai bidang penulisan, tapi ternyata urusan dapur tidak bisa dikesampingkan.

Oleh karena itulah, mereka memilih mengisi dapur mereka dahulu baru kemudian menekuni kembali dunia yang mereka cinta, yaitu Menulis.

Dan sampai hari inipun mereka masih belum bertemu.

Selasa, 04 November 2008

MTM (2)

Melanjutkan percakapan mereka pada hari sebelumnya, Anto memberikan beberapa poin tentang pembelajaran menulis mereka selama ini.

"Selanjutnya, yang mesti kamu perhatikan dalam menulis cerita anak-anak adalah pemilihan setting atau lokasi," kata Anto mengawali pembicaraan mereka.

"Ya, itu aku masih sedikit mengingatnya. Pemilihan setting atau lokasi itu sendiri mesti kita sesuaikan dengan tema cerita, kan?" tanya Andi menegaskan.

"Ya.. iyalah. Dan untuk itu, kamu juga mesti memahami deskripsi dalam cerpen serta jangan lupakan Pesan moral dalam cerita untuk anak-anak itu yang harus kita sisipkan, sehingga cerita yang kita buat lebih sarat ilmu dan pendidikan bagi generasi muda kita, bukan hanya cerita yang bersenang-senang saja," tandas Anto.

Minggu, 02 November 2008

MTM (Mengulang Tentang Menulis)

Sudah sangat lama sekali Anto dan Andi tidak bersua. Saat berjumpa, hal pertama yang ditanyakan oleh Andi adalah mengenai MENULIS!

"Waduh, mbok yao tanya yang lain dulu. Tanya kabar, kek, apa kek gitu. Ini kok langsung tanya soal menulis. Emangnya nggak ada pertanyaan lain apa?" protes Anto sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Ya... aku sih udah tahu kabar kamu baik-baik saja," jawab Andi pendek.

"Lho, tahu dari mana?" Anto kali ini kebingungan dan berpikir selama tidak bertemu, mungkin Andi telah belajar ilmu meramal.

"Fakta! Bahwa kamu berdiri di sini dan tidak kurang suatu apa, hal itu menandakan bahwa kamu dalam keadaan sehat wallafiat kan?!" jawab Andi lugas yang membuat Anto tersenyum sendiri.

"Trus apa yang mau kamu tanyakan soal menulis, bukankah sudah banyak kamu mencatat apa yang sudah kita bicarakan selama ini?" tanya Anto lagi.

"Iya, tapi ada beberapa lembar catatan awal gua menghilang," kata Andi memberi alasan.

"Makanya kalau punya catatan penting itu disimpan yang rapi, biar nggak ilang," sungut Anto.

"Yee.. aku sih menyimpan dengan baik, cuman kemaren orangtuaku kekurangan kertas buat bungkus barang dagangannya, dan tanpa tanya kepadaku, dia langsung mengambil tumpukan kertas milikku untuk dijadikan bungkus," jawab Andi dengan nada kesal.

Anto yang mendengar jawaban Andi langsung terpingkal-pingkal. "Oke deh. Aku kasih rambu-rambu aja, ya".

"Rambu Lalu Lintas?" tanya Andi polos.

"Bukan rambu itu, tapi sekedar kata kunci untuk mengingatkan kamu tentang latihan menulis kita terdahulu," tukas Anto sambil melanjutkan, "Yang pertama, seingatku kita membahas tentang Menemukan Ide, kemudian Dongeng 'Cerita Tanpa Batas', lalu Menulis Ulang, Menerjemahkan, Mengadaptasi dan Karya Sendiri. Yang lainnya nanti aku ingat-ingat lagi, sekarang cukup itu dulu, ya".

"Huuu...dasar pelit!" kata Andi tapi dengan rasa terima kasih karena dibantu mengingat latihan-latihan awal mereka menulis dulu.

Kamis, 24 Juli 2008

Alternatif Pencarian Ide 2

Anto dan Andi tengah jalan-jalan di alun-alun saat mata Andi tertuju pada pedagang koran dan majalah yang mangkal di pinggir jalan.

"Nto, kita ke pedagang koran itu, yuk?" ajak Andi sambil berjalan mendahului. Sedangkan Anto hanya mengangguk menjawab ajakan sahabatnya itu.

Sesampainya di pedagang tersebut, Andi melihat-lihat sejenak tumpukan koran dan majalah. Kemudian, tangannya mengambil majalah anak-anak terbitan ibu kota yang sudah terkenal dan membelinya.

Kedua sahabat itu kemudian melanjutkan jalan-jalan di alun-alun untuk menikmati suasana sore menjelang malam. Anto sempat membeli kacang rebus untuk menemani mereka ngobrol sambil duduk di bangku yang tersedia di alun-alun.

Sementara itu, Andi membolak-balik dan membaca beberapa cerita anak yang ada dalam majalah itu.

"Eh, To, kenapa aku baca dari tadi nggak ada pesan moral dalam cerita anak ini, ya?" tiba-tiba Andi membuka pembicaraan.

"Maksud kamu, pesan moral yang kayak apa?" jawab Anto balas bertanya sambil mengambil majalah anak-anak itu dari tangan Andi.

"Biasanya, kan, dalam sebuah cerita harus ada pesan moral seperti jangan membolos, jangan mencuri jambu tetangga, jangan menyontek dan sebagainya," jawab Andi.

"Oh... itu sih udah ketinggalan jaman, Ndi. Sekarang kita sebagai penulis harus mempunyai daya kreatifitas tinggi. Jangan hanya mengekor format yang sudah ada sejak jaman Unyil dan Pak Raden," kata Anto sambil melanjutkan, "Jaman sekarang sudah berubah. Begitu juga dengan psikologi anak-anak."

Andi yang mendengar kata-kata Anto hanya mencibirkan mulutnya. "Huuuu sok tahu kamu."

"Bukannya sok tahu, tapi sebagai penulis, kita harus dapat menciptakan trend baru bagi pembaca kita. Cobalah menulis apa saja yang pernah kamu alami dengan gaya bertutur yang lebih ringan. Syukur kalau kamu bisa membuat cerita yang kocak. Nggak ada pesan moral juga nggak pa-pa, malah buat aja cerita yang mengkritik orang dewasa. Jangan hanya menasehati dan menggurui melulu," kata Anto.

"Wah, benar-benar sok tahu kamu. Aku saja baru pertama kali ini membaca cerita anak model begini, kok kamu sudah bisa bicara panjang lebar tentang format cerita anak yang baru," kata Andi meragukan kata-kata Anto.

Sambil tersenyum Anto kembali menyerahkan majalah anak-anak itu pada Andi, "Nah, baca dulu siapa penulis cerita yang kamu baca itu baru kamu tahu apa yang aku katakan benar atau tidak," kata Anto sambil menunjuk nama penulis yang tertera di cerita tersebut.

Dengan kaget Andi membaca nama penulisnya: A N T O.

Rabu, 02 Juli 2008

Alternatif Pencarian Ide untuk Cerita

Lebih dari satu bulan Andi dan Anto tak bersua. Sebagai seorang sahabat, Andi sangat kangen pada temannya itu sehingga hari ini dia pergi untuk mengunjungi sahabat karibnya tersebut.

Seperti biasanya juga, selain kangen, Andi juga membawa misi untuk mengorek ilmu Anto mengenai tulis menulis.

Sesampainya di rumah Anto, kebetulan Anto sedang memandikan Si Bagong, burung kesayangannya. "Woi, dah rubah haluan jadi pedagang burung, nih?" kata Andi menyapa sahabatnya.

Karena kaget, Anto yang lagi nyemprot si Bagong memutar tubuhnya ke belakang. Tapi karena memegang selang, maka arah semprotan selang yang tadinya ke tubuh si Bagong, jadi berubah menyemprot tubuh Andi.

Terang aja Andi mencak-mencak mengeluarkan ginkang (ilmu ringan tubuh)-nya. Tapi dasar emang nggak punya ilmu meringankan tubuh, maka sebagian bajunya sudah kena semprot air duluan.

"Sory, Ndi... sorry. Habis kamu ngageting aja, sih," kata Anto sembari meminta maaf dan mematikan aliran air.

"Tumben, ada apa nih?" tanya Anto sambil memberikan handuk untuk mengeringkan tubuh Andi.

Andi menyambut handuk itu sambil tetap manyun. "Tadinya aku kangen sama kamu, tapi sekarang aku jadi males. Soalnya, bukan di kasih air minum malah disuruh mandi," jawab Andi.

"Aku kan sudah minta maaf. Ayo duduk sini," kata Anto mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah.

Setelah duduk dan meminum teh hangat, Andi kemudian menceritakan masalah pokoknya selain rasa kangen terhadap Anto.

Andi merasa sudah mulai bisa menulis, terbukti dengan beberapa hasil karyanya dan pernah memenangkan sebuah lomba penulisan cerita pendek di sebuah majalah ibu kota.

Namun, saat ini, Andi mengalami kesulitan mencari ide-ide segar.

Setelah mendengar, Anto tiba-tiba berkata, "Aku mau pergi."

Andi yang baru saja meminum teh hangatnya langsung menyemburkannya karena kaget. "Bruah!"

Ganti Anto sekarang yang harus jumpalitan menghindari semburan air teh hangat dari mulut Andi. "Gila, loe, ya" teriak Anto.

"Kamu yang gila," balas Andi nggak mau kalah. "Masa' aku minta bantuan, kamu malah mau pergi."

"Lha, kan itu tadi sudah aku bantu," balas Anto sengit.

"Bantu apaan?" tanya Andi nggak ngerti.

"Aku mau pergi. Itu kalimat bantuan dari aku. Tinggal kamu sendiri yang harus bisa ngembangin," kata Anto.

"Aku masih belum ngerti," kata Andi.

Terpaksa Anto menjelaskan mengenai beberapa metode alternatif mencari ide. "Dalam mencari ide, kita tidak harus menyendiri atau pergi ke tempat-tempat sepi. Tapi ada juga beberapa alternatif untuk mencari ide yang sederhana tapi sangat manjur. Di antaranya:

1. Metode Daftar Kata

Metode ini bisa diterapkan dengan mengambil kata secara acak dari buku atau kamus. Kalau memungkinkan, minta teman yang memilihkan.

Buatlah daftar kata yang harus dimuat cerita itu sekitar 8-10 kata. Contohnya, hutan, harimau, pohon, tertawa, rumah.

Nah, kata-kata itu tidak saling berhubungan, jadi asyiknya ya merangkai cerita agar kata-kata tersebut ada semua.

2. Metode First Line

Ambil kalimat pertama dari buku manapun, tapi yang belum dibaca atau minta bikinin kalimat sama teman, dan coba kamu karang sendiri lanjutannya.

Metode kedua inilah yang aku berikan padamu tadi.

3. Metode Judul

Seperti metode kedua, kamu bisa lihat-lihat judul buku di perpustakaan atau toko buku. Coba tulis cerita berdasarkan judul yang menarik perhatian tanpa tahu isinya terlebih dahulu.

Nah, dari tiga metode ini, coba kamu pilih salah satu atau gabungkan ketiga metode tersebut untuk mendapatkan ide bagi naskah ceritamu. Mudah-mudahan berhasil," jelas Anto panjang lebar.

Setelah mengerti, Andi jadi tersenyum dan ganti dia yang minta maaf sama Anto.

"Memang nggak pernah rugi aku main ke rumahmu, Nto," kata Andi pada sahabatnya sambil tersenyum.

"Itulah gunanya teman," jawab Anto sambil menepuk pundak sahabat tercintanya itu dan mereka pun meneruskan menikmati segelas teh hangat dan pisang goreng kegemaran mereka berdua yang baru dibeli saat Mak Ijah lewat.

Jumat, 30 Mei 2008

Warna Ceria pada Buku Anak

Menjadi seorang penulis buku anak dirasakan banyak penulis sebagai hal yang sulit. Hal ini, ternyata juga dialami oleh Andi yang memang menulis apapun akan merasa kesulitan he..he..he...

Hari ini, Andi kembali mengunjungi Anto, sahabatnya, untuk bertanya mengenai masalah buku anak.

Sesampainya di rumah Anto, Andi langsung saja menyodorkan naskah cerita anak yang baru saja ditulisnya.

"Tolong liatin dong, Nto!" kata Andi pada sahabatnya yang juga tengah menulis sebuah naskah pesanan salah satu tabloid anak-anak.

"Ini naskah baru atau naskah lama?" tanya Anto tanpa memegang naskah Andi sama sekali.

"Naskah baru dong!" sambar Andi.

"Bagus atau lumayan atau kurang bagus atau bahkan jelek?" tanya Anto lagi tetap tanpa menyentuh naskah Andi.

"Pasti bagus!" yakin Andi pada Anto.

"Kalau pasti bagus, ya sudah, kirim aja. Nggak usah tanya pendapatku," celetuk Anto sekenanya.

"Yeee...dimintai tolong temen kok pelit banget sih!" protes Andi dengan nada kesel.

Bayangin aja! (harus bener-bener dibayangin, ya)

Waktu berangkat daari rumahnya menuju rumah Anto saja, perjalanan Andi penuh perjuangan. Baru sampai di depan gang rumahnya, Andi melihat Bang Joni (nama aslinya sih Yono, tapi karena lama di Jakarta dia rubah namanya jadi Joni. Kenapa bukan Yoni? Ya...klo Yoni kan kalah keren. Tapi Joni....wah nama orang gedongan tuh!)

Nah, pas melihat Bang Joni si tukang kredit itu, Andi langsung saja balik lagi ke rumahnya dan ngumpet sampe Bang Joni yang manggil-manggil namanya bosen dan meninggalkan rumahnya. Nggak perlu dong dikasih tahu alasan kenapa Andi harus kabur dari Bang Joni.

Yang kedua yang harus dialami Andi adalah begitu lolos di gang pertama, Andi masih harus bertemu dengan Juminten yang jualan jamu. Melihat Juminten yang agak-agak centil ini, Andi pun harus ngumpet di balik pohon sawo milik Pak Haji Safii. Baru setelah Juminten lewat, Andi buru-buru lari menuju rumah Andi.

Klo masalah, Juminten, sebenarnya, Andi nggak punya utang meski sering minum jamu tanpa bayar. Masalahnya adalah Andi udah kadung janji akan nikahin Juminten sejak Lebaran tiga tahun lalu. Nah itulah yang bikin Andi jadi malu hati klo harus ketemu sama Juminten.

Sedang perjuangan ketiga adalah Anjing milik Baba Liong. Anjing ini sebenarnya bukan anjing pengganggu. Tapi setiap kali Andi yang punya badan kurus kerempeng mirip tengkorak berjalan itu lewat di depan hidungnya, Anjing yang punya nama keren "Boy" ini selalu dengan semangat 45 berlari mengejar Andi. Kontan saja, Andi harus pontang-panting lari menyelamatkan diri sampai-sampai sandal jepitnya putus.

Setelah berhasil melewati tiga rintangan menuju rumah Anto, akhirnya Andi berhasil menyentuh gagang pintu rumah Anto dan kejadian selanjutnya pasti sudah pembaca ketahui bersama seperti yang sudah diceritakan di paragraf awal.

"Nah, jadi gimana?" tanya Andi lagi.

"Apanya yang gimana?" Anto balas bertanya.

"Makanya, dilihat dulu dong naskahku. Jangan cuman tanya-tanya melulu," Andi memprotes.

Sekilas Anto akhirnya membaca naskah yang disodorkan sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian, Anto berkata, "Beberapa kali aku membaca karya penulis asing untuk menambah pengetahuanku dalam menulis cerita anak.

Karena keterbatasan pemahaman linguistik anak-anak, saat menulis cerita anak kadang kita tak leluasa membuat gaya bahasa seperti layaknya karya sastra untuk orang dewasa.

Oleh karena itu, pemilihan kata untuk anak mesti diperhatikan, sehingga kesederhanaan kalimat sering kita tampilkan. Tapi, kesederhanaan yang kamu buat juga mesti berbobot.

Aku pernah membaca beberapa tips dan trik yang bisa digunakan untuk memberikan "warna" pada buku cerita anak.

Yang pertama adalah membuat perumpamaan dengan kacamata anak-anak. Contohnya, Rida paling tidak suka melihat Tante Lina berpakaian. Tempo hari, Tante Lina sangat mirip terong raksasa yang bisa berjalan. Dari topi sampai sepatunya berwarna ungu tua. Iiiiii, padahal Rida paling malas melihat yang namanya terong.

Bisa kamu bayangin, kan gimana terong ungu berjalan?

Atau contoh lainnya, kamu bisa bikin kalimat seperti ini, Muka Doni pucat. Tiwi langsung ingat udang goreng yang disediakan ibu semalam di meja makan.

Atau yang lain seperti ini. Andi bertubuh kurus. Kurus sekali hingga disangka tengkorak jalan-jalan. Kalo orang menertawakan Andi karena mirip tengkorak, maka Anjing seringkali mengejarnya karena disangka tulang yang siap untuk dimakan," jelas Anto pelan-pelan.

"Wooooi!! Nggak usah pakai fisik dong. Gue emang kurus, tapi jangan dipakai untuk contoh!" protes Andi yang nggak terima fisiknya dijadikan bahan omongan.

"Lho...kan aku ngasih contoh nyata biar kamu lebih mengerti," Anto pun membela diri.

"Ya, udah nggak usah pakai fisik deh sekarang. Trus apalagi yang bisa kamu jelaskan?" tanya Andi akhirnya.

"Oke. Yang kedua adalah mendefinisikan istilah dengan polos. Contohnya aku ambilkan dari buku Konrad.

Kak Wita tadi bercerita soal pelajaran barunya di kelas pada Ibu.
Katanya, ada pelajaran tentang akar-akaran. Tapi yang kudengar bukan akar tumbuhan, tapi akar angka. Katanya, akar 16 itu 4, akar 100 itu 10. Aku bingung. Kalau akar sejuta mungkin pohonnya besar sekali.

Atau Lo bisa ambil contoh yang lain. Tentang Paparazi misalnya. Kamu bisa bikin dialog seperti,

Paparazi itu siapa sih, Oom? Pasti Indo ya? Namanya aneh. Trus, istrinya dipanggil Mama Razi, ya?

Nah, hal-hal seperti itu yang mungkin bisa menambah 'warna' pada naskah atau buku anak-anak kamu.

Senin, 26 Mei 2008

Young Adult

Memahami Genre Buku Cerita Anak #8

Young Adult

"Wah, leganya!" kata Anto.

"Gimana, nih? Ada nggak genre lain lagi?" tanya Andi.

"Masih ada, dong! Ini yang terakhir dan habis ini elo boleh langsung praktek atau langsung pulang terserah elo!" kata Anto.

"OKe! Genre yang terakhir adalah Young Adult!" teriak Anto sambil senyam-senyum melihat Andi yang melotot padanya karena tebakan asal-asalannya disebut sebagai genre terakhir oleh Anto.

"Young Adult ini adalah genre untuk anak usia 12 tahun ke atas. Panjang naskahnya antara 130 sampai 200 halaman.

Plot ceritanya bisa sangat "ruwet" dengan banyak karakter utama, meskipun tetap ada satu karakter yang difokuskan.

Tema-tema yang diangkat seringnya relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Buku The Outsiders karta S.E. Hinton menjadi tonggak sejarah buku cerita anak di genre ini yang menceritakan permasalahan remaja saat itu ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 1967.

Kategori new-age untuk usia 10 hingga 14 tahun juga perlu diperhatikan, terutama untuk buku-buku kelompok nonfiksi remaja.

Buku-buku di kelompok ini sedikit lebih pendek dibanding untuk kelompok usia 12 tahun ke atas, serta topik yang biasa diambil adalah fiksi dan nonfiksi itu lebih cocok untuk anak-anak yang telah melewati buku genre middle grade, tetapi belum siap membaca buku-buku fiksi atau belum mempelajari subjek nonfiksi yang materinya fitujukan untuk pembaca di kelas sekolah menengah.

Begitu. Nah, sekarang terserah deh kamu mau ngapain," kata Anto pada sahabatnya yang kelihatan mringas-mringis itu.

"A...a..aku.....aku mau nge-bom!!" teriak Andi yang langsung melesat secepat kilat menuju kamar mandi untuk nge-bom alias BAB.

"Dasar JOROK!!!!!!" teriak Anto.

Kamis, 22 Mei 2008

Middle Grade

Memahami Genre Buku Cerita Anak #7

Middle Grade

Setelah seteko kopi panas tersaji di atas meja, Anto mulai melanjutkan lagi penjelasannya tentang kopi..eh, sori tentang genre buku.

"Setelah beberapa genre buku yang sudah aku jelasin, masih ada jenis genre buku yang lain. Yaitu Middle Grade.

Genre ini untuk anak usia 8 sampai 12 tahun yang merupakan usia emas anak dalam membaca. Naskahnya lebih panjang, sekitar 100 sampai 150 halaman deh.

Ceritanya juga mulai kompleks juga, sama dengan Chapter Books. Di Middle Grade ini bagian-bagian sub-plot menampilkan banyak karakter tambahan yang berperan penting dalam jalinan cerita dan tema-temanya cukup modern.

Anak-anak di usia ini biasanya mulai tertarik dan mengidolakan karakter dalam cerita. Hal ini menjelaskan keberhasilan beberapa seri petualangan yang terdiri dari 20 atau lebih buku dengan tokoh yang sama.

Kelompok fiksinya beragam mulai dari fiksi kontemporer, sejaran, hingga sience-fiction atau petualangan fantasi. Sementara yang masuk kelompok nonfiksi antara lain biografi, iptek, dan topik-topik multibudaya."

"Tunggu," kata Andi, "Makin ke sini, kok makin aneh dan ribet genrenya? Ntar lama-lama bakal ada genre Young Adult segala".

"Ya...genre buku itu kan disesuaikan dengan genre atau tingkatan dan untuk siapa pembacanya, makanya.....hop!" teriak Anto yang melihat Andi mau menyela omongannya lagi.

"Ntar kita lanjutin, sekarang gantian gua yang mau pipis," kata Anto sambil langsung lari ke kamar mandi.

bersambung....

Senin, 12 Mei 2008

Chapter Books

Memahami Genre Buku Cerita Anak #6

Chapter Books


Setelah selesai mengeluarkan persediaan pipis di kantong kemihnya, Andi duduk kembali dan makan pisang goreng di atas meja (lho..bukannya pisang gorengnya dah habis di cerita ketiga? Kok sekarang nongol lagi? Tenang aja, soalnya, waktu Andi pipis, ada tukang gorengan lewat dan Anto membeli beberapa pisang goreng untuk menemani mereka ngobrol).

"Eh. elo nggak nanya dari mana pisang goreng yang barusan elo makan?" tanya Anto.

"Nggak perlu, ah! Kan, pembaca dah pada tahu sendiri. Barusan baca penjelasannya, kan?" jawab Andi sekenanya. "Udah deh lanjutin soal genre buku ini".

"Genre buku selanjutnya," kata Anto membuka penjelasannya kembali. "Adalah Chapter Books. Buku ini diperuntukkan bagi anak usia 7 hingga 10 tahun, terdiri dari naskah setebal 45-60 halaman yang dibagi dalam tiga hingga empat halaman per bab.

Kisahnya lebih padat dibanding genre transition books, walaupun tetap memakai banyak ramuan aksi petualangan.

Kalimat-kalimatnya mulai sedikit kompleks, tapi paragraf yang dipakai pendek (rata-rata 2-4 kalimat). Tipikal dari genre ini adalah cerita di akhir setiap bab dibuat menggantung di tengah-tengah sebuah kejadian agar pembaca penasaran dan terstimulasi untuk terus membaca bab-bab selanjutnya.

Serial Herbie Jones karangan Suzy Kline (Puffin Publishing) dan Ramona karya Beverly Cleary (Morrow Publishing) dikatakan masuk dalam genre buku anak ini."

"Udah, nih?" tanya Andi. "Sip dah. Klo masih ada lagi, buruan lanjutin penjelasannya biar sekalian tuntas"

"Buruan gundulmu itu, kopi dah habis nih. Bikin dong!" pinta Anto.

"Yeeee.... yang jadi tuan rumah kan situ. Ngapain aku harus bikinin kopi," protes Andi yang langsung disambit pisang goreng oleh Anto, kali ini pas kena di mulutnya.

"Woooke...woooke...wuaku wuighhinin ghoofi whhuak whhamhhu," kata Andi yang mulutnya masih keganjel pisang goreng anget. Maksud omongannya yang nggk karuan sih begini : "OKE-OKE! AKU BIKININ KOPI BUAT KAMU!'

bersambung....

Rabu, 07 Mei 2008

Transition Books

Memahami Genre Buku Cerita Anak #5

Transition Books


Setelah Anto benar-benar nggak nyemburin kopi ke mukanya lagi, Andi kembali duduk dengan tenang (sebenarnya sih nggak tenang-tenang amat. Soalnya kakinya masih siap siaga untuk melompat apabila Anto menyemburkan sesuatu dari mulut atau nyambitin sesuatu dari tangannya).

"Terusin deh, Nto," pinta Andi akhirnya.

"Oke. Tapi nggak usah pegangan kursi gitu dong. Santai aja," kata Anto. Setelah Andi terlihat benar-benar santai baru Anto melanjutkan penjelasannya.

"Nah, genre buku selanjutnya adalah Transition Books. Buku jenis ini disebut juga sebagai "chapter book tahap awal", untuk anak usia 6-9 tahun. Merupakan jembatan penghubung antara genre easy readers dan chapter books.

Gaya penulisannya persis serperti easy readers, namun lebih panjang (naskah biasanya sebanyak 30 halaman, dipecah menjadi 2-3 halaman per bab), ukuran trim per hlamannya lebih kecil lagi, serta dilengkapi dengan ilustrasi hitam-putih di beberapa halaman.

Serial The Kids of the Pols Stret School karya Patricia Reilly Giff (Dell Young Tearling Publishing) dan seri Stepping Stone Books yang diterbitkan Random House masuk dalam kelompok genre ini," kata Anto sambil meminum lagi kopi di atas meja yang langsung membuat Andi bersiap siaga lagi untuk mengeluarkan jurus langkah seribu nya.

"Eh, mau kemana Lo?" tanya Anto.

"Mau pipis dulu, ntar dilanjutin lagi, ya," jawab Andi sambil ngibrit ke kamar mandi karena udah nggak tahan pengin pipis.

bersambung...

Sabtu, 03 Mei 2008

Easy Readers

Memahami Genre Buku Cerita Anak #4

Easy Readers

"Wah...sadis banget sih!" teriak Andi sambil kalang kabut menghindar dari muncratan kopi yang keluar dari mulut Anto.

Setelah menyeka mulutnya, Anto pun balik menyemprot sahabatnya yang nggak tahu diri itu, "Nah, elo yang sadis. Orang dari tadi dah ngecap kesana-kemari, bukannya disimak malah pikiranmu itu kemana-mana. Trus minta diulangi lagi, kan capek aku!"

"Ya, deh...sori dori mori," kata Andi seperti biasa kalau meminta maaf. "Lanjutin aja deh penjelasannya"

Setelah menenangkan hatinya yang rada mangkel, Anto akhirnya mau melanjutkan lagi penjelasannya mengenai genre buku anak. "Oke, selanjutnya...ada genre yang disebut Easy Readers".

Wah, bagus itu. Kalo yang begituan aku tahu," serobot Andi sambil nunjuk-nunjuk muka Anto. "Aku paling suka nonton itu"

Anto yang kebingungan makin bingung, "Nonton? Nonton apaan?"

"Ya...itu tadi. Film Knight Rider, kan?!" kata Andi dengan penuh keyakinan.

Untung Anto nggak lagi minum kopi, klo saja dia sedang minum kopi, tentu adegan sebelumnya pasti terulang lagi. Dan kali ini, kebetulan Anto sedang memegang pisang goreng yang tinggal separo dan mendengar jawaban Andi langsung saja tangannya reflek melempar pisang itu pas nempel di hidung Andi yang langsung aja gelagepan karena nggak bisa napas.

"Dasar kacau elo, Ndi! Yang gua bilang Easy Rider bukannya film Knight Rider yang moncong mobilnya bisa kelap-kelip itu!" sembur Anto. "Udah deh jangan motong omonganku dulu."

"Easy Rider yang gue bilang tadi dikenal juga dengan sebutan easy to read. Buku-buku genre ini biasanya untuk anak-anak yang baru mulai membaca sendiri (usia 6-8 tahun). Masih tetap ada ilustrasi berwarna di setiap halamannya, tapi dengan format yang sedikit lebih "dewasa": ukuran trim per halaman bukunya lebih kecil dan ceritanya dibagi dalam bab-bab pendek. Tebal buku biasanya 32-64 halaman dan panjang teksnya beragam antara 200-1.500 kata, atau paling banyak 2.000 kata.

Cerita disampaikan dalam bentuk aksi dan percakapan interaktif, menggunakan kalimat-kalimat sederhana (satu gagasan per kalimat). Biasanya ada 2-5 kalimat di tiap halaman. Seri I Can Read yang diterbitkan Harper Trophy merupakan contoh terbaik buku genre ini.

Nah, sudah dicatat belum? Atau mau aku semprot lagi pakai air kopi?" tanya Anto yang tersenyum kegelian melihat Andi yang ketakutan dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk lari dari semburan kopi.

bersambung....

Rabu, 16 April 2008

Memahami Genre Buku Cerita Anak #3

Early Picture Books

Setelah membersihkan meja yang kotor, Anto pun duduk kembali menemani sahabatnya yang haus akan informasi itu.

"Nah, jadi bagaimana?" tanya Andi tidak sabar.

"Yaelah, baru juga duduk. Kasih napas dulu, dong!" sahut Anto sambil terrtawa.

"Oke, setelah dua genre yang sudah kusebutkan tadi, genre yang ketiga adalah Early Picture Books. Genre ini...," belum selesai Anto berbicara, Andi langsung menyambar. "Wah, ngaco nih! Mentang-mentang awalnya ada Picture Books, trus selanjutnya kamu bikin ada ilernya picture books. Ntar, lama-lama ada pipisnya atau ompolnya picture books lagi".

"Lho?! Siapa yang ngomongin iler?" tanya Anto kebingungan.

"Wah, jangan anggap aku orang bodoh, Nto. Biar gini-gini aku masih ada turunan einsten lho," sesumbar Andi yang tentunya makin nunjukkin (waduh nggak tega ngomongnya neh!). Pokoknya tahu sendiri lah!

"Aku kan tadi ngomong early bukan iler. Dan itu aku nggak mengada-ada. Memang dari yang pernah aku baca, genre buku cerita anak ya...kayak gitu," jelas Anto.

"Ya, terserah deh! Lawan kamu gua pasti kalah!" kata Andi.

Anto yang mendengar sahabatnya itu nggak mau tahu cuman geleng-geleng kepala. "Nggak ilang-ilang adat yang sok tahu dari anak ini," batin Anto, tapi kemudian mulutnya berkata, "Oke! Aku lanjutin nih. Genre Early Picture Books ini sebentuk dengan picture books. Namun, dilengkapi sedemikian rupa untuk usia-usia akhir di batas 4 hingga 8 tahun.

Ceritanya sederhana dan berisi kurang dari 1.000 kata. Banyak buku genre ini yang dicetak ulang dalam format board book untuk melebarkan jangkauan pembacanya.

The Very Hungry Caterpilar (Philomel Publishing) karya Eric Carle adalah salah satu contohnya".

"Nah, gimana? Dah paham?" tanya Anto sambil menghirup lagi secangkir kopi panasnya.

"Ya..lumayanlah. Cuman tunggu dulu ya. Aku mau nyatet keterangan kamu tadi biar bisa kuhapal dan kubaca lagi kalau aku perlu. Coba ulangi lagi dari awal penjelasanmu," pinta Andi sambil mencari kertas dan pena, sedangkan Anto yang mendengar permintaan Andi langsung saja tersedak dan akibatnya muncratan air kopi dari mulutnya nyampe juga ke wajah Andi (wuih...sadis banget, gimana rasanya kena muncratan kopi dari mulut gitu, ya? Tapi sengaja tidak digambarkan disini, biar nggak pada muntah. Tapi klo mau ngebayangin sendiri juga nggak papa kok. He.he.he.he...)

Bersambung

Minggu, 06 April 2008

Memahami Genre Buku Cerita Anak #2

Memahami Genre Buku Cerita Anak #2

Picture Books

Setelah memakan habis kedua potong sisa singkong rebus itu, Andi kembali menagih janji pada Anto.

"Ayo, Nto. Apalagi genre buku yang lain?" desak Andi.

"Sabar, dong. Minum juga belum? Keselek nih!" protes Anto yang segera minum kopi dari teko di depannya.

"Bruaaaahhh!" sembur Anto ke wajah Andi yang langsung loncat-loncat karena wajahnya kena sembur kopi panas.

"Woi! Gimana seh, masa wajah sahabat sendiri disembur pakai kopi panas!" protes Andi.

"Sori dori mori ketabrak lori di pagi hari, Ndi. Baru terasa panas banget setelah kopinya masuk mulut," jawab Anto dengan penuh penyesalan.

"Sori dori nggak tahu diri!" Balas Andi. "Makan singkong rebus panas, mulut kamu kuat, kenapa minum kopi panas jadi nggak kuat?"

"Ya, makan dan minum kan dua hal yang berbeda. Sudahlah, kita lanjutkan penjelasannya," kata Anto sambil membersihkan semburan kopi panasnya yang tumpah di sekitar meja.

"Oh ya, yang kedua yang masuk dalam genre buku cerita anak adalah Picture Books. Pada umumnya, picture books berbentuk buku setebal 32 halaman untuk anak usia 4-8 tahun. Naskahnya bisa mencapai 1.500 kata, namun rata-rata 1000 kata saja.

Plotnya masih sederhana, dengan satu karakter utama yang seutuhnya menjadi pusat perhatian dan menjadi alat penyentuh emosi dan pola pikir anak. Ilustrasi memainkan peran yang sama besar dengan teks dalam penyampaian cerita. Buku anak pada genre ini bisa menggunakan lebih dari 1.500 kata, biasanya sebagai persiapan bagi pembaca yang memasuki masa-masa puncak di spektrum usianya.

Buku genre ini sudah membicarakan topik serta menggunakan gaya penulisan yang luas dan beragam. Cerita Nonfiksi dalam format ini dapat menjangkau sampai usia 10 tahun, dengan tebal sampai 48 halaman, dan berisi hingga 2.000 kata dalam teksnya".

"Hem...aku mulai banyak tahu nih. Masih ada lagi?" tanya Andi.

"Masih dong! Cuman ntar dulu ya. Aku bersihin meja ini dulu biar enak kita ngobrolnya," jawab Anto sambil mengelap meja yang kotor kena tumpahan kopi tadi.

Bersambung.......