Blog ini mencoba menyuguhkan teknik yang berbeda mengenai tips dan trik bagaimana menulis sebuah cerita untuk anak! Jujur, saya banyak mendapatkan referensi dari berbagai milis dan saya coba tuangkan dalam bentuk "pembelajaran" yang berbeda, yaitu melalui dialog dua orang yang bernama Anto dan Andi.
Rabu, 29 September 2010
Berpikirlah Seperti Anak-Anak untuk Menjadi Penulis Cerita Anak
Tanpa permisi apalagi mengucap salah, Andi langsung menghempaskan pantatnya (Nah, kalo ini beneran sesuatu yang menempel dibagian belakang tubuh Andi, ya) di kursi teras yang ada di rumah Anto.
Kebetulan, Anto hendak keluar untuk membeli permen bagi keponakannya. Begitu melihat Andi yang duduk di kursi teras dengan wajah ditekuk, Anto mengurungkan niatnya dan duduk di sebelah Andi.
"Ada apa, sih, Ndi. Datang nggak kasih kabar, tahu-tahu duduk di kursi orang sambil pasang tampang nyeremin, begitu?" tanya Anto dengan nada sabar.
"Ach! Dasar editor kacangan!" somber Andi yang diterjemahkan Anto sebagai jawaban dari pertanyaannya sekaligus permasalahan yang ingin disampaikan oleh sahabatnya itu.
"Loh… loh.. loh. Kenapa, sih? Pasti naskahmu ditolak lagi, ya?" tebak Anto dengan tepat.
"Hooh," jawab Andi lemas.
"Alasan editornya?" tanya Anto dengan hati-hati.
"Masa katanya naskahku lebih cocok untuk orang dewasa daripada anak-anak. Padahal, kan aku bikin naskah itu untuk konsumsi anak-anak," jawab Andi dengan sengitnya.
"Memangnya kamu menulis apa?" tanya Anto lagi tanpa banyak berkomentar.
"Aku menulis tentang Pengusaha Sukses di awal umurnya yang ke empat puluh tahun," jawab Andi dengan yakinnya.
"Apakah kau bawa naskahmu?" lagi-lagi Anto bertanya.
"Tanya mulu, sih? Bantuin 'napa?" protes Andi yang mendengar sahabatnya itu selalu bertanya tanpa memberikan solusi kepada permasalahannya.
"Makanya aku mau lihat naskahmu dulu. Bagaimana aku bisa membantumu kalau nggak jelas ujung pangkalnya. Masa aku harus membelamu tanpa tahu kamu itu benar atau bukan, kalau aku berbuat begitu, berarti aku bukan sahabatmu, tetapi hanya orang yang mendorongmu ke jurang kehancuran," kali ini kata-kata Anto menjadi sebuah kata jawaban.
Dengan malas, Andi mengambil naskah yang dikembalikan oleh editor dari sebuah penerbit dari dalam tasnya dan memberikannya kepada Anto. Setelah membaca beberapa saat, Anto manggut-manggut sambil menggumam, "Hmmm… heeh… heeh".
"Apaan sih, heeh… heeh.. nggak jelas," sungut Andi.
"Justru sekarang baru jelas," jawab Anto sambil menambahkan, "Editor yang mengembalikan naskahmu ini bukanlah editor kacangan. Justru dia editor yang baik karena menolak naskahm".
"Loh…" belum sempat Andi melanjutkan protesnya, tangan Anto sudah terangkat ke atas sebagai isyarat agar Andi diam.
"Dari naskah yang kubaca ini, memang benar bahwa isinya tidak cocok sama sekali untuk anak-anak," kata Anto sambil memperhatikan ekspresi Andi.
Setelah beberapa saat menunggu dan Andi tidak memprotesnya lagi, Anto melanjutkan kata-katanya, "Kau menulis sesuatu dengan cara dan sudut pandangan orang dewasa. Hal ini akan menyulitkan anak-anak dalam membaca naskahmu nanti".
"Jadi, aku harus menulis bagaimana?" tanya Andi yang mulai mau menerima kesalahannya.
"Ingat nggak, kalau nonton film detektif. Para jagoannya selalu ngomong bahwa untuk menangkap penjahat, kita harus berpikir seperti penjahat?" ucap Anto.
"Lah, emang daku mau jadi detektif, apa? Aku kan mau jadi penulis cerita anak," lagi-lagi Andi protes tanpa mikir dulu.
"Aduh… makanya kalau mau ngomong itu dipikir dulu. Jangan asal ngejeplak dong," Anto mulai kesal dengan sifat sahabatnya itu.
"Maksudnya, kalau kamu nulis untuk anak-anak, ya berpikirlah seperti anak-anak. Lebih jelasnya lagi, jangan nulis sesuatu berdasarkan pemikiran kamu sebagai orang dewasa. Buatlah cerita yang memuat sikap anak-anak dalam berperilaku, menyikapi sesuatu dan cara berpikir mereka sehingga apa yang kamu tulis itu bisa masuk dalam alam pikiran mereka," jelas Anto.
"Lah, Harry Potter aja juga kubilang termasuk novel dewasa koq," protes Andi nggak mau kalah.
"Harry Potter itu, kalau kamu baca dengan lebih teliti lagi, akan ketemu bahwa itu memang bacaan untuk anak-anak meski disukai juga oleh orang dewasa. Tokohnya anak-anak dan mereka terkadang berbuat kesalahan yang khas anak-anak dan butuh tokoh orang-orang dewasa untuk menjaga dan mengarahkan mereka.
Oleh karena itu, ada tokoh Dumbledore, para profesor di sekolah Hogwart dan ada pula orang tua Ron yang menjadi tempat bagi Harry Potter serta pamannya. Tapi, tetap saja si tokoh harus berpikir dan berprilaku seperti layaknya seorang anak-anak. Begitu! Paham?!" tanya Anto.
"Ooohhh… begitu, toh. Aku paham sekarang," jawab Andi sambil menambahkan, "Kalau begitu besok aku harus minta maaf sama editornya karena sudah berprasangka buruk dan menuduhnya sebagai editor kacangan".
"Bagus itu. Makanya jangan selalu mencari kambing hitam dengan menyalahkan orang lain. Cobalah untuk selalu instropeksi diri dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik," ucap Anto.
"Baik, pak profesor," kata Andi dan mereka berdua pun tertawa bersama.
Kamis, 29 Juli 2010
Royalti 20 persen
Kebetulan saat itu, Anto sedang membawa setumpuk pakaian basah yang baru saja dicucinya. Saking banyaknya tumpukan pakaian itu, sampai-sampai ia tidak dapat melihat ke depan. Anto pun berjalan sambil mengira-ngira apakah ada halangan atau tidak di depannya. Karena konsentrasi penuh, Anto tidak mengetahiu kalau Andi sedari tadi duduk di kursi malas yang ada di sebelah pintu dan dengan cepat setelah melewaeti pintu rumahnya, Anto meletakkan tumpukan pakaian basah yang dibawanya itu dengan maksud untuk beristirahat dan memperhatikan hendak dijemur dimana pakaiannya itu.
Tiba-tiba…
"Wadaw!!!" teriak Andi yang kaget karena tiba-tiba dirinya kejatuhan pakaian basah.
"Wadaw juga!!!" Anto yang juga kaget spontan berteriak latah.
"Apa-apaan kau ini, Nto?!" semprot Andi yang seluruh tubuhnya jadi setengah basah (bukan setengah mati, ye!).
"Apa-apaan?! Kamu itu yang apa-apaan?! Sejak kapan kamu duduk disitu? Lagian datang-datang bukannya ngucap salam malah duduk diam di teras rumah orang. Kayak maling aja, tahu!!" semprot Anto tak mau kalah.
Baru bertemu, kedua sahabat itu langsung terlibat pertengkaran seru. Setelah saling mengeluarkan kekesalannya masing-masing, akhirnya kedua sahabat itu berdamai dan saling meminta maaf.
"Maaf sih boleh saja. Tapi, gimana dengan cucianku, nih?! Capek-capek aku nyucinya, sekarang jadi kotor lagi, deh," keluh Anto sambil melihat cucian basahnya yang berhamburan di lantai.
"Ya sudah. Kita bilas lagi aja," ajak Andi yang juga merasa bersalah.
Mereka berduapun segera memunguti cucian basah milik Anto dan membilasnya di kamar mandi.
"Eh, ada kabar apaan? Tumben kamu main ke sini?" tanya Anto pada Andi sambil mengguyur cuciannya dengan air bersih.
"Nggak ada apa-apa, kok," jawab Andi berbohong.
"Alaaaa… nggak usah bohong, deh. Aku tahu kalau mukamu kusut begitu, berarti kamu lagi ada masalah, Iya, kan?!" tanya Anto lagi.
"Hooh, nih. Sebenarnya aku lagi kesel banget," jawab Andi akhrinya.
"Kenapa?" tanya Anto.
"Kemaren, aku ke sebuah penerbit dan bernegosiasi soal royalti. Tapi ternyata mereka pelit banget. Akhirnya, aku pulang dan membatalkan naskahku yang akan diterbitkan mereka," kata Andi menceritakan kekesalannya.
"Hmmm… memang berapa royalti yang mereka tawarkan padamu?" tanya Anto yang ingin mengetahui lebih jelas duduk permasalahannya.
"7 persen," jawab Andi singkat.
"Loh, itukan angka yang wajar. Kenapa kamu tolak?" tanya Anto heran.
"Aku maunya royalti 20 persen. Kalau cuman 7 persen, aku nggak bisa cepet kaya, dong!!" sergah Andi yang merasa Anto tidak mendukungnya.
Mendengar jawaban sahabatnya, Anto tertawa sambil memberikan celana jeans yang baru saja diguyurnya dengan air bersih pada Andi.
"Andi… Andi. 7 persen itu adalah angka royalti yang wajar di setiap penerbit. Kalau kamu maunya 20 persen, nggak akan ada penerbit yang mau nerbitin naskah kamu. Lagian, siapa kamu minta royalti setinggi langit begitu," kata Anto menertawakan sahabatnya yang dianggapnya keterlaluan dalam menentukan tarif royaltinya.
Sambil memeras celana jeans yang baru saja diterimanya dari Anto, Andi bertanya balik, "Memang kenapa kalau aku mau 20 persen? Sah-sah saja, kan, permintaanku?"
"Tentu saja sah. Tapi, tidak akan ada yang bersedia menerbitkan naskahmu dan kamu hanya akan berangan-angan mendapatkan royalti 20 persen tanpa pernah merasakan royalti tersebut," jawab Anto sambil menyerahkan sebuah kaos oblong pada Andi.
"Umumnya, penerbit akan menawarkan royalti kepada penulis sekitar 6 sampai 12 persen, meskipun ada juga yang menawarkan hingga 20 persen.. "
"Nah, tuh, kan. Ada yang nawarin 20 persen. Kenapa kamu bilang aku nggak boleh dan nggak mungkin mendapat royalti 20 persen?!" serobot Andi sebelum Anto menyelesaikan penjelasannya.
"Dengar dulu kata-kataku," ucap Anto yang sedikit kesal pada ketidaksabaran Andi.
"Untuk menentukan besaran royalti itu, penerbit akan melihat dulu kapasitas penulis, kelayakan naskah dan juga perkiraan penjualannya dan setiap penulis bisa mendapatkan royalti yang berbeda-beda. Tapi, ada juga yang tidak ingin dibayar secara royalti tapi ingin dibayar flat fee," tambah Anto.
"Apa itu flat fee?" tanya Andi sambil menerima kaos dalam dari tangan Anto setelah selesai memeras kaos oblong sahabatnya itu.
"Flat fe itu adalah pembayaran dengan cara beli putus. Di sini, angka yang ditawarkan sesuai dengan hasil tulisannya, penulisnya siapa, dan perkiraan penjualannya. Untuk penulis baru, jelas tidak sama jumlah yang didapatkannya dengan penulis yang telah mempunyai banyak karya," jawab Anto.
"Emang berapa angkanya?" tanya Andi.
"Ya… sekitar 3 sampai 30 jutaan lah," jawab Anto sambil menyerahkan celana dalamnya yang baru saja diguyur air pada Andi.
"Oh.. begitu. Wadawww apaan nih?!" jerit Andi sambil melemparkan celana dalam yang diterimanya.
"Loh, kok dibuang, sih?!" tanya Anto sewot sambil menambahkan, "Itukan celana dalamku. Emang kamu nggak pernah pegang celana dalam apa?"
"Megang sih pernah. Tapi punyaku sendiri. Kalau punya orang lain mah, cuci dan bilas aja sendiri," kata Andi sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Anto sendiri yang memandang celana dalamnya yang nyemplung ke WC akibat dilemparkan Andi tadi.
Kamis, 05 November 2009
Mengirim Naskah Ke Penerbit
Akhirnya, dengan terengah-engah sampai juga Andi di teras rumah Anto (jadi belum sampai masuk rumah, ya. Hal ini perlu diperjelas karena terkadang pembaca suka salah menafsirkan tulisan..hehehe just kidding).
"Assalamualaikum," teriak Andi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam... ," setelah beberapa lama hening akhirnya terdengar jawaban dari dalam rumah.
Begitu pintu rumah dibuka, tampaklah Anto dengan tubuh yang masih basah dan penuh dengan busa sabun. Andi yang melihatnya langsung terlompat kaget (lompatnya dikit doang, kok).
"Astagfirullah!!" teriak Andi sambil melompat (penjelasan melompat ada di alinea atas, ya).
"Hei, emang kenapa kaget gitu. Orang lagi mandi, kamunya malah datang. Ntar kalo nggak dibuka katanya kelamaan. Klo dibuka sekarang.. ya begini jadinya," kata Anto sekenanya.
"Ya... sudahlah. Kamu terusin aja mandinya. Aku tunggu di ruang tamu," kata Andi sambil nyelonong masuk dan langsung duduk di kursi, sedangkan Anto kembali melanjutkan mandinya yang tertunda.
Tak berapa lama kemudian, Anto keluar dari kamarnya dengan dandanan yang rapi jali dan badan yang harum mewangi.
"Eits!! Wangi amat," mau nglamar kerja dimana?" tanya Andi.
"Bukan nglamar kerja, tapi mau nglamar penerbit biar naskahku diterbitkan," jawab Anto.
"Oh gitu toh! Emang gimana caranya nglamar penerbit?" tanya Andi lagi.
Mendengar pertanyaan Andi, Anto langsung tahu bahwa sahabatnya itu tidak bisa dipuaskan dengan jawaban-jawaban yang singkat. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjelaskan cara melamar penerbit agar mau menerbitkan naskahnya dengan sejelas-jelasnya.
"Begini, yang pertama tentunya kita harus memastikan dahulu bahwa penerbit yang akan kita lamar itu membutuhkan naskah seperti yang sedang kita tulis," kata Anto.
"Bagaimana caranya kita tahu bahwa penerbit itu membutuhkan naskah sesuai yang kita tulis?" sambar Andi dengan pertanyaan.
"Ya... kita kan bisa menelepon penerbit itu lalu tanya sana tanya sini yang berhubungan dengan naskah dan penerbit itu sendiri," jawab Anto.
"Ih.. SKSD tuh!" celetuk Andi.
"Apaan tuh SKSD?" tanya Anto.
"Sok Kenal Sok Dekat! Lom kenal siapa-siapa sudah main tanya sana tanya sini. Apa bukan SKSD tuh!" jawab Andi.
"Ya.... kan kalo lom kenal, pada saat telpon itu kita bisa sekalian kenalan. Kan ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Kalo nggak kenalan trus tanya sana tanya sini, itu namanya nggak tahu etika," kata Anto sambil menambahkan, "mau dilanjutin nggak penjelasannya?"
"Mau... mau," kata Andi.
"Nah, itu tadi yang pertama. Kita mesti memastikan bahwa penerbit yang kita hubungi membutuhkan naskah yang sedang kita tulis.
Kemudian yang kedua, print-lah karya kita secara rapi dengan sampul depan dan belakang. Jangan lupa sertakan sinopsisnya jika karya kita itu sebuah novel. Jika karya kita berupa seri buku anak-anak, maka sertakan pula konsep produknya yang mengandung unsur-unsur kelebihan naskah tersebut dari buku lain. Untuk ini, kita bisa menampilkan visualisasinya ataupun desain covernya dan jangan lupa CV lengkap kita.
Yang ketiga, tulis besar-besar di pojok amplop jenis naskah yang kita kirim, misalkan Novel Misteri. Tulis nama editor yang pernah ngobrol dengan kita di telepon. Oh ya, waktu ngirim naskah pergunakan jasa pengiriman kilat khusus semacam TIKI, kemudian simpan resinya sebagai tanda bukti.
Kemudian yang keempat, setelah seminggu dikirim, coba telepon ke editor yang pernah berkomunikasi dengan kita, tanyakan apakah naskah kita telah tiba dengan selamat," jelas Anto panjang lebar.
"Sudah pakai jasa pengiriman kilat khusus, masa nggak sampai sih?" tanya Andi memotong penjelasan Anto.
"Ya.. kemungkinan itu pasti ada. Makanya resinya disimpan yang rapi supaya dapat dipergunakan sebagai bukti apabila menanyakan naskah kita yang nggak sampai ke alamat tujuan.
Sudah sekarang kita lanjut ke poin nomer lima. Setelah naskah kita sampai dengan selamat, tunggu selama satu hingga tiga bulan. Jika lebih dari tiga bulan tidak ada kabar berita, sebaiknya ditarik kembali dan memulai proses dari awal. Tapi kalo ada jawaban dari penerbitnya, maka naskah kita layak terbit dan itu berarti peluang untuk terbit semakin besar.
Tapi, proses ini baru sampai di editor akuisisi, nanti naskah kita akan melewati proses rapat-rapat lanjutan dan pada rapat lanjutan ini bagian marketing akan mencari info di pasar, penanggung jawab naskah tersebut akan mencari referensi tambahan dan copy edtornya akan membaca berulang kali kalau naskah tersebut jadi terbit. Jadi, siap-siap untuk masuk jadwal edit. Selain itu, editor development juga siap-siap mencari referensi visual dan desain serta layoutnya."
"Wah, ternyata perjalanan sebuah naskah itu ribet juga, ya," kata Andi sambil merenung.
"Udah nggak usah banyak merenung, pokoknya sekarang Stop Dreaming Start Action," kata Anto sambil melanjutkan, "Yang keenam, jika naskah kita kemudian dinyatakan akan diterbitkan, segera minta surat perjanjian. Baca satu per satu pasal yang ada dalam surat perjanjian tersebut. Jangan sampai ada yang terlewat. Kadang penulis pemula yang naskahnya baru pertama kali akan diterbitkan sering melupakan hal ini. Dia tidak perduli isi surat perjanjian tersebut karena yang terbayang di benaknya adalah naskahnya yang siap menjadi buku.
Jadi, di poin keenam ini, kita harus jeli memperhatikan apa judulnya sudah sesuai, berapa nilai kontraknya, berapa royaltinya, bagaimana cara pembayarannya, berapa lama kira-kira naskah kita akan diproses. Apakah tiga bulan atau satu tahun. Pokoknya kalo ada yang aneh, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya.
Lantas, bagaimana kalo setelah masa perjanjian, buku kita belum terbit juga? Nah, ini masuk ke dalam poin selanjutnya atau yang ketujuh. Apabila setelah masa perjanjian terlewati, naskah kita belum terbit juga, segera tanyakan kepada editor yang menjadi penanggungjawab naskah tersebut. Jangan menanyakan hal ini kepada bagian keuangan, OB atau resepsionisnya, pasti jawabannya akan sukses membingungkan kita...hehehe...," kata Anto mencoba melucu. Tapi melihat Andi tidak tersenyum apalagi tertawa, Anto menyadari bahwa Andi sedang mendengarkan penjelasannya secara cermat.
Oleh karena itu, Anto kembali melanjutkan penjelasannya, "Kebalikan dari poin tujuh adalah poin delapan, yaitu bagaimana jika tiba-tiba sudah terbit dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Malah dikasih tahu orang lain. Pasti kita surpraise dan bangga dunks. Tapi, menyikapi hal ini bukan surparise atau kebanggaan yang seharusnya kita tonjolkan melainkan segeralah telepon untuk mendapat penjelasan dari editor atau pihak penerbitnya.
Tindakan ini sah-sah saja bahkan harus kita lakukan. Apabila dasar hukumnya kuat, kita bahkan bisa meminta agar buku yang telah diedarkan ditarik kembali."
"Lho, kok poin ketujuh dan kedelapan bisa terjadi. Bukankah lembaga penerbitan itu lembaga yang telah mempunyai prosedur kerja yang baku dan tidak sembarangan saja cara kerjanya?" tanya Andi yang tampak kebingungan.
Mendengar pertanyaan Andi, Anto tersenyum dan memuji ketelitian sahabatnya itu. "Kenapa bisa terjadi? Ya, bisa saja editor kan juga manusia. Pada intinya, kejadian pada poin ketujuh dan kedelapan dapat terjadi dikarenakan banyak faktor, diantaranya adanya rotasi jabatan pada perusahaan tersebut, atau ada orang baru yang menangani proyek buku kita, atau bisa jadi lagi pihak penerbit sudah berusaha menghubungi kita, tapi kitanya lagi nggak berada di bumi. Hehehe..lebay banget, ya?
Pokoknya, kalau alasan yang pertama, yaitu rotasi jabatan yang terjadi, kita bisa mengatakan bahwa ini kesalahan dari atasannya, karena atasannya wajib meminta laporan sedetil mungkin kepada editor yang pernah ada di bawahnya. Jadi semua proses naskah yang akan terbit, sedang dikerjakan, sedang dibaca atau masih antri untuk dibaca semua harus dimiliki oleh atasannya sehingga poin ke tujuh dan kedelapan tidak harus terjadi," urai Anto sambil menambahkan, "Ya sudah. Aku mau berangkat dulu, ntar keburu siang dan editor yang menungguku bisa-bisa kabur entah kemana."
"Okelah kalo begitu. Aku juga mau ikut kamu ke penerbit," kata Andi sambil berdiri dari duduknya.
"Lho, ngapain?" Anto bertanya dengan heran.
"Aku kan juga mau memasukkan naskahku ke penerbit," jawab Andi singkat.
"Memang...," tanya Anto yang keburu dipotong oleh Andi.
"Memang semua yang barusan kamu katakan sudah kulakukan. Pokoknya aku yakin naskahku kali ini akan diterbitkan. Jadi, yuk kita berangkat," potong Andi sambil menunjukkan amplop besar yang sedari tadi ditentengnya.
Akhirnya kedua sahabat itu berangkat bersama dengan membawa mimpi-mimpi indah tentang buku mereka yang meledak di pasaran menjadi buku BEST SELLER!!
Jumat, 09 Oktober 2009
Mengatasi Kejenuhan Menulis Cerita Anak
"Minal Aidin Walfaidzin. Mohon maaf lahir batin," kata Anto sambil menjabattangan dan memeluk sahabatnya itu.
"Sama-sama," jawab Andi membalas pelukan sahabatnya itu.
"Bagaimana kegiatan menulismu, Masih berlanjut?" tanya Anto.
"Alhamdulillah masih, Hanya saja di bulan ramadhan kemaren aku sempat mengalami kebosanan dan kejenuhan dalam menulis, sampai-sampai aku mau muntah kalau melihat buku, pulpen atau komputer," jawab Andi.
"Wah!! Lebay bener kamu, Ndi. Masa sampai segitunya. Lagian kita pernah membahas soal kejenuhan dan kebosanan dalam menulis, deh," kata Anto sambil melanjutkan, "Kalau kamu mengalami kebosanan dalam menulis, kamu bisa rehat sebentar dengan bermain game, jalan-jalan ke mall atau aktivitas lain yang bisa bikin kamu refresh lagi. Tapi ingat, jangan terlalu lama refreshnya, ntar malah nggak mau nulis lagi jadinya."
Andi yang mendengar penjelasan sahabatnya itu bukannya mengangguk malah menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tak setuju pada kata-kata Anto.
"Aku sudah melakukan itu semua. Malah aku sampai pulang kampung untuk rehat sejenak dari menulis. Tapi, tetap saja aku merasa bosan dan jenuh dengan menulis," kata Andi.
"Ya... kalau pulang kampung, itu sih bukan untuk rehat dari menulis, tapi memang ritual kamu setahun sekali harus pulang kampung," tukas Anto dan kedua sahabat itupun tertawa bersama. Begitu senangnya mereka berdua dengan pertemuan ini hingga tawa merekapun sangat lepas dan tanpa beban.
Andi baru menyadari bahwa tiba-tiba dirinya ingin berbagi cerita saat di kampung kepada Anto. "Nto, aku ingin cerita pengalamanku selama lebaran di kampung>"
"Boleh. Aku juga ingin mendengar kegiatanmu selama di sana," jawab Anto.
"Tapi kamu masih punya laptop,kan di rumah?" tanya Andi.
"Masih, dong. Emang kenapa?" Anto balik bertanya dengan kening berkerut.
"Aku mau pinjem dulu, sebab aku mau menceritakan pengalamanku di kampung dengan menulis bukan dengan bicara," jawab Andi.
Anto yang mendengar jawaban Andi segera menyadari bahwa sahabatnya itu sudah mulai punya semanga untuk menulis alias bosan dan jenuhnya sudah hilang dan Antopun tertawa yang juga disambut dengan tawa lepas Andi.
Kedua sahabat itupun berjalan menuju rumah Anto dengan berangkulan dan meninggalkan tawa gembira di sepanjang perjalanan mereka.
Rabu, 21 Januari 2009
Sekedar Nulis
Meski mereka berdua menyukai bidang penulisan, tapi ternyata urusan dapur tidak bisa dikesampingkan.
Oleh karena itulah, mereka memilih mengisi dapur mereka dahulu baru kemudian menekuni kembali dunia yang mereka cinta, yaitu Menulis.
Dan sampai hari inipun mereka masih belum bertemu.
Minggu, 02 November 2008
MTM (Mengulang Tentang Menulis)
"Waduh, mbok yao tanya yang lain dulu. Tanya kabar, kek, apa kek gitu. Ini kok langsung tanya soal menulis. Emangnya nggak ada pertanyaan lain apa?" protes Anto sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Ya... aku sih udah tahu kabar kamu baik-baik saja," jawab Andi pendek.
"Lho, tahu dari mana?" Anto kali ini kebingungan dan berpikir selama tidak bertemu, mungkin Andi telah belajar ilmu meramal.
"Fakta! Bahwa kamu berdiri di sini dan tidak kurang suatu apa, hal itu menandakan bahwa kamu dalam keadaan sehat wallafiat kan?!" jawab Andi lugas yang membuat Anto tersenyum sendiri.
"Trus apa yang mau kamu tanyakan soal menulis, bukankah sudah banyak kamu mencatat apa yang sudah kita bicarakan selama ini?" tanya Anto lagi.
"Iya, tapi ada beberapa lembar catatan awal gua menghilang," kata Andi memberi alasan.
"Makanya kalau punya catatan penting itu disimpan yang rapi, biar nggak ilang," sungut Anto.
"Yee.. aku sih menyimpan dengan baik, cuman kemaren orangtuaku kekurangan kertas buat bungkus barang dagangannya, dan tanpa tanya kepadaku, dia langsung mengambil tumpukan kertas milikku untuk dijadikan bungkus," jawab Andi dengan nada kesal.
Anto yang mendengar jawaban Andi langsung terpingkal-pingkal. "Oke deh. Aku kasih rambu-rambu aja, ya".
"Rambu Lalu Lintas?" tanya Andi polos.
"Bukan rambu itu, tapi sekedar kata kunci untuk mengingatkan kamu tentang latihan menulis kita terdahulu," tukas Anto sambil melanjutkan, "Yang pertama, seingatku kita membahas tentang Menemukan Ide, kemudian Dongeng 'Cerita Tanpa Batas', lalu Menulis Ulang, Menerjemahkan, Mengadaptasi dan Karya Sendiri. Yang lainnya nanti aku ingat-ingat lagi, sekarang cukup itu dulu, ya".
"Huuu...dasar pelit!" kata Andi tapi dengan rasa terima kasih karena dibantu mengingat latihan-latihan awal mereka menulis dulu.
Rabu, 02 Juli 2008
Alternatif Pencarian Ide untuk Cerita
Seperti biasanya juga, selain kangen, Andi juga membawa misi untuk mengorek ilmu Anto mengenai tulis menulis.
Sesampainya di rumah Anto, kebetulan Anto sedang memandikan Si Bagong, burung kesayangannya. "Woi, dah rubah haluan jadi pedagang burung, nih?" kata Andi menyapa sahabatnya.
Karena kaget, Anto yang lagi nyemprot si Bagong memutar tubuhnya ke belakang. Tapi karena memegang selang, maka arah semprotan selang yang tadinya ke tubuh si Bagong, jadi berubah menyemprot tubuh Andi.
Terang aja Andi mencak-mencak mengeluarkan ginkang (ilmu ringan tubuh)-nya. Tapi dasar emang nggak punya ilmu meringankan tubuh, maka sebagian bajunya sudah kena semprot air duluan.
"Sory, Ndi... sorry. Habis kamu ngageting aja, sih," kata Anto sembari meminta maaf dan mematikan aliran air.
"Tumben, ada apa nih?" tanya Anto sambil memberikan handuk untuk mengeringkan tubuh Andi.
Andi menyambut handuk itu sambil tetap manyun. "Tadinya aku kangen sama kamu, tapi sekarang aku jadi males. Soalnya, bukan di kasih air minum malah disuruh mandi," jawab Andi.
"Aku kan sudah minta maaf. Ayo duduk sini," kata Anto mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Setelah duduk dan meminum teh hangat, Andi kemudian menceritakan masalah pokoknya selain rasa kangen terhadap Anto.
Andi merasa sudah mulai bisa menulis, terbukti dengan beberapa hasil karyanya dan pernah memenangkan sebuah lomba penulisan cerita pendek di sebuah majalah ibu kota.
Namun, saat ini, Andi mengalami kesulitan mencari ide-ide segar.
Setelah mendengar, Anto tiba-tiba berkata, "Aku mau pergi."
Andi yang baru saja meminum teh hangatnya langsung menyemburkannya karena kaget. "Bruah!"
Ganti Anto sekarang yang harus jumpalitan menghindari semburan air teh hangat dari mulut Andi. "Gila, loe, ya" teriak Anto.
"Kamu yang gila," balas Andi nggak mau kalah. "Masa' aku minta bantuan, kamu malah mau pergi."
"Lha, kan itu tadi sudah aku bantu," balas Anto sengit.
"Bantu apaan?" tanya Andi nggak ngerti.
"Aku mau pergi. Itu kalimat bantuan dari aku. Tinggal kamu sendiri yang harus bisa ngembangin," kata Anto.
"Aku masih belum ngerti," kata Andi.
Terpaksa Anto menjelaskan mengenai beberapa metode alternatif mencari ide. "Dalam mencari ide, kita tidak harus menyendiri atau pergi ke tempat-tempat sepi. Tapi ada juga beberapa alternatif untuk mencari ide yang sederhana tapi sangat manjur. Di antaranya:
1. Metode Daftar Kata
Metode ini bisa diterapkan dengan mengambil kata secara acak dari buku atau kamus. Kalau memungkinkan, minta teman yang memilihkan.
Buatlah daftar kata yang harus dimuat cerita itu sekitar 8-10 kata. Contohnya, hutan, harimau, pohon, tertawa, rumah.
Nah, kata-kata itu tidak saling berhubungan, jadi asyiknya ya merangkai cerita agar kata-kata tersebut ada semua.
2. Metode First Line
Ambil kalimat pertama dari buku manapun, tapi yang belum dibaca atau minta bikinin kalimat sama teman, dan coba kamu karang sendiri lanjutannya.
Metode kedua inilah yang aku berikan padamu tadi.
3. Metode Judul
Seperti metode kedua, kamu bisa lihat-lihat judul buku di perpustakaan atau toko buku. Coba tulis cerita berdasarkan judul yang menarik perhatian tanpa tahu isinya terlebih dahulu.
Nah, dari tiga metode ini, coba kamu pilih salah satu atau gabungkan ketiga metode tersebut untuk mendapatkan ide bagi naskah ceritamu. Mudah-mudahan berhasil," jelas Anto panjang lebar.
Setelah mengerti, Andi jadi tersenyum dan ganti dia yang minta maaf sama Anto.
"Memang nggak pernah rugi aku main ke rumahmu, Nto," kata Andi pada sahabatnya sambil tersenyum.
"Itulah gunanya teman," jawab Anto sambil menepuk pundak sahabat tercintanya itu dan mereka pun meneruskan menikmati segelas teh hangat dan pisang goreng kegemaran mereka berdua yang baru dibeli saat Mak Ijah lewat.
Jumat, 30 Mei 2008
Warna Ceria pada Buku Anak
Hari ini, Andi kembali mengunjungi Anto, sahabatnya, untuk bertanya mengenai masalah buku anak.
Sesampainya di rumah Anto, Andi langsung saja menyodorkan naskah cerita anak yang baru saja ditulisnya.
"Tolong liatin dong, Nto!" kata Andi pada sahabatnya yang juga tengah menulis sebuah naskah pesanan salah satu tabloid anak-anak.
"Ini naskah baru atau naskah lama?" tanya Anto tanpa memegang naskah Andi sama sekali.
"Naskah baru dong!" sambar Andi.
"Bagus atau lumayan atau kurang bagus atau bahkan jelek?" tanya Anto lagi tetap tanpa menyentuh naskah Andi.
"Pasti bagus!" yakin Andi pada Anto.
"Kalau pasti bagus, ya sudah, kirim aja. Nggak usah tanya pendapatku," celetuk Anto sekenanya.
"Yeee...dimintai tolong temen kok pelit banget sih!" protes Andi dengan nada kesel.
Bayangin aja! (harus bener-bener dibayangin, ya)
Waktu berangkat daari rumahnya menuju rumah Anto saja, perjalanan Andi penuh perjuangan. Baru sampai di depan gang rumahnya, Andi melihat Bang Joni (nama aslinya sih Yono, tapi karena lama di Jakarta dia rubah namanya jadi Joni. Kenapa bukan Yoni? Ya...klo Yoni kan kalah keren. Tapi Joni....wah nama orang gedongan tuh!)
Nah, pas melihat Bang Joni si tukang kredit itu, Andi langsung saja balik lagi ke rumahnya dan ngumpet sampe Bang Joni yang manggil-manggil namanya bosen dan meninggalkan rumahnya. Nggak perlu dong dikasih tahu alasan kenapa Andi harus kabur dari Bang Joni.
Yang kedua yang harus dialami Andi adalah begitu lolos di gang pertama, Andi masih harus bertemu dengan Juminten yang jualan jamu. Melihat Juminten yang agak-agak centil ini, Andi pun harus ngumpet di balik pohon sawo milik Pak Haji Safii. Baru setelah Juminten lewat, Andi buru-buru lari menuju rumah Andi.
Klo masalah, Juminten, sebenarnya, Andi nggak punya utang meski sering minum jamu tanpa bayar. Masalahnya adalah Andi udah kadung janji akan nikahin Juminten sejak Lebaran tiga tahun lalu. Nah itulah yang bikin Andi jadi malu hati klo harus ketemu sama Juminten.
Sedang perjuangan ketiga adalah Anjing milik Baba Liong. Anjing ini sebenarnya bukan anjing pengganggu. Tapi setiap kali Andi yang punya badan kurus kerempeng mirip tengkorak berjalan itu lewat di depan hidungnya, Anjing yang punya nama keren "Boy" ini selalu dengan semangat 45 berlari mengejar Andi. Kontan saja, Andi harus pontang-panting lari menyelamatkan diri sampai-sampai sandal jepitnya putus.
Setelah berhasil melewati tiga rintangan menuju rumah Anto, akhirnya Andi berhasil menyentuh gagang pintu rumah Anto dan kejadian selanjutnya pasti sudah pembaca ketahui bersama seperti yang sudah diceritakan di paragraf awal.
"Nah, jadi gimana?" tanya Andi lagi.
"Apanya yang gimana?" Anto balas bertanya.
"Makanya, dilihat dulu dong naskahku. Jangan cuman tanya-tanya melulu," Andi memprotes.
Sekilas Anto akhirnya membaca naskah yang disodorkan sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian, Anto berkata, "Beberapa kali aku membaca karya penulis asing untuk menambah pengetahuanku dalam menulis cerita anak.
Karena keterbatasan pemahaman linguistik anak-anak, saat menulis cerita anak kadang kita tak leluasa membuat gaya bahasa seperti layaknya karya sastra untuk orang dewasa.
Oleh karena itu, pemilihan kata untuk anak mesti diperhatikan, sehingga kesederhanaan kalimat sering kita tampilkan. Tapi, kesederhanaan yang kamu buat juga mesti berbobot.
Aku pernah membaca beberapa tips dan trik yang bisa digunakan untuk memberikan "warna" pada buku cerita anak.
Yang pertama adalah membuat perumpamaan dengan kacamata anak-anak. Contohnya, Rida paling tidak suka melihat Tante Lina berpakaian. Tempo hari, Tante Lina sangat mirip terong raksasa yang bisa berjalan. Dari topi sampai sepatunya berwarna ungu tua. Iiiiii, padahal Rida paling malas melihat yang namanya terong.
Bisa kamu bayangin, kan gimana terong ungu berjalan?
Atau contoh lainnya, kamu bisa bikin kalimat seperti ini, Muka Doni pucat. Tiwi langsung ingat udang goreng yang disediakan ibu semalam di meja makan.
Atau yang lain seperti ini. Andi bertubuh kurus. Kurus sekali hingga disangka tengkorak jalan-jalan. Kalo orang menertawakan Andi karena mirip tengkorak, maka Anjing seringkali mengejarnya karena disangka tulang yang siap untuk dimakan," jelas Anto pelan-pelan.
"Wooooi!! Nggak usah pakai fisik dong. Gue emang kurus, tapi jangan dipakai untuk contoh!" protes Andi yang nggak terima fisiknya dijadikan bahan omongan.
"Lho...kan aku ngasih contoh nyata biar kamu lebih mengerti," Anto pun membela diri.
"Ya, udah nggak usah pakai fisik deh sekarang. Trus apalagi yang bisa kamu jelaskan?" tanya Andi akhirnya.
"Oke. Yang kedua adalah mendefinisikan istilah dengan polos. Contohnya aku ambilkan dari buku Konrad.
Kak Wita tadi bercerita soal pelajaran barunya di kelas pada Ibu.
Katanya, ada pelajaran tentang akar-akaran. Tapi yang kudengar bukan akar tumbuhan, tapi akar angka. Katanya, akar 16 itu 4, akar 100 itu 10. Aku bingung. Kalau akar sejuta mungkin pohonnya besar sekali.
Atau Lo bisa ambil contoh yang lain. Tentang Paparazi misalnya. Kamu bisa bikin dialog seperti,
Paparazi itu siapa sih, Oom? Pasti Indo ya? Namanya aneh. Trus, istrinya dipanggil Mama Razi, ya?
Nah, hal-hal seperti itu yang mungkin bisa menambah 'warna' pada naskah atau buku anak-anak kamu.
Senin, 26 Mei 2008
Young Adult
Young Adult
"Wah, leganya!" kata Anto.
"Gimana, nih? Ada nggak genre lain lagi?" tanya Andi.
"Masih ada, dong! Ini yang terakhir dan habis ini elo boleh langsung praktek atau langsung pulang terserah elo!" kata Anto.
"OKe! Genre yang terakhir adalah Young Adult!" teriak Anto sambil senyam-senyum melihat Andi yang melotot padanya karena tebakan asal-asalannya disebut sebagai genre terakhir oleh Anto.
"Young Adult ini adalah genre untuk anak usia 12 tahun ke atas. Panjang naskahnya antara 130 sampai 200 halaman.
Plot ceritanya bisa sangat "ruwet" dengan banyak karakter utama, meskipun tetap ada satu karakter yang difokuskan.
Tema-tema yang diangkat seringnya relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Buku The Outsiders karta S.E. Hinton menjadi tonggak sejarah buku cerita anak di genre ini yang menceritakan permasalahan remaja saat itu ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 1967.
Kategori new-age untuk usia 10 hingga 14 tahun juga perlu diperhatikan, terutama untuk buku-buku kelompok nonfiksi remaja.
Buku-buku di kelompok ini sedikit lebih pendek dibanding untuk kelompok usia 12 tahun ke atas, serta topik yang biasa diambil adalah fiksi dan nonfiksi itu lebih cocok untuk anak-anak yang telah melewati buku genre middle grade, tetapi belum siap membaca buku-buku fiksi atau belum mempelajari subjek nonfiksi yang materinya fitujukan untuk pembaca di kelas sekolah menengah.
Begitu. Nah, sekarang terserah deh kamu mau ngapain," kata Anto pada sahabatnya yang kelihatan mringas-mringis itu.
"A...a..aku.....aku mau nge-bom!!" teriak Andi yang langsung melesat secepat kilat menuju kamar mandi untuk nge-bom alias BAB.
"Dasar JOROK!!!!!!" teriak Anto.
Kamis, 22 Mei 2008
Middle Grade
Middle Grade
Setelah seteko kopi panas tersaji di atas meja, Anto mulai melanjutkan lagi penjelasannya tentang kopi..eh, sori tentang genre buku.
"Setelah beberapa genre buku yang sudah aku jelasin, masih ada jenis genre buku yang lain. Yaitu Middle Grade.
Genre ini untuk anak usia 8 sampai 12 tahun yang merupakan usia emas anak dalam membaca. Naskahnya lebih panjang, sekitar 100 sampai 150 halaman deh.
Ceritanya juga mulai kompleks juga, sama dengan Chapter Books. Di Middle Grade ini bagian-bagian sub-plot menampilkan banyak karakter tambahan yang berperan penting dalam jalinan cerita dan tema-temanya cukup modern.
Anak-anak di usia ini biasanya mulai tertarik dan mengidolakan karakter dalam cerita. Hal ini menjelaskan keberhasilan beberapa seri petualangan yang terdiri dari 20 atau lebih buku dengan tokoh yang sama.
Kelompok fiksinya beragam mulai dari fiksi kontemporer, sejaran, hingga sience-fiction atau petualangan fantasi. Sementara yang masuk kelompok nonfiksi antara lain biografi, iptek, dan topik-topik multibudaya."
"Tunggu," kata Andi, "Makin ke sini, kok makin aneh dan ribet genrenya? Ntar lama-lama bakal ada genre Young Adult segala".
"Ya...genre buku itu kan disesuaikan dengan genre atau tingkatan dan untuk siapa pembacanya, makanya.....hop!" teriak Anto yang melihat Andi mau menyela omongannya lagi.
"Ntar kita lanjutin, sekarang gantian gua yang mau pipis," kata Anto sambil langsung lari ke kamar mandi.
bersambung....
Senin, 12 Mei 2008
Chapter Books
Chapter Books
Setelah selesai mengeluarkan persediaan pipis di kantong kemihnya, Andi duduk kembali dan makan pisang goreng di atas meja (lho..bukannya pisang gorengnya dah habis di cerita ketiga? Kok sekarang nongol lagi? Tenang aja, soalnya, waktu Andi pipis, ada tukang gorengan lewat dan Anto membeli beberapa pisang goreng untuk menemani mereka ngobrol).
"Eh. elo nggak nanya dari mana pisang goreng yang barusan elo makan?" tanya Anto.
"Nggak perlu, ah! Kan, pembaca dah pada tahu sendiri. Barusan baca penjelasannya, kan?" jawab Andi sekenanya. "Udah deh lanjutin soal genre buku ini".
"Genre buku selanjutnya," kata Anto membuka penjelasannya kembali. "Adalah Chapter Books. Buku ini diperuntukkan bagi anak usia 7 hingga 10 tahun, terdiri dari naskah setebal 45-60 halaman yang dibagi dalam tiga hingga empat halaman per bab.
Kisahnya lebih padat dibanding genre transition books, walaupun tetap memakai banyak ramuan aksi petualangan.
Kalimat-kalimatnya mulai sedikit kompleks, tapi paragraf yang dipakai pendek (rata-rata 2-4 kalimat). Tipikal dari genre ini adalah cerita di akhir setiap bab dibuat menggantung di tengah-tengah sebuah kejadian agar pembaca penasaran dan terstimulasi untuk terus membaca bab-bab selanjutnya.
Serial Herbie Jones karangan Suzy Kline (Puffin Publishing) dan Ramona karya Beverly Cleary (Morrow Publishing) dikatakan masuk dalam genre buku anak ini."
"Udah, nih?" tanya Andi. "Sip dah. Klo masih ada lagi, buruan lanjutin penjelasannya biar sekalian tuntas"
"Buruan gundulmu itu, kopi dah habis nih. Bikin dong!" pinta Anto.
"Yeeee.... yang jadi tuan rumah kan situ. Ngapain aku harus bikinin kopi," protes Andi yang langsung disambit pisang goreng oleh Anto, kali ini pas kena di mulutnya.
"Woooke...woooke...wuaku wuighhinin ghoofi whhuak whhamhhu," kata Andi yang mulutnya masih keganjel pisang goreng anget. Maksud omongannya yang nggk karuan sih begini : "OKE-OKE! AKU BIKININ KOPI BUAT KAMU!'
bersambung....
Rabu, 07 Mei 2008
Transition Books
Transition Books
Setelah Anto benar-benar nggak nyemburin kopi ke mukanya lagi, Andi kembali duduk dengan tenang (sebenarnya sih nggak tenang-tenang amat. Soalnya kakinya masih siap siaga untuk melompat apabila Anto menyemburkan sesuatu dari mulut atau nyambitin sesuatu dari tangannya).
"Terusin deh, Nto," pinta Andi akhirnya.
"Oke. Tapi nggak usah pegangan kursi gitu dong. Santai aja," kata Anto. Setelah Andi terlihat benar-benar santai baru Anto melanjutkan penjelasannya.
"Nah, genre buku selanjutnya adalah Transition Books. Buku jenis ini disebut juga sebagai "chapter book tahap awal", untuk anak usia 6-9 tahun. Merupakan jembatan penghubung antara genre easy readers dan chapter books.
Gaya penulisannya persis serperti easy readers, namun lebih panjang (naskah biasanya sebanyak 30 halaman, dipecah menjadi 2-3 halaman per bab), ukuran trim per hlamannya lebih kecil lagi, serta dilengkapi dengan ilustrasi hitam-putih di beberapa halaman.
Serial The Kids of the Pols Stret School karya Patricia Reilly Giff (Dell Young Tearling Publishing) dan seri Stepping Stone Books yang diterbitkan Random House masuk dalam kelompok genre ini," kata Anto sambil meminum lagi kopi di atas meja yang langsung membuat Andi bersiap siaga lagi untuk mengeluarkan jurus langkah seribu nya.
"Eh, mau kemana Lo?" tanya Anto.
"Mau pipis dulu, ntar dilanjutin lagi, ya," jawab Andi sambil ngibrit ke kamar mandi karena udah nggak tahan pengin pipis.
bersambung...
Sabtu, 03 Mei 2008
Easy Readers
Easy Readers
"Wah...sadis banget sih!" teriak Andi sambil kalang kabut menghindar dari muncratan kopi yang keluar dari mulut Anto.
Setelah menyeka mulutnya, Anto pun balik menyemprot sahabatnya yang nggak tahu diri itu, "Nah, elo yang sadis. Orang dari tadi dah ngecap kesana-kemari, bukannya disimak malah pikiranmu itu kemana-mana. Trus minta diulangi lagi, kan capek aku!"
"Ya, deh...sori dori mori," kata Andi seperti biasa kalau meminta maaf. "Lanjutin aja deh penjelasannya"
Setelah menenangkan hatinya yang rada mangkel, Anto akhirnya mau melanjutkan lagi penjelasannya mengenai genre buku anak. "Oke, selanjutnya...ada genre yang disebut Easy Readers".
Wah, bagus itu. Kalo yang begituan aku tahu," serobot Andi sambil nunjuk-nunjuk muka Anto. "Aku paling suka nonton itu"
Anto yang kebingungan makin bingung, "Nonton? Nonton apaan?"
"Ya...itu tadi. Film Knight Rider, kan?!" kata Andi dengan penuh keyakinan.
Untung Anto nggak lagi minum kopi, klo saja dia sedang minum kopi, tentu adegan sebelumnya pasti terulang lagi. Dan kali ini, kebetulan Anto sedang memegang pisang goreng yang tinggal separo dan mendengar jawaban Andi langsung saja tangannya reflek melempar pisang itu pas nempel di hidung Andi yang langsung aja gelagepan karena nggak bisa napas.
"Dasar kacau elo, Ndi! Yang gua bilang Easy Rider bukannya film Knight Rider yang moncong mobilnya bisa kelap-kelip itu!" sembur Anto. "Udah deh jangan motong omonganku dulu."
"Easy Rider yang gue bilang tadi dikenal juga dengan sebutan easy to read. Buku-buku genre ini biasanya untuk anak-anak yang baru mulai membaca sendiri (usia 6-8 tahun). Masih tetap ada ilustrasi berwarna di setiap halamannya, tapi dengan format yang sedikit lebih "dewasa": ukuran trim per halaman bukunya lebih kecil dan ceritanya dibagi dalam bab-bab pendek. Tebal buku biasanya 32-64 halaman dan panjang teksnya beragam antara 200-1.500 kata, atau paling banyak 2.000 kata.
Cerita disampaikan dalam bentuk aksi dan percakapan interaktif, menggunakan kalimat-kalimat sederhana (satu gagasan per kalimat). Biasanya ada 2-5 kalimat di tiap halaman. Seri I Can Read yang diterbitkan Harper Trophy merupakan contoh terbaik buku genre ini.
Nah, sudah dicatat belum? Atau mau aku semprot lagi pakai air kopi?" tanya Anto yang tersenyum kegelian melihat Andi yang ketakutan dan bersiap mengambil ancang-ancang untuk lari dari semburan kopi.
bersambung....
Rabu, 16 April 2008
Memahami Genre Buku Cerita Anak #3
Setelah membersihkan meja yang kotor, Anto pun duduk kembali menemani sahabatnya yang haus akan informasi itu.
"Nah, jadi bagaimana?" tanya Andi tidak sabar.
"Yaelah, baru juga duduk. Kasih napas dulu, dong!" sahut Anto sambil terrtawa.
"Oke, setelah dua genre yang sudah kusebutkan tadi, genre yang ketiga adalah Early Picture Books. Genre ini...," belum selesai Anto berbicara, Andi langsung menyambar. "Wah, ngaco nih! Mentang-mentang awalnya ada Picture Books, trus selanjutnya kamu bikin ada ilernya picture books. Ntar, lama-lama ada pipisnya atau ompolnya picture books lagi".
"Lho?! Siapa yang ngomongin iler?" tanya Anto kebingungan.
"Wah, jangan anggap aku orang bodoh, Nto. Biar gini-gini aku masih ada turunan einsten lho," sesumbar Andi yang tentunya makin nunjukkin (waduh nggak tega ngomongnya neh!). Pokoknya tahu sendiri lah!
"Aku kan tadi ngomong early bukan iler. Dan itu aku nggak mengada-ada. Memang dari yang pernah aku baca, genre buku cerita anak ya...kayak gitu," jelas Anto.
"Ya, terserah deh! Lawan kamu gua pasti kalah!" kata Andi.
Anto yang mendengar sahabatnya itu nggak mau tahu cuman geleng-geleng kepala. "Nggak ilang-ilang adat yang sok tahu dari anak ini," batin Anto, tapi kemudian mulutnya berkata, "Oke! Aku lanjutin nih. Genre Early Picture Books ini sebentuk dengan picture books. Namun, dilengkapi sedemikian rupa untuk usia-usia akhir di batas 4 hingga 8 tahun.
Ceritanya sederhana dan berisi kurang dari 1.000 kata. Banyak buku genre ini yang dicetak ulang dalam format board book untuk melebarkan jangkauan pembacanya.
The Very Hungry Caterpilar (Philomel Publishing) karya Eric Carle adalah salah satu contohnya".
"Nah, gimana? Dah paham?" tanya Anto sambil menghirup lagi secangkir kopi panasnya.
"Ya..lumayanlah. Cuman tunggu dulu ya. Aku mau nyatet keterangan kamu tadi biar bisa kuhapal dan kubaca lagi kalau aku perlu. Coba ulangi lagi dari awal penjelasanmu," pinta Andi sambil mencari kertas dan pena, sedangkan Anto yang mendengar permintaan Andi langsung saja tersedak dan akibatnya muncratan air kopi dari mulutnya nyampe juga ke wajah Andi (wuih...sadis banget, gimana rasanya kena muncratan kopi dari mulut gitu, ya? Tapi sengaja tidak digambarkan disini, biar nggak pada muntah. Tapi klo mau ngebayangin sendiri juga nggak papa kok. He.he.he.he...)
Bersambung
Minggu, 06 April 2008
Memahami Genre Buku Cerita Anak #2
Picture Books
Setelah memakan habis kedua potong sisa singkong rebus itu, Andi kembali menagih janji pada Anto.
"Ayo, Nto. Apalagi genre buku yang lain?" desak Andi.
"Sabar, dong. Minum juga belum? Keselek nih!" protes Anto yang segera minum kopi dari teko di depannya.
"Bruaaaahhh!" sembur Anto ke wajah Andi yang langsung loncat-loncat karena wajahnya kena sembur kopi panas.
"Woi! Gimana seh, masa wajah sahabat sendiri disembur pakai kopi panas!" protes Andi.
"Sori dori mori ketabrak lori di pagi hari, Ndi. Baru terasa panas banget setelah kopinya masuk mulut," jawab Anto dengan penuh penyesalan.
"Sori dori nggak tahu diri!" Balas Andi. "Makan singkong rebus panas, mulut kamu kuat, kenapa minum kopi panas jadi nggak kuat?"
"Ya, makan dan minum kan dua hal yang berbeda. Sudahlah, kita lanjutkan penjelasannya," kata Anto sambil membersihkan semburan kopi panasnya yang tumpah di sekitar meja.
"Oh ya, yang kedua yang masuk dalam genre buku cerita anak adalah Picture Books. Pada umumnya, picture books berbentuk buku setebal 32 halaman untuk anak usia 4-8 tahun. Naskahnya bisa mencapai 1.500 kata, namun rata-rata 1000 kata saja.
Plotnya masih sederhana, dengan satu karakter utama yang seutuhnya menjadi pusat perhatian dan menjadi alat penyentuh emosi dan pola pikir anak. Ilustrasi memainkan peran yang sama besar dengan teks dalam penyampaian cerita. Buku anak pada genre ini bisa menggunakan lebih dari 1.500 kata, biasanya sebagai persiapan bagi pembaca yang memasuki masa-masa puncak di spektrum usianya.
Buku genre ini sudah membicarakan topik serta menggunakan gaya penulisan yang luas dan beragam. Cerita Nonfiksi dalam format ini dapat menjangkau sampai usia 10 tahun, dengan tebal sampai 48 halaman, dan berisi hingga 2.000 kata dalam teksnya".
"Hem...aku mulai banyak tahu nih. Masih ada lagi?" tanya Andi.
"Masih dong! Cuman ntar dulu ya. Aku bersihin meja ini dulu biar enak kita ngobrolnya," jawab Anto sambil mengelap meja yang kotor kena tumpahan kopi tadi.
Bersambung.......
Memahami Genre Buku Cerita Anak #1
Baby Books
Setelah bertemu secara tidak sengaja dengan Boim Lebon, Andi sekarang kembali mau mendengar kritik dan saran dari orang lain, terlebih dari Anto, sahabatnya yang sedari awal membantu dan mendampingi Andi dalam meniti cita-citanya sebagai seorang penulis cerita anak.
"Nto, aku minta maaf, ya. Sekarang aku mau mendengar lagi saran dan kritikmu," kata Andi setelah masuk ke rumah Anto.
Anto hanya tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu.
"Ya, aku sudah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Lagian, nggak ada yang perlu dimaafkan. Perasaan kamu bahwa tidak perlu meminta saran orang lain lagi terkadang memang diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri kita," kata Anto panjang lebar sambil menambahkan, "Aku sendiri terkadang juga langsung mengirim naskah tanpa bertanya pada siapapun. Kuanggap semua proses dari pembuatan sampai editing yang kulakukan telah maksimal. Dan hasilnya, ada yang langsung dimuat dan ada pula yang dikembalikan tentunya dengan catatan-catatan tambahan."
"Iya juga sih. Aku merasa bahwa selama ini aku sudah banyak tahu tentang buku cerita anak, ternyata masih banyak yang aku belum ketahui," keluh Andi.
"Aku merasa sudah mengetahui perbedaan dan genre yang ada dalam buku cerita anak, tapi sebenarnya, aku juga masih bingung, masuk ke kategori apakah cerita yang sedang aku kerjakan itu," makin panjang keluhan Andi.
Seperti biasa, Anto hanya tersenyum dan sembari meletakkan singkong rebus dan kopi panas, Anto berkata, "Kalau kamu masih mau mendengar penjelasanku, aku ada beberapa informasi yang ingin kubagi denganmu".
"Tak perlu menyindirku begitu, Nto. Kalau ada informasi, langsung saja kasih tahu aku. Aku sudah malu untuk bertanya," kata Andi.
"Oke. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memasukkan ke dalam kategori atau ke dalam genre apa cerita yang kau buat. Yang aku tahu, genre dalam buku cerita anak itu terbagi beberapa genre.
Yang pertama, adalah Genre Baby Books.
Genre ini diperuntukkan bagi bayi dan batita atau bawah tiga tahun. Kebanyakan materinya berupa pantun dan nyanyian sederhana atau bahasa inggrisnya lullabies and nirsey rhymes, bisa juga permainan dengan jari, atau sekedar ilustrasi cerita tanpa kata-kata sama sekali. Kalau yang model cerita tanpa kata-kata berarti sepenuhnya mengandalkan ilustrasi serta kreativitas orang tua dan anak untuk berimajinasi.
Panjang cerita dan formatnya beragam, disesuaikan dengan isi materi. Buku-buku untuk batita biasanya berupa cerita sederhana berisi kurang dari 300 kata. Ceritanya terkait erat dengan keseharian anak, atau bermuatan edukatif tentang pengenalan warna, angka, bentuk, dan lain-lain."
Anto menghentikan penjelasannya dulu untuk menyeruput kopi panasnya dan mengambil sepotong singkong rebus sembari tak lupa mempersilahkan Andi untuk mengambilnya.
"Terima kasih," kata Andi sambil melanjutkan, "Berapa jumlah halaman yang diperlukan bagi buku bergenre Baby Books? Apakah sama dengan novel cerita anak yang kubuat kemarin?"
"Tentu saja tidak," jawab Anto. "Jumlah halaman bagi Baby Books sekitar 12 dan banyak yang berbentuk board books, maksudnya buku yang kertasnya sangat tebal, seperti karton itu, lho. Kemudian ada yang berbentuk pop-ups...," belum selesai Anto menjelaskan, Andi sudah menyela. "Pop Corn? Emang ada genre buku yang menghasilkan makanan Pop Corn, kayak mau nonton bioskop aja, dikasih Pop Corn?"
"Bukan Pop Corn, tapi Pop-Ups. Makanya dengerin yang bener, jangan makan mulu. Kebanyakan makan, kupingmu jadi kesumpet tuh," semprot Anto yang kesal karena singkong rebusnya tinggal dua potong lagi. Padahal, Anto tadi menyiapkan sebanyak 12 potong, jadi, sudah 9 potong yang dimakan Andi dalam keadaan panas ngebul-bul.
Setelah Andi minta maaf dan dua potong singkong rebus itu dipindah Anto ke sebelah tempat duduknya, Anto kembali melanjutkan penjelasannya. "Maksudnya Pop-Ups itu adalah buku yang halamannya berbentuk tiga dimensi.
Selain itu, ada juga Lift-the Flaps atau buku-buku khusus seperti buku yang dapat bersuara, buku yang memiliki format unik atau dengan tekstur tertentu".
"Terus yang lainnya, apa?" tanya Andi.
"Ntar dulu deh. Aku makan sisa singkong rebus ini dulu. Ntar baru aku tambahin penjelasannya," Jawab Anto yang segera memasukkan kedua potong sisa singkong rebus yang masih panas itu ke dalam mulutnya. (Wah, ternyata Andi dan Anto sama-sama doyan singkong rebus yang masih panas ngebul-ngebul. Nggak mlonyot apa tuh bibir mereka, ya)
Bersambung....
Senin, 24 Maret 2008
Kesederhanaan dalam Cerita Anak
Kali ini, kata pembukanya adalah 'Dalam perjalanan'. Nah, silahkan disimak!
Dalam perjalanan ke sebuah penerbit, Andi dan Anto terlibat dalam sebuah obrolan yang seru di dalam angkot.
"Ndi, cerita yang mau kamu kirim tentang apaan, sih?" tanya Anto sambil mencomot kripik pisang dari tangan Andi.
"Ya, cerita yang spektakuler pokoknya. Kalo nggak gitu, aku nggak pede buat ngirim cerita ini," jawab Andi dengan bangga sambil mengacungkan amplop berisi naskah ceritanya.
"Wah, yakin nih, ceritanya heboh banget?" tanya Anto lagi, "Boleh aku lihat?"
"Boleh aja. Tapi sori dori mori, ya, aku nggak terima koreksi dan kritik saat ini," ucap Andi mantap.
"Lho, kenapa begitu?" Anto jadi heran.
"Soalnya, klo terus ndengerin koreksi dan kritik kamu, aku nggak bakalan maju-maju. Sebab, setiap kali aku mau kirim naskah, kamu selalu bilang naskahku kurang inilah, kurang itulah dan ujung-ujungnya aku nggak jadi ngirim cerita anak ini ke penerbit," jelas Andi.
Anto hanya tersenyum mendengar alasan Andi. "Ya, kalau kritiknya membangun dan membuat cerita anak itu menjadi lebih baik, nggak pa-pa toh?"
"Betul itu, tapi aku juga ingin dengar alasan dari pihak lain. Semacam second opinion, lah," tegas Andi.
'CIT!!!!' Angkot tiba-tiba berhenti dan amplop cerita anak itupun terlepas dari tangan Andi. Sebagian isinya berserakan keluar dari amplopnya.
"Woi!! Gimana sih abang sopir ini. Ngerem kok mendadak gene," teriak Andi yang kesal karena naskah cerita anaknya jadi berhamburan.
"Maaf, Oom," kata sopir angkot sambil cengar-cengir. (Dasar sopir angkot, bukannya nyesel malah cengar-cengir. Coba klo karena sikapnya ngerem mendadak itu kemudian ada kendaraan di belakangnya yang kaget dan celaka, kan jadi berabe urusannya.
Sebuah tangan turut membantu memunguti kertas yang berserakan itu. "Saya bantu ya, dik," kata pemilik tangan itu.
Sekilas, Andi dan Anto memandang penumpang di depan mereka. Orang itu berperawakan pendek dengan kulit hitam dan rambut kribo, dari wajahnya aja bisa mengundang kita untuk tersenyum dan tertawa. Cerah banget! (Emang matahari, cerah).
"Oh, terima kasih, ya, pak," kata Anto akhirnya.
Sesaat, orang itu membolak-balik kertas cerita anak milik Andi, seperti orang yang membaca dengan cepat sambil menata dan mengurutkan sesuai nomor halamannya.
"Ini cerita anak, ya?" tanya orang itu sambil menyerahkan tumpukan kertas yang sudah disusunnya kepada Anto.
"Betul, pak. Naskah itu milik teman saya ini," jawab Anto. "Gimana, pak? Bagus ndak ceritanya?" todong Anto yang rupanya memergoki bahwa orang yang membantu mengumpulkan naskah itu sempat membaca beberapa halaman cerita anak milik Andi.
"Wah, ketahuan, ya, klo saya membaca sekilas naskah milik temanmu. Jadi malu saya?" kata orang itu dengan mimik memelas meminta maaf.
"Nggak pa-pa, kok, pak. Semakin banyak pendapat, kan semakin baik," kata Anto sambil melirik Andi dengan pandangan yang seolah berkata 'Nih, dengerin pendapat orang lain selain aku'.
"Menurut saya, naskah tadi sekilas cukup bagus. Cuman ceritanya masih kurang terbangun dengan baik," kata orang berambut kribo itu.
"Maksudnya, pak?" tanya Andi yang penasaran karena orang yang dianggapnya pendek dan dekil itu berani mengkritik cerita anak miliknya.
"Begini, seperti fiksi secara umum, cerita untuk anak atau kita sebut saja fiksi anak juga dibangun oleh beberapa unsur.
Yang pertama adalah Tema. Sebuah tema yang tepat untuk fiksi anak adalah yang menghibur, mendidik dan inspiratif.
Yang kedua, Penokohan. Dalam fiksi anak, jumlah tokoh jangan terlalu banyak. Kita bisa membatasi dengan 1-4 tokoh utama dan 5 pendukung. Kalo terlalu banyak akan membingungkan pembaca dalam menghapal dan memahami si tokoh.
Yang ketiga, Alur. Menurut saya, bacaan yang mengasikkan adalah yang alur ceritanya mengalir. Untuk itu, seorang penulis biasanya membangun peristiwa ke peristiwa yang lain saling berkaitan hingga akhir cerita. Dalam alur, kita akan menemukan pembukaan, konflik, klimaks, dan anti klimaks.
Yang keempat, Setting. Latar atau setting fiksi anak barangkali hal yang paling luas di dunia fiksi. Dengan imajinasi yang luas, fiksi anak nyaris tak memberi batasan. Kita bisa membuat dongeng tentang kehidupan makhluk di bawah air terjun atau yang lainnya. Selain latar tempat, latar waktu juga bisa kita akali. Walau pada kenyataannya, fiksi anak Indonesia lebih banyak menggunakan setting modern dan sekolah yang mungkin disebabkan karena kedekatan geologis dan waktu terhadap pembacanya yang anak-anak.
Yang kelima, meski yang terakhir tapi juga sangat penting adalah Trik. Setiap penulis pada akhirnya harus memiliki style atau gaya dalam menulis. Hal ini berkaitan dengan citra penulis itu sendiri nantinya. Seorang penulis yang mempunyai gaya atau style bercerita yang lain dengan penulis kebanyakan biasanya akan selalu diingat dan lebih mendapat tempat di hati pembacanya. Penulis juga harus mampu memahami dan membuat trik dalam bercerita, sehingga cerita dengan tema sesederhana apa pun jadi menarik untuk dibaca.
Silahkan Anda mencermati beberapa karya penulis fiksi anak ternama, misalnya Enid Blyton, Wendo, Astrid, Benny Rhamdani, Ali Muakhir dan yang lainnya. Dari situ kita akan dengan mudah menemui trik mereka dalam bercerita hingga mampu memikat dan dengan banyak melatih menulis, trik bercerita akan makin terasah dan tertanam.
Mungkin itu saja yang bisa saya sharing saat membaca naskah cerita anak milik Anda tadi," dengan lancar, jelas dan gamblang orang berperawakan pendek, dekil dan berambut kribo itu berbicara, sampai-sampai Anto dan Andi melongo dibuatnya.
"Kiri, pak sopir," teriak orang itu sambil tersenyum kepada Andi dan Anto. "Saya turun disini dulu ya. Sampai ketemu di lain waktu."
Sebelum orang itu turun Anto buru-buru bertanya, "Siapa nama Bapak?"
Tapi orang itu hanya tersenyum dan terus turun dari angkot.
Setelah angkot berjalan kembali, Andi melihat sebuah kartu nama yang nampaknya terjatuh dari saku jaket orang tadi. Andi memungutnya dan membaca nama yang tertera di kartu nama itu.
"Boim Lebon," ucap Andi dan Anto berbarengan.
Senin, 17 Maret 2008
Bahasa untuk Cerpen Anak
Anto yang menemani disebelahnya tentu saja terkejut dan meloncat sejauh 10 meter ke samping (weleh, emang punya ilmu meringankan tubuh, hingga bisa loncat sejauh itu?).
"Apaan sih, Ndi? Ngagetin orang aja," omel Anto.
"Sori deh, gue lagi bingung nih, Nto," keluh Andi.
"Bingung apa lagi, bilang dong ama gue," kata Anto.
"Gue malu kalo tanya melulu ama loe," kata Andi yang mukanya memerah karena malu.
"Busyet dah! Ngomong malu aja sampai wajah loe memerah kayak gadis mau dikawinin aja," tawa Anto pun berderai. "Coba ngomong dulu apa masalahnya, ntar kita pecahin bersama biar loe nggak bingung lagi."
"Kita? Loe kali, gue kagak," sambar Andi yang menirukan gaya ruben di acara Mamamia setiap kali mendengar kata KITA.
"Ya, terserah loe aja deh, yang penting ngomong dulu apa masalahnya," kata Anto kalem.
"Gini, Nto. Gue kan bikin cerita anak lagi dan udah gua kirim, tapi naskah itu dibalikin lagi dengan alasan bahasa gue nggak sesuai. Nah, gue kan bingung, emang bahasa yang benar itu kayak apa? Selama ini gue kirim naskah ke tempat lain selalu oke-oke aja," kata Andi akhirnya.
"Selama ini kamu kirim naskah, semuanya dimuat atau diterbitkan?" tanya Anto sebelum menjawab keluh kesah sahabatnya itu.
"Ya, nggak lah. Kan, loe tahu sendiri baru sekali naskah gue dimuat," sembur Andi agak emosi karena mengira Anto mengejeknya.
"Nah, itulah. Mental kamu itu bisa kubilang mental yang lembek. Kena rintangan sesekali aja udah ngeluh, udah nyerah. Tetap berjuang, dong! Semangat!" kata Anto.
"Loe yang tinggal ngomong, enak! Nah gue yang harus ngejalaninnya ini yang bingung, ujung-ujungnya pusing deh. Klo loe bisa ngomong kayak gitu, emang loe tahu bahasa yang seperti apa yang mereka mau?" tanya Andi dengan gaya menantang.
Anto yang udah hapal lagak dan lagu sahabatnya itu senyam-senyum aja sambil mengatakan, "Gue sih bukannya paranormal yang bisa tahu keinginan seseorang dari jarak jauh. Gue juga bukan peramal yang bisa mengatakan ini begini, ini begitu. Tapi gue, sekali lagi gue adalah orang yang suka membaca dan hal ini sudah seringkali gue sarankan sama loe. Sering-seringlah membaca untuk menambah wawasan dan kemampuanmu dalam menulis.
Jangan puas dan berhenti belajar hanya karena satu naskah kamu sudah dimuat oleh media cetak. Hidup ini adalah pembelajaran, mulai kecil sampai kita mati nanti kita harus tetap belajar.
Nah, seperti yang pernah aku baca, di blog Penulis Cerita Anak, bahasa untuk cerita anak adalah bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak. Sederhananya pergunakan bahasa yang biasa digunakan oleh anak-anak agar mereka mengerti dan mudah mencerna cerita kita.
Sementara itu, dari millis Penulis Bacaan Anak, dibilang bahwa bahasa adalah kaca pada jendela. Ide dan cerita adalah pemandangan di luar sana. Jadi, kita harus terus berlatih menulis untuk mencapai tingkat yang baik dalam berbahasa, khususnya bahasa tulis.
Cara lainnya agar kemampuan bahasa tulis kita meningkat adalah memperbanyak kuantitas bacaan kita. Semakin banyak kita membaca, akan kian banyak pula kosakata yang kita serap. Dengan melatihnya dalam penulisan, akan semakin meningkat pula kemampuan kita dalam menata diksi.
Diksi bukan hanya sekedar untuk memilih kata yang tepat. Diksi juga bisa memperjelas ide. Bahkan, diksi juga bisa kita pakai untuk memperindah cerita. Jadi, perkata terus perbendaharaan kata yang loe miliki dan praktikkan dalam menulis.
Kalo maish mau belajar lagi coba ke blog Writer. Disitu juga banyak pembelajarannya, kok.
Gimana, paham nggak?" tanya Anto menutup penjelasannya.
Dan lagi-lagi seperti biasa, Andi hanya manggut-manggut kayak ayam matuk.
"Asyik! Gue sekarang dah ada ide untuk nulis cerita yang baru!" teriak Andi tiba-tiba yang kembali membuat Anto harus meloncat tinggi sejauh 10 meter lagi ke depan.
Kamis, 28 Februari 2008
Penulis Fiksi Anak Profesional
Nah, kebetulan saat Anto sedang menikmati Bakso langganannya, Andi juga berada di sana.
"Wah, sudah jadi orang terkenal nih. Susah banget buat ketemu," sindir Anto yang langsung duduk di sebelah sahabatnya itu.
"Sorry..dorry...morry, Nto. Gua lagi punya planning untuk menjadi seorang penulis fiksi anak profesional. Jadi gua harus bergaya seperti selebritis lain, dong. Diantaranya adalah menjadi susah untuk ditemui," jawab Andi enteng.
Anto yang mendengar jawaban sekenanya itu langsung tertawa ngakak. Untung Anto belum makan bakso, kalau sudah makan, bisa nyembur semua tuh bakso ke muka Andi.
"Lho, kenapa kamu ketawa ngakak kayak gitu? Kamu ngeremehin aku, ya?" Andi tersinggung melihat Anto yang ngakaknya nggak berhenti-henti.
Sambil memegang perutnya yang kram karena kelamaan ketawa, Anto meminta maaf pada Andi. "Aduh...sorry...dorry...morry...ketabrak lori di pagi hari ketika lari di rel kereta api," kata Anto membalas gaya bicara Andi yang sok gaul (tentunya plus diskon "ketabrak lori di pagi hari ketika lari di rel kereta api").
"Bukannya meremehkan kamu, Ndi. Cuman, jadi penulis profesional itu bukannya harus ngumpet sepanjang hari biar sulit ditemui. Justru, sebagai penulis profesional, kamu harus sering-sering ketemu penggemar agar kamu makin dikenal oleh pembaca dan bukumu bisa laris di pasaran. Kalau kamu ngumpet terus mana bisa dikenal pembaca," tambah Anto.
Andi terdiam sesaat (bukan terdiam mikir, tapi lagi ngunyah bakso urat segede bola tenis) mendengar kata-kata Anto.
"Kalau aku nggak ngumpet, terus gimana sikap penulis profesional yang sebenarnya?" tanya Andi.
"Soal menjadi penulis fiksi anak profesional yang pernah aku baca di sebuah millis itu ternyata mempunyai beberapa syarat.
Yang pertama dan paling utama adalah mengandalkan dunia menulis fiksi anak sebagai mata pencaharian pokok (sampingannya sebagai seleb, guru, atau mungkin direktur).
Yang kedua, produktif menghasilkan karya fiksi anak (tapi bukan untuk disimpan di harddisk doang).
Yang ketiga, mampu membuat karya yang bermutu tinggi (minimal tembus media, tingkatan lebih tinggi... bisa dapat penghargaan IKAPI atau Nobel).
Yang keempat, terampil (memahami sampai ha-hal yang kecil. Kasarannya nggak salah dalam penempatan tanda baca titik dan koma).
Yang kelima, mampu memilih tema dan bentuk fiksi anak yang menarik di pasar (Ya... cobalah jadi pioneer dalam sebuah tema cerita. Jangan selalu jadi pengekor)
Yang keenam, memiliki sarana yang lengkap (nggak nebeng di teman atau ke rental setiap hari).
Yang ketujuh, keterampilan bernegosiasi (dengan media cetak atau penerbit. Dan dalam hal ini, juga harus mampu membina hubungan)," panjang lebar Anto menjelaskan pada sahabatnya.
"Untuk menjadi seperti itu, aku harus bagaimana?" Andi makin bingung.
"Lha, tadi mengaku sudah menjadi penulis terkenal. Kok masih tanya caranya, sih?" goda Anto.
"Ya, bergaya doang boleh dong. Kan, biar nggak kaget klo nanti sudah jadi penulis profesional beneran," kelit Andi.
"Untuk bisa sampai ke sana, yang pertama kamu jangan pernah mengirimkan naskah yang tidak memiliki nilai jual.
Kenapa? Karena image penulis profesional kita mesti dibangun sejak awal.
Kemudian, kita harus aktif mengelola diri. Artinya, jangan cuma mengirim naskah lalu menunggu sampai lumutan. Tapi, cobalah untuk aktif berdiskusi dengan beberapa penulis fiksi anak, dan terus mencari celah diskusi dengan para editor media cetak atau penerbitan.
Hal ini bertujuan untuk membangun hubungan baik sekaligus mencari kelemahan diri dan menambah skill menulis kita dari masukan, saran dan kritik mereka," Anto kembali menambahkan penjelasannya tentang penulis profesional.
"Kalau sudah mengikuti semua yang kamu katakan, berarti aku sudah bisa menjadi penulis profesional, gitu?" kejar Andi dengan pertanyaan.
"Kalau kamu istiqomah, rajin dan pantang menyerah, InsyaAllah gelar penulis profesional akan berada di tanganmu," jawab Anto singkat.
"Dan, gua bisa jadi orang kaya, dong?" balas Andi dengan pertanyaan.
"Ya...kalau mau kaya sih tergantung pada banyak hal," Anto masih menjawab seadannya.
"Maksudnya?" lagi-lagi Andi bertanya.
"Ya...bagaimana gaya hidup kamu," jawab Anto yang langsung disambung, "STOP!! No more question!"
"Seberapa banyak penghasilanmu kalau gaya hidup dan pengeluaranmu lebih besar dari pendapatan, sampai kapanpun kamu tidak akan bisa kaya," Jawab Anto sambil meninggalkan sahabatnya (tentunya setelah membayar bakso yang dibungkus karena tidak jadi dimakan di tempat).
Jumat, 01 Februari 2008
Merajut Cerita dalam Novel
Lemparan pertama .... gagal. Lemparan kedua ... hanya menyerempet ujung rambut Andi. Dan kini, lemparan ketiga............... wiuh! Gagal lagi! Berkali-kali melempar tapi tetap gagal, Anto jadi frustasi juga. Akhirnya dia meraup semua kertas yang telah diremas-remas, mengumpulkannya di dalam keranjang dan melemparkan semuanya ke arah Andi. Bukan hanya kertasnya, tapi juga keranjangnya sekalian (waduh!).
Andi yang kelelahan dan tampaknya sedang bermimpi indah itu langsung melompat bangun dan memasang kuda-kuda seperti orang berkelahi. "Aits...Aits..siapa itu? Siapa berani mengganggu Andi, jagoan dari Betawi, keturunan langsung Si Pitung?" teriak Andi sambil memamerkan jurus-jurus silatnya.
Tiba-tiba, "Tuk" sebuah kertas menyambar kepala Andi dari belakang. "Aits!" Andi langsung berbalik.
"Apa, Lo?" tanya Anto dengan lagak menantang.
"Eh, ternyata kamu, Nto," kata Andi sambil mengelus-elus dadanya dan kembali duduk di kursi panjang.
"Eh, emangnya hujan barusan turun, ya? Kok, rumahku bocor?" Andi kebingungan ketika dia merasakan kursi panjangnya basah kuyup. Padahal, Andi yakin rumah kontrakannya itu tidak bocor.
"Itu bukan karena rumah kamu bocor, tapi mulut kamu tuh yang bocor. Liat aja, iler sampai berleleran di wajah kamu gitu. Jorok banget sih!" tukas Anto sambil cengar-cengir.
Setelah membereskan iler-iler yang menggenang di beberapa tempat (soalnya Andi kalau tidur suka pindah kemana-mana tanpa disadarinya), dan membersihkan kertas-kertas yang berserakan, Andi mempersilakan Anto untuk duduk.
"Kamu lagi bikin apaan, Ndi. Kok rumah kamu jadi kayak kapal pecah begini?" tanya Anto.
"Dari semalam aku lagi pengin bikin novel anak. Cuman, kok sulit banget, ya. Untuk membuat cerpen sekarang aku sudah agak lancar, tetapi saat mencoba membuat novel anak, entah kenapa otak ini jadi buntu dan rasanya terlalu berat untuk membuat novel anak yang harus sekian puluh, bahkan sekian ratus halaman," keluh Andi.
Dengan tersenyum, Anto mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu. Setelah Andi selesai berbicara, Anto pun bertanya, "Bagian mana yang menurut kamu sulit?"
"Bagian memperpanjang cerita yang menurutku paling sulit. Aku merasa bahwa konflik yang aku bangun hanya cocok untuk sebuah cerpen. Kalau untuk novel, otakku nggak nyampe," jawab Andi.
Anto masih saja tersenyum melihat kegelisahan sahabatnya itu.
"Sebenarnya, membuat novel itu sama saja dengan membuat cerpen. Dalam masalah yang kamu hadapi, yaitu kebuntuan mengembangkan cerita, banyak sekali dialami oleh hampir semua penulis novel.
Aku pun juga pernah mengalami kebuntuan untuk mengembangkan cerita dalam novelku".
"Lalu apa yang kamu lakukan?" tanya Andi memotong penjelasan Anto.
Meski dipotong, namun Anto tidak merasa tersinggung. Anto memang sangat memahami betapa frustasinya saat seorang penulis mengalami kebuntuan dalam membuat cerita.
"Apa yang kulakukan? Aku kemudian berpikir tentang selimut," jawab Anto sambil mengangkat telunjuknya sebagai isyarat agar Andi yang saat itu hendak bicara untuk diam dan tidak memotong penjelasannya.
"Kamu tahu selimut, kan? Kebanyakan selimut dibuat dari satu kain, hanya motifnya yang kemudian diramaikan. Tapi, ada juga selimut yang dibuat dari kain perca. Bentuknya tak kalah indah, dan menurutku cenderung lebih menarik. Begitu pun dengan menulis novel, kita bisa membuat selimut novel dengan berbagai perca cerita pendek. Semua tergantung dari kejelian kita dalam menjalin perca cerita itu hingga menjadi selimut novel yang menarik.
Trik seperti itu bisa dikatakan sebagai patchwork. Nah, apa keunggulan novel dengan gaya penulisan ala patchwork ini?
Keunggulannya banyak, yaitu novel kita akan lebih bervariasi isinya, karena cerita yang kita buat mempunyai multi konflik dan multi ending. Kemudian, karakter tokoh lebih banyak tergali dan tidak hanya sekedar tempelan dan tentu saja kita akan lebih mudah menggarapnya."
"Hmm...menarik juga untuk dicoba. Cuman aku masih meraba-raba untuk membuat cerita dengan gaya seperti itu," kata Andi.
"Oke. Kamu bisa menerapkan gaya patchwork ini dengan tahapan-tahapan. Yang pertama, buat kerangka dulu cerita yang akan dibuat untuk novel. Kedua, kumpulkan perca konflik, cerpen yang pernah kita buat bisa kita manfaatkan. Ketiga, pilih satu konflik yang paling menarik dan kuat, jadikan konflik ini sebagai benang merah. Keempat, buat pem-bab-an dengan baik. Misal 3-1. Dalam bab kita masukkan, satu 3 konflik. Satu konflik kita akhiri, satu konflik untuk bab berikutnya, satu lagi merupakan benang merah. Seterusnya perbab, hingga bab terakhir hanya satu bab yang kita tutup konfliknya.
Yang kelima, buat penokohan dengan sistem grup. Misalnya 5 sahabatnya di kantor, 4 sekawan kost, 4 sahabat sekelas, trio anggota band, dan lain-lain. Yang terakhir, langsung buka awal tulisan dengan konflik kecil," jelas Anto panjang lebar.
Manggut-manggut Andi mendengar penjelasan sahabatnya itu. Perlahan namun pasti, Andi mulai membenahi kembali lembar-lembar kertas diatas mejanya dan duduk diam menatap lurus ke arah kertas itu.
Anto yang melihat tingkah Andi jadi bengong. "Lho, kamu ngapain, Ndi, bukannya ngomong kok malah bengong. Kesambet baru tahu, lo."
Andi tidak menjawab dan tetap menatap kertas yang ada di depannya.
"Ndi, ngomong, dong. Ye... capek-capek njelasin malah dicuekin," Anto makin keras berteriak.
Akhirnya Andi menoleh ke arah Anto, itupun dilakukan dengan perlahan seperti gerakan lambat dalam sebuah film. Perlahan pula telunjuknya ditempelkan di bibirnya. "Sssst! Tolong jangan berisik. Aku sedang memikirkan konflik-konflik kecil yang akan aku rangkai menjadi konflik besar dalam novelku ini," kata Andi dengan mimik sok serius.
Sedikit kesal tapi juga ingin tertawa Anto melempar apa aja yang ada di dekatnya ke wajah Andi yang saat ini tampak mengesalkan baginya.
