Jilid 2
Setelah berpakain rapi, Andi kembali keluar rumah untuk mengejar Anto yang sudah jalan lebih dahulu.
Dalam perjalanan, Anto menjelaskan bahwa cerpen buatannya berhasil dimuat di sebuah majalah anak-anak yang cukup terkenal, sehingga dia mendapatkan honor yang lumayan besarnya. "Kalau cuma ngabisin gerobak mie rebus Bang Maman, sih, cukup," kata Anto sesumbar.
Seperti biasanya (dalam cerita ini tentunya), Andi dengan antusias mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai keberhasilan Anto meloloskan ceritanya untuk dimuat.
"Kamu pakai koneksi ya, To?" tanya Andi penasaran.
"Koneksi, mbah-mu. Kalau mau dimuat itu ya usaha keras dong! Jangan ngarepin koneksi kayak anak para pejabat," jawab Anto sewot karena merasa jerih payahnya dianggap nggak ada apa-apanya.
"Klo memang murni, kenapa punya kamu boleh dimuat, sedang punyaku kagak?" bantah Andi makin panas.
"Lha, kamu kirim kemana? Emang kirimnya ke majalah yang aku kirimin naskah juga?" Anto balas bertanya.
"Aku kemaren kirim naskah ke majalah "Dolanan Dewasa"," jawab Andi.
"Itu berarti naskah cerpen kamu, cerpen dewasa, dong," kata Anto.
"Enggak, naskahku sih naskah cerpen untuk anak seperti yang kamu bilang beberapa hari lalu," jelas Andi.
"Lha, klo itu sih salah kaprah. Klo mau kirim naskah anak harus ke majalaj untuk anak-anak juga dong. Jangan asal tembak gitu. Pantas aja nggak dimuat," kata Anto sambil nyerocos.
"Oh ya, kemaren kamu udah jelasin masalah dongeng untuk anak-anak. Lantas klo untuk cerpen, ada pembagiannya juga nggak?" tanya Andi.
"Pasti ada dong. Tapi lebih baik aku jelasin sambil makan mie rebus dulu, yuk. Bang, mie rebus dua, ya," teriak Anto pada Bang Maman.
Sembari menunggu mie rebus dihidangkan, Anto melanjutkan penjelasannya mengenai kategori cerpen pada Andi.
"Karena saking banyaknya ragam bentuk cerpen di majalah yang ada di Indonesia ini, bisa kita kelompok dalam beberapa jenis saja. Tapi mungkin juga bisa berkembang dan berbeda-beda dari yang akan aku omongin," kata Anto membuka penjelasan.
"Yang pertama adalah cerpen Realis. Cerpen ini yang paling banyak ditulis dan menjadi induk bagi genre jenis cerpen anak berikutnya.
Kemudian, yang kedua adalah cerpen Misteri atau Detektif-detektifan. Cerpen ini biasanya paling digemari karena mengundang rasa penasaran.
Yang ketiga adalah cerpen Misteri tapi bergenre Horor. Cerpen ini juga menarik minat dan punya tempat khusus di beberapa media anak-anak.
Keempat, cerpen jenis Komedi. Cerpen ini tentu saja merupakan jenis cerpen yang dibumbui cerita-cerita komedi dan lucu.
Kelima, cerpen Futuristik. Dari namanya pasti kamu sudah bisa menebak bahwa cerpen ini mengambil setting waktu masa depan.
Cerpen yang keenam atau yang terakhir adalah cerpen Momentum. Cerpen ini berhubungan dengan momen tertentu, misalnya cerpen tentang puasa, cerpen lebaran, cerpen agustusan, dan lain-lain," kata Anto mengakhiri penjelasannya.
"Oh, jadi selain dongeng, cerpen juga punya kategori, ya? Trus, apa klo kukirim ke media anak, bisa langsung dimuat juga?" tanya Andi.
"Ya... soal dimuat atau enggak itu soal nanti. Yang penting kita sudah berusaha dan mencoba. Sebelum kamu kirim lebih baik kamu pelajari dulu cerpen-cerpen yang dimuat di majalah yang akan kamu kirimi karyamu nanti. Dengan demikian, kita bisa tahu selera pembacanya dan selera redaksinya. Termasuk jumlah halaman yang harus kamu buat.
Kemudian, kirimkanlah beberapa cerpen sekaligus dalam satu amplop, dengan cerita yang bervariasi, baik seting maupun jenis ceritanya.
Lalu, jangan pernah menunggu cerpen kamu dimuat, baru mengirim lagi. Antrian di penerbit biasanya panjang karena bukan kamu seorang yang ngirim ke mereka dan banyak penulis yang lebih baik dari kita juga ikut mengirim naskah ke penerbit.
Nah, misal kamu udah kirim, yakinkan bahwa kamu masih pegang copy cerpennya, karena beberapa kali aku pernah menemukan naskah yang hilang. Lebih baik lagi tuliskan dalam surat pengantar, bahwa bila dalam setahun cerpen kamu tidak ada kabar, maka kita akan mencabut cerpen tersebut. Selanjutnya kamu bisa mengirim naskah itu ke media cetak lain, mungkin saja di majalah "A" naskah kamu tidak dimuat, tapi di media "B" naskah kamu langsung dimuat.
Selain mengirim naskah, lebih baik juga klo kamu mengikuti lomba-lomba yang diselenggarakan oleh majalah tersebut, karena membuka peluang nama kita dikenal oleh redaksi. Ya.. kan ada ungkapan, tak kenal maka tak sayang... gitu," jelas Anto panjang lebar.
"Masih ada lagi nggak tips-nya?" Andi bertanya.
"Ada satu lagi...." kata Anto.
"Apaan tuh?" tanya Andi penasaran.
"Tips ini adalah tips yang paling ampuh," kembali Anto berkata.
"Wah.. boleh tuh, boleh banget," Andi makin antusias.
"Tips terakhir ini adalah.... SEMANGAT!" kata Anto.
"Ya....... ," Andi kecewa mendengar tips yang terakhir.
"Udah nggak usah pakai "YA", capek ngomong ama kamu. Mending makan mie rebus. Nih, mie rebus kita dah siap untuk disantap," kata Anto sambil menerima semangkok mie rebus.
Blog ini mencoba menyuguhkan teknik yang berbeda mengenai tips dan trik bagaimana menulis sebuah cerita untuk anak! Jujur, saya banyak mendapatkan referensi dari berbagai milis dan saya coba tuangkan dalam bentuk "pembelajaran" yang berbeda, yaitu melalui dialog dua orang yang bernama Anto dan Andi.
Jumat, 23 November 2007
Selasa, 20 November 2007
Resensi, Apakah itu?
Suatu sore, Andi bertandang ke rumah Anto, sahabat karibnya. Setelah mengucap salam dan mendapat balasan, Andi pun segera masuk ke rumah sahabatnya itu. Andi melihat Anto sedang membaca sebuah buku, sementara di depannya tergeletak beberapa buku yang masih disampul dengan plastik, tanda bahwa buku itu adalah buku baru.
"Wah, lagi banyak duit nih, pakai borong buku sebanyak ini," kata Andi sambil mengambil sebuah buku novel tentang cerita cinta khas anak muda.
"Ah, nggak juga. Ini semua buku kiriman dari sebuah penerbit," jawab Anto.
"Lho, emangnya kamu menang lotere?" tanya Andi penasaran.
"Bukan. Ini buku kiriman mereka yang mesti aku resensi," jawab Anto singkat.
"Ah, capek banget harus baca buku sebanyak ini demi kepentingan orang lain," ledek Andi.
"Lho siapa bilang hanya demi kepentingan orang lain. Aku juga berkepentingan dan mendapat untung dari meresensi buku-buku ini," jelas Anto.
"Ah, masa'?" Andi melongo. "Gimana caranya?"
"Bagiku keuntungannya adalah aku bisa mendapat buku-buku gratis dan juga uang. Pertama, para penerbit memberiku buku -buku terbitan mereka yang terbaru untuk aku resensi. Yang kedua, bila aku mengirim resensi itu ke surat kabar, maka aku pun akan mendapat honor dari tulisanku itu. Enak, kan?" Jelas Anto sambil tersenyum.
"Wah, kalo gitu, ajari aku dong," rengek Andi seperti anak kecil.
"Oke. Tapi sebelum mengajarimu, aku akan memberi pengetahuan dasar tentang apa yang dimaksud dengan Resensi.
Dalam bahasa Belanda, kata 'recensie' itu sama artinya dengan kata 'review' dalam bahasa Inggris. Kedua kata itu bersumber dari bahasa Latin 'revidere'," Anto pun mulai menjelaskan pengetahuan dasar tentang resensi.
Sementara itu, Andi mendengarkannya sambil manggut-manggut kayak ayam matok biji jagung di tanah.
"Revidere itu berasal dari kata 're' yang berarti kembali dan kata 'videre' yang berarti melihat. Gimana, paham, kan?" tanya Anto.
"Hmm..." jawab Andi.
"Nah, dua arti kata tadi, bila digabungkan menjadi 'melihat kembali'. Kata ini meluas menjadi 'mengatakan kembali secara tertulis atas sebuah karya/buku secara obyektif."
"Hmm... kok pakai ngobyek segala sih. Emang resensi itu makelar juga, ya," potong Andi dengan ekspresi bingung.
"Ngobyek....ngobyek Mbahmu!" jawab Anto sewot. "Kubilang obyektif, bukan ngobyek sih."
"Oh, ya udah. Nggak usah sewot dong. Lanjut aja," kata Andi santai.
Dengan wajah masih sewot, Anto melanjutkan penjelasannya. "Dalam prakteknya, resensi dibedakan antara rewiew atau tinjauan buku dan criticism atau timbangan. Dalam me-rivew buku, kita tidak boleh membawa opini pribadi, meski hal itu sangat sulit untuk dihindari."
"Kenapa begitu?"
"Ya, sebab, mungkin saja kita bukanlah seorang ahli dalam bidang yang disajikan buku tersebut."
"Tapi, kalau kita menganalisanya?"
"Kalau begitu, kita tidak lagi membicarakan isi buku, tetapi konteks dan relevansi buku tersebut. Gimana, bisa paham, kan?" tanya Anto.
"Sedikit banyak aku bisa memahami apa yang kamu sampaikan," jawab Andi. "Menurut aku, ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dalam meresensi."
"Wah, apa itu?"
"Pertama, tujuan meresensi buku adalah menyajikan kepada pembaca apakah sebuah buku layak memperoleh sambutan atau tidak.
Yang kedua, pertimbangan yang kita sampaikan disesuaikan dengan selera pembaca. Oleh karena itu, pertimbangan yang disampaikan melalui media massa, berbeda-beda.
Ketiga, kita harus tahu betul tujuan pengarang buku.
keempat, kita mencantumkan riwayat buku: pengarang, editor, penerbit, tempat penerbit, jumlah halaman, harga buku, dan lain sebagainya.
Kelima, kita mesti mampu meyakinkan atau menunjukkan pada pembaca tentang buku baru atau buku yang telah langka, termasuk golongan manakah buku itu.
Keenam, kita harus pula menunjukkan keunggulan buku dari segi penulisan, organisasi buku, perwajahan, dan bahasanya.
Sekarang aku yang tanya sama kamu, gimana kesimpulanku tadi?"
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Andi, Anto hanya bisa melongo tak percaya. "Kok mendengar penjelasanku sebentar saja kamu sudah bisa menarik kesimpulan setepat itu?"
"Ya, iyalah. Kan aku sendiri selama ini juga banyak dapat keuntungan dari meresensi buku," jawab Andi sekenanya.
"Ha...!"
"Wah, lagi banyak duit nih, pakai borong buku sebanyak ini," kata Andi sambil mengambil sebuah buku novel tentang cerita cinta khas anak muda.
"Ah, nggak juga. Ini semua buku kiriman dari sebuah penerbit," jawab Anto.
"Lho, emangnya kamu menang lotere?" tanya Andi penasaran.
"Bukan. Ini buku kiriman mereka yang mesti aku resensi," jawab Anto singkat.
"Ah, capek banget harus baca buku sebanyak ini demi kepentingan orang lain," ledek Andi.
"Lho siapa bilang hanya demi kepentingan orang lain. Aku juga berkepentingan dan mendapat untung dari meresensi buku-buku ini," jelas Anto.
"Ah, masa'?" Andi melongo. "Gimana caranya?"
"Bagiku keuntungannya adalah aku bisa mendapat buku-buku gratis dan juga uang. Pertama, para penerbit memberiku buku -buku terbitan mereka yang terbaru untuk aku resensi. Yang kedua, bila aku mengirim resensi itu ke surat kabar, maka aku pun akan mendapat honor dari tulisanku itu. Enak, kan?" Jelas Anto sambil tersenyum.
"Wah, kalo gitu, ajari aku dong," rengek Andi seperti anak kecil.
"Oke. Tapi sebelum mengajarimu, aku akan memberi pengetahuan dasar tentang apa yang dimaksud dengan Resensi.
Dalam bahasa Belanda, kata 'recensie' itu sama artinya dengan kata 'review' dalam bahasa Inggris. Kedua kata itu bersumber dari bahasa Latin 'revidere'," Anto pun mulai menjelaskan pengetahuan dasar tentang resensi.
Sementara itu, Andi mendengarkannya sambil manggut-manggut kayak ayam matok biji jagung di tanah.
"Revidere itu berasal dari kata 're' yang berarti kembali dan kata 'videre' yang berarti melihat. Gimana, paham, kan?" tanya Anto.
"Hmm..." jawab Andi.
"Nah, dua arti kata tadi, bila digabungkan menjadi 'melihat kembali'. Kata ini meluas menjadi 'mengatakan kembali secara tertulis atas sebuah karya/buku secara obyektif."
"Hmm... kok pakai ngobyek segala sih. Emang resensi itu makelar juga, ya," potong Andi dengan ekspresi bingung.
"Ngobyek....ngobyek Mbahmu!" jawab Anto sewot. "Kubilang obyektif, bukan ngobyek sih."
"Oh, ya udah. Nggak usah sewot dong. Lanjut aja," kata Andi santai.
Dengan wajah masih sewot, Anto melanjutkan penjelasannya. "Dalam prakteknya, resensi dibedakan antara rewiew atau tinjauan buku dan criticism atau timbangan. Dalam me-rivew buku, kita tidak boleh membawa opini pribadi, meski hal itu sangat sulit untuk dihindari."
"Kenapa begitu?"
"Ya, sebab, mungkin saja kita bukanlah seorang ahli dalam bidang yang disajikan buku tersebut."
"Tapi, kalau kita menganalisanya?"
"Kalau begitu, kita tidak lagi membicarakan isi buku, tetapi konteks dan relevansi buku tersebut. Gimana, bisa paham, kan?" tanya Anto.
"Sedikit banyak aku bisa memahami apa yang kamu sampaikan," jawab Andi. "Menurut aku, ada beberapa hal yang bisa kita perhatikan dalam meresensi."
"Wah, apa itu?"
"Pertama, tujuan meresensi buku adalah menyajikan kepada pembaca apakah sebuah buku layak memperoleh sambutan atau tidak.
Yang kedua, pertimbangan yang kita sampaikan disesuaikan dengan selera pembaca. Oleh karena itu, pertimbangan yang disampaikan melalui media massa, berbeda-beda.
Ketiga, kita harus tahu betul tujuan pengarang buku.
keempat, kita mencantumkan riwayat buku: pengarang, editor, penerbit, tempat penerbit, jumlah halaman, harga buku, dan lain sebagainya.
Kelima, kita mesti mampu meyakinkan atau menunjukkan pada pembaca tentang buku baru atau buku yang telah langka, termasuk golongan manakah buku itu.
Keenam, kita harus pula menunjukkan keunggulan buku dari segi penulisan, organisasi buku, perwajahan, dan bahasanya.
Sekarang aku yang tanya sama kamu, gimana kesimpulanku tadi?"
Mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh Andi, Anto hanya bisa melongo tak percaya. "Kok mendengar penjelasanku sebentar saja kamu sudah bisa menarik kesimpulan setepat itu?"
"Ya, iyalah. Kan aku sendiri selama ini juga banyak dapat keuntungan dari meresensi buku," jawab Andi sekenanya.
"Ha...!"
Labels:
Menulis Cerita Anak
Langganan:
Postingan (Atom)