And i dan Anto sudah lamaaaaa.. sekali tidak bersua. Kali ini mereka berjumpa dalam sebuah kesempatan yang digelar oleh sebuah partai yang sedang mengadakan kampanye. Namun, mereka berdua berada pada partai yang berbeda.
"Wah, sudah lama sekali kita tidak bersua, Nto," kata Andi menyapa terlebih dahulu.
Sambil menjabat tangan sahabatnya itu, Anto menjawab, "Betul Ndi, sudah hampir 6 bulan, kali, ya?"
"Apa kamu ikut kampanye partai ini karena kamu simpatisannya?" tanya Andi.
"Ssttt... bukan. Aku ikut kampanye ini bukan karena menjadi simpatisannya. Aku ikut karena ingin buat tulisan untuk kontes SEO," jawab Anto.
"Kontes Es E O? Emang enak Es itu?" Andi kembali bertanya sambil menjilat sudut bibirnya sendiri.
"Uuuuh, kamu tuh emang pikirannya makanan melulu," kata Anto sambil melanjutkan, "SEO itu Search Engine Optimisation. Aku ingin buat tulisan tentang Kontes SEO Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009 untuk dipublish di webku."
"Oh, itu tah. Kirain makanan baru," Andi berkata sambil terus menjilat sudut bibirnya sendiri.
"Aku lagi butuh duit nih. Kebetulan hadiah Kontes SEO itu adalah duit sebesar 5 juta rupiah. Udah ada beberapa web yang mengulas tentang kampanye itu. Seperti web yang mengulas tentang kegiatan Kampanye Pemilu dan artikel tentang Kampanye Damai Pemilu Indonesia," jelas Anto penjang lebar.
"Terus kamu posting tulisan kamu dimana?" tanya Andi lagi.
"Aku baru beli domain baru dengan nama yang tidak sesuai dengan keyword kontes tersebut, tapi aku yakin untuk keyword Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009, aku dapat bersaing dengan yang lain asal tulisanku lebih baik dan berbobot dari mereka.
Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba serombongan sepeda motor yang melakukan konvoi mendekat ke arah mereka membuat suasana menjadi hiruk pikuk dengan suara knalpotnya yang meraung-raung.
Karena makin tidak kondusif, akhirnya Andi dan Anto memutuskan untuk pulang saja. Toh, Anto sudah mendapat sekilas pandang mengenai suasana Kampanye Damai yang sebenarnya tidak damai-damai amat sih.
Kamis, 2009 Maret 19
Mencari Bahan Tulisan untuk Kampanye Damai Pemilu Indonesia 2009
Rabu, 2009 Januari 21
Sekedar Nulis
Sudah lama rasanya Anto dan Andi tidak bertemu. Ini dikarenakan mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Meski mereka berdua menyukai bidang penulisan, tapi ternyata urusan dapur tidak bisa dikesampingkan.
Oleh karena itulah, mereka memilih mengisi dapur mereka dahulu baru kemudian menekuni kembali dunia yang mereka cinta, yaitu Menulis.
Dan sampai hari inipun mereka masih belum bertemu.
di
19:35
0
komentar
Label: bahasa untuk cerpen, buku cerita anak, ide, Menulis Cerita Anak
Selasa, 2008 November 04
MTM (2)
Melanjutkan percakapan mereka pada hari sebelumnya, Anto memberikan beberapa poin tentang pembelajaran menulis mereka selama ini.
"Selanjutnya, yang mesti kamu perhatikan dalam menulis cerita anak-anak adalah pemilihan setting atau lokasi," kata Anto mengawali pembicaraan mereka.
"Ya, itu aku masih sedikit mengingatnya. Pemilihan setting atau lokasi itu sendiri mesti kita sesuaikan dengan tema cerita, kan?" tanya Andi menegaskan.
"Ya.. iyalah. Dan untuk itu, kamu juga mesti memahami deskripsi dalam cerpen serta jangan lupakan Pesan moral dalam cerita untuk anak-anak itu yang harus kita sisipkan, sehingga cerita yang kita buat lebih sarat ilmu dan pendidikan bagi generasi muda kita, bukan hanya cerita yang bersenang-senang saja," tandas Anto.
di
17:28
3
komentar
Minggu, 2008 November 02
MTM (Mengulang Tentang Menulis)
Sudah sangat lama sekali Anto dan Andi tidak bersua. Saat berjumpa, hal pertama yang ditanyakan oleh Andi adalah mengenai MENULIS!
"Waduh, mbok yao tanya yang lain dulu. Tanya kabar, kek, apa kek gitu. Ini kok langsung tanya soal menulis. Emangnya nggak ada pertanyaan lain apa?" protes Anto sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Ya... aku sih udah tahu kabar kamu baik-baik saja," jawab Andi pendek.
"Lho, tahu dari mana?" Anto kali ini kebingungan dan berpikir selama tidak bertemu, mungkin Andi telah belajar ilmu meramal.
"Fakta! Bahwa kamu berdiri di sini dan tidak kurang suatu apa, hal itu menandakan bahwa kamu dalam keadaan sehat wallafiat kan?!" jawab Andi lugas yang membuat Anto tersenyum sendiri.
"Trus apa yang mau kamu tanyakan soal menulis, bukankah sudah banyak kamu mencatat apa yang sudah kita bicarakan selama ini?" tanya Anto lagi.
"Iya, tapi ada beberapa lembar catatan awal gua menghilang," kata Andi memberi alasan.
"Makanya kalau punya catatan penting itu disimpan yang rapi, biar nggak ilang," sungut Anto.
"Yee.. aku sih menyimpan dengan baik, cuman kemaren orangtuaku kekurangan kertas buat bungkus barang dagangannya, dan tanpa tanya kepadaku, dia langsung mengambil tumpukan kertas milikku untuk dijadikan bungkus," jawab Andi dengan nada kesal.
Anto yang mendengar jawaban Andi langsung terpingkal-pingkal. "Oke deh. Aku kasih rambu-rambu aja, ya".
"Rambu Lalu Lintas?" tanya Andi polos.
"Bukan rambu itu, tapi sekedar kata kunci untuk mengingatkan kamu tentang latihan menulis kita terdahulu," tukas Anto sambil melanjutkan, "Yang pertama, seingatku kita membahas tentang Menemukan Ide, kemudian Dongeng 'Cerita Tanpa Batas', lalu Menulis Ulang, Menerjemahkan, Mengadaptasi dan Karya Sendiri. Yang lainnya nanti aku ingat-ingat lagi, sekarang cukup itu dulu, ya".
"Huuu...dasar pelit!" kata Andi tapi dengan rasa terima kasih karena dibantu mengingat latihan-latihan awal mereka menulis dulu.
di
19:24
0
komentar
Label: Books, buku cerita anak, cerita, genre cerita anak, ide, Menulis Cerita Anak
Kamis, 2008 Juli 24
Alternatif Pencarian Ide 2
Anto dan Andi tengah jalan-jalan di alun-alun saat mata Andi tertuju pada pedagang koran dan majalah yang mangkal di pinggir jalan.
"Nto, kita ke pedagang koran itu, yuk?" ajak Andi sambil berjalan mendahului. Sedangkan Anto hanya mengangguk menjawab ajakan sahabatnya itu.
Sesampainya di pedagang tersebut, Andi melihat-lihat sejenak tumpukan koran dan majalah. Kemudian, tangannya mengambil majalah anak-anak terbitan ibu kota yang sudah terkenal dan membelinya.
Kedua sahabat itu kemudian melanjutkan jalan-jalan di alun-alun untuk menikmati suasana sore menjelang malam. Anto sempat membeli kacang rebus untuk menemani mereka ngobrol sambil duduk di bangku yang tersedia di alun-alun.
Sementara itu, Andi membolak-balik dan membaca beberapa cerita anak yang ada dalam majalah itu.
"Eh, To, kenapa aku baca dari tadi nggak ada pesan moral dalam cerita anak ini, ya?" tiba-tiba Andi membuka pembicaraan.
"Maksud kamu, pesan moral yang kayak apa?" jawab Anto balas bertanya sambil mengambil majalah anak-anak itu dari tangan Andi.
"Biasanya, kan, dalam sebuah cerita harus ada pesan moral seperti jangan membolos, jangan mencuri jambu tetangga, jangan menyontek dan sebagainya," jawab Andi.
"Oh... itu sih udah ketinggalan jaman, Ndi. Sekarang kita sebagai penulis harus mempunyai daya kreatifitas tinggi. Jangan hanya mengekor format yang sudah ada sejak jaman Unyil dan Pak Raden," kata Anto sambil melanjutkan, "Jaman sekarang sudah berubah. Begitu juga dengan psikologi anak-anak."
Andi yang mendengar kata-kata Anto hanya mencibirkan mulutnya. "Huuuu sok tahu kamu."
"Bukannya sok tahu, tapi sebagai penulis, kita harus dapat menciptakan trend baru bagi pembaca kita. Cobalah menulis apa saja yang pernah kamu alami dengan gaya bertutur yang lebih ringan. Syukur kalau kamu bisa membuat cerita yang kocak. Nggak ada pesan moral juga nggak pa-pa, malah buat aja cerita yang mengkritik orang dewasa. Jangan hanya menasehati dan menggurui melulu," kata Anto.
"Wah, benar-benar sok tahu kamu. Aku saja baru pertama kali ini membaca cerita anak model begini, kok kamu sudah bisa bicara panjang lebar tentang format cerita anak yang baru," kata Andi meragukan kata-kata Anto.
Sambil tersenyum Anto kembali menyerahkan majalah anak-anak itu pada Andi, "Nah, baca dulu siapa penulis cerita yang kamu baca itu baru kamu tahu apa yang aku katakan benar atau tidak," kata Anto sambil menunjuk nama penulis yang tertera di cerita tersebut.
Dengan kaget Andi membaca nama penulisnya: A N T O.
di
23:22
0
komentar
Label: buku cerita anak, ide
Rabu, 2008 Juli 02
Alternatif Pencarian Ide untuk Cerita
Lebih dari satu bulan Andi dan Anto tak bersua. Sebagai seorang sahabat, Andi sangat kangen pada temannya itu sehingga hari ini dia pergi untuk mengunjungi sahabat karibnya tersebut.
Seperti biasanya juga, selain kangen, Andi juga membawa misi untuk mengorek ilmu Anto mengenai tulis menulis.
Sesampainya di rumah Anto, kebetulan Anto sedang memandikan Si Bagong, burung kesayangannya. "Woi, dah rubah haluan jadi pedagang burung, nih?" kata Andi menyapa sahabatnya.
Karena kaget, Anto yang lagi nyemprot si Bagong memutar tubuhnya ke belakang. Tapi karena memegang selang, maka arah semprotan selang yang tadinya ke tubuh si Bagong, jadi berubah menyemprot tubuh Andi.
Terang aja Andi mencak-mencak mengeluarkan ginkang (ilmu ringan tubuh)-nya. Tapi dasar emang nggak punya ilmu meringankan tubuh, maka sebagian bajunya sudah kena semprot air duluan.
"Sory, Ndi... sorry. Habis kamu ngageting aja, sih," kata Anto sembari meminta maaf dan mematikan aliran air.
"Tumben, ada apa nih?" tanya Anto sambil memberikan handuk untuk mengeringkan tubuh Andi.
Andi menyambut handuk itu sambil tetap manyun. "Tadinya aku kangen sama kamu, tapi sekarang aku jadi males. Soalnya, bukan di kasih air minum malah disuruh mandi," jawab Andi.
"Aku kan sudah minta maaf. Ayo duduk sini," kata Anto mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Setelah duduk dan meminum teh hangat, Andi kemudian menceritakan masalah pokoknya selain rasa kangen terhadap Anto.
Andi merasa sudah mulai bisa menulis, terbukti dengan beberapa hasil karyanya dan pernah memenangkan sebuah lomba penulisan cerita pendek di sebuah majalah ibu kota.
Namun, saat ini, Andi mengalami kesulitan mencari ide-ide segar.
Setelah mendengar, Anto tiba-tiba berkata, "Aku mau pergi."
Andi yang baru saja meminum teh hangatnya langsung menyemburkannya karena kaget. "Bruah!"
Ganti Anto sekarang yang harus jumpalitan menghindari semburan air teh hangat dari mulut Andi. "Gila, loe, ya" teriak Anto.
"Kamu yang gila," balas Andi nggak mau kalah. "Masa' aku minta bantuan, kamu malah mau pergi."
"Lha, kan itu tadi sudah aku bantu," balas Anto sengit.
"Bantu apaan?" tanya Andi nggak ngerti.
"Aku mau pergi. Itu kalimat bantuan dari aku. Tinggal kamu sendiri yang harus bisa ngembangin," kata Anto.
"Aku masih belum ngerti," kata Andi.
Terpaksa Anto menjelaskan mengenai beberapa metode alternatif mencari ide. "Dalam mencari ide, kita tidak harus menyendiri atau pergi ke tempat-tempat sepi. Tapi ada juga beberapa alternatif untuk mencari ide yang sederhana tapi sangat manjur. Di antaranya:
1. Metode Daftar Kata
Metode ini bisa diterapkan dengan mengambil kata secara acak dari buku atau kamus. Kalau memungkinkan, minta teman yang memilihkan.
Buatlah daftar kata yang harus dimuat cerita itu sekitar 8-10 kata. Contohnya, hutan, harimau, pohon, tertawa, rumah.
Nah, kata-kata itu tidak saling berhubungan, jadi asyiknya ya merangkai cerita agar kata-kata tersebut ada semua.
2. Metode First Line
Ambil kalimat pertama dari buku manapun, tapi yang belum dibaca atau minta bikinin kalimat sama teman, dan coba kamu karang sendiri lanjutannya.
Metode kedua inilah yang aku berikan padamu tadi.
3. Metode Judul
Seperti metode kedua, kamu bisa lihat-lihat judul buku di perpustakaan atau toko buku. Coba tulis cerita berdasarkan judul yang menarik perhatian tanpa tahu isinya terlebih dahulu.
Nah, dari tiga metode ini, coba kamu pilih salah satu atau gabungkan ketiga metode tersebut untuk mendapatkan ide bagi naskah ceritamu. Mudah-mudahan berhasil," jelas Anto panjang lebar.
Setelah mengerti, Andi jadi tersenyum dan ganti dia yang minta maaf sama Anto.
"Memang nggak pernah rugi aku main ke rumahmu, Nto," kata Andi pada sahabatnya sambil tersenyum.
"Itulah gunanya teman," jawab Anto sambil menepuk pundak sahabat tercintanya itu dan mereka pun meneruskan menikmati segelas teh hangat dan pisang goreng kegemaran mereka berdua yang baru dibeli saat Mak Ijah lewat.
di
02:51
2
komentar
Label: cerita, ide, Menulis Cerita Anak
Jumat, 2008 Mei 30
Warna Ceria pada Buku Anak
Menjadi seorang penulis buku anak dirasakan banyak penulis sebagai hal yang sulit. Hal ini, ternyata juga dialami oleh Andi yang memang menulis apapun akan merasa kesulitan he..he..he...
Hari ini, Andi kembali mengunjungi Anto, sahabatnya, untuk bertanya mengenai masalah buku anak.
Sesampainya di rumah Anto, Andi langsung saja menyodorkan naskah cerita anak yang baru saja ditulisnya.
"Tolong liatin dong, Nto!" kata Andi pada sahabatnya yang juga tengah menulis sebuah naskah pesanan salah satu tabloid anak-anak.
"Ini naskah baru atau naskah lama?" tanya Anto tanpa memegang naskah Andi sama sekali.
"Naskah baru dong!" sambar Andi.
"Bagus atau lumayan atau kurang bagus atau bahkan jelek?" tanya Anto lagi tetap tanpa menyentuh naskah Andi.
"Pasti bagus!" yakin Andi pada Anto.
"Kalau pasti bagus, ya sudah, kirim aja. Nggak usah tanya pendapatku," celetuk Anto sekenanya.
"Yeee...dimintai tolong temen kok pelit banget sih!" protes Andi dengan nada kesel.
Bayangin aja! (harus bener-bener dibayangin, ya)
Waktu berangkat daari rumahnya menuju rumah Anto saja, perjalanan Andi penuh perjuangan. Baru sampai di depan gang rumahnya, Andi melihat Bang Joni (nama aslinya sih Yono, tapi karena lama di Jakarta dia rubah namanya jadi Joni. Kenapa bukan Yoni? Ya...klo Yoni kan kalah keren. Tapi Joni....wah nama orang gedongan tuh!)
Nah, pas melihat Bang Joni si tukang kredit itu, Andi langsung saja balik lagi ke rumahnya dan ngumpet sampe Bang Joni yang manggil-manggil namanya bosen dan meninggalkan rumahnya. Nggak perlu dong dikasih tahu alasan kenapa Andi harus kabur dari Bang Joni.
Yang kedua yang harus dialami Andi adalah begitu lolos di gang pertama, Andi masih harus bertemu dengan Juminten yang jualan jamu. Melihat Juminten yang agak-agak centil ini, Andi pun harus ngumpet di balik pohon sawo milik Pak Haji Safii. Baru setelah Juminten lewat, Andi buru-buru lari menuju rumah Andi.
Klo masalah, Juminten, sebenarnya, Andi nggak punya utang meski sering minum jamu tanpa bayar. Masalahnya adalah Andi udah kadung janji akan nikahin Juminten sejak Lebaran tiga tahun lalu. Nah itulah yang bikin Andi jadi malu hati klo harus ketemu sama Juminten.
Sedang perjuangan ketiga adalah Anjing milik Baba Liong. Anjing ini sebenarnya bukan anjing pengganggu. Tapi setiap kali Andi yang punya badan kurus kerempeng mirip tengkorak berjalan itu lewat di depan hidungnya, Anjing yang punya nama keren "Boy" ini selalu dengan semangat 45 berlari mengejar Andi. Kontan saja, Andi harus pontang-panting lari menyelamatkan diri sampai-sampai sandal jepitnya putus.
Setelah berhasil melewati tiga rintangan menuju rumah Anto, akhirnya Andi berhasil menyentuh gagang pintu rumah Anto dan kejadian selanjutnya pasti sudah pembaca ketahui bersama seperti yang sudah diceritakan di paragraf awal.
"Nah, jadi gimana?" tanya Andi lagi.
"Apanya yang gimana?" Anto balas bertanya.
"Makanya, dilihat dulu dong naskahku. Jangan cuman tanya-tanya melulu," Andi memprotes.
Sekilas Anto akhirnya membaca naskah yang disodorkan sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian, Anto berkata, "Beberapa kali aku membaca karya penulis asing untuk menambah pengetahuanku dalam menulis cerita anak.
Karena keterbatasan pemahaman linguistik anak-anak, saat menulis cerita anak kadang kita tak leluasa membuat gaya bahasa seperti layaknya karya sastra untuk orang dewasa.
Oleh karena itu, pemilihan kata untuk anak mesti diperhatikan, sehingga kesederhanaan kalimat sering kita tampilkan. Tapi, kesederhanaan yang kamu buat juga mesti berbobot.
Aku pernah membaca beberapa tips dan trik yang bisa digunakan untuk memberikan "warna" pada buku cerita anak.
Yang pertama adalah membuat perumpamaan dengan kacamata anak-anak. Contohnya, Rida paling tidak suka melihat Tante Lina berpakaian. Tempo hari, Tante Lina sangat mirip terong raksasa yang bisa berjalan. Dari topi sampai sepatunya berwarna ungu tua. Iiiiii, padahal Rida paling malas melihat yang namanya terong.
Bisa kamu bayangin, kan gimana terong ungu berjalan?
Atau contoh lainnya, kamu bisa bikin kalimat seperti ini, Muka Doni pucat. Tiwi langsung ingat udang goreng yang disediakan ibu semalam di meja makan.
Atau yang lain seperti ini. Andi bertubuh kurus. Kurus sekali hingga disangka tengkorak jalan-jalan. Kalo orang menertawakan Andi karena mirip tengkorak, maka Anjing seringkali mengejarnya karena disangka tulang yang siap untuk dimakan," jelas Anto pelan-pelan.
"Wooooi!! Nggak usah pakai fisik dong. Gue emang kurus, tapi jangan dipakai untuk contoh!" protes Andi yang nggak terima fisiknya dijadikan bahan omongan.
"Lho...kan aku ngasih contoh nyata biar kamu lebih mengerti," Anto pun membela diri.
"Ya, udah nggak usah pakai fisik deh sekarang. Trus apalagi yang bisa kamu jelaskan?" tanya Andi akhirnya.
"Oke. Yang kedua adalah mendefinisikan istilah dengan polos. Contohnya aku ambilkan dari buku Konrad.
Kak Wita tadi bercerita soal pelajaran barunya di kelas pada Ibu.
Katanya, ada pelajaran tentang akar-akaran. Tapi yang kudengar bukan akar tumbuhan, tapi akar angka. Katanya, akar 16 itu 4, akar 100 itu 10. Aku bingung. Kalau akar sejuta mungkin pohonnya besar sekali.
Atau Lo bisa ambil contoh yang lain. Tentang Paparazi misalnya. Kamu bisa bikin dialog seperti,
Paparazi itu siapa sih, Oom? Pasti Indo ya? Namanya aneh. Trus, istrinya dipanggil Mama Razi, ya?
Nah, hal-hal seperti itu yang mungkin bisa menambah 'warna' pada naskah atau buku anak-anak kamu.
