Sudah lama rasanya Anto dan Andi tidak bertemu. Ini dikarenakan mereka berdua sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Meski mereka berdua menyukai bidang penulisan, tapi ternyata urusan dapur tidak bisa dikesampingkan.
Oleh karena itulah, mereka memilih mengisi dapur mereka dahulu baru kemudian menekuni kembali dunia yang mereka cinta, yaitu Menulis.
Dan sampai hari inipun mereka masih belum bertemu.
Blog ini mencoba menyuguhkan teknik yang berbeda mengenai tips dan trik bagaimana menulis sebuah cerita untuk anak! Jujur, saya banyak mendapatkan referensi dari berbagai milis dan saya coba tuangkan dalam bentuk "pembelajaran" yang berbeda, yaitu melalui dialog dua orang yang bernama Anto dan Andi.
Tampilkan postingan dengan label bahasa untuk cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bahasa untuk cerpen. Tampilkan semua postingan
Rabu, 21 Januari 2009
Jumat, 30 Mei 2008
Warna Ceria pada Buku Anak
Menjadi seorang penulis buku anak dirasakan banyak penulis sebagai hal yang sulit. Hal ini, ternyata juga dialami oleh Andi yang memang menulis apapun akan merasa kesulitan he..he..he...
Hari ini, Andi kembali mengunjungi Anto, sahabatnya, untuk bertanya mengenai masalah buku anak.
Sesampainya di rumah Anto, Andi langsung saja menyodorkan naskah cerita anak yang baru saja ditulisnya.
"Tolong liatin dong, Nto!" kata Andi pada sahabatnya yang juga tengah menulis sebuah naskah pesanan salah satu tabloid anak-anak.
"Ini naskah baru atau naskah lama?" tanya Anto tanpa memegang naskah Andi sama sekali.
"Naskah baru dong!" sambar Andi.
"Bagus atau lumayan atau kurang bagus atau bahkan jelek?" tanya Anto lagi tetap tanpa menyentuh naskah Andi.
"Pasti bagus!" yakin Andi pada Anto.
"Kalau pasti bagus, ya sudah, kirim aja. Nggak usah tanya pendapatku," celetuk Anto sekenanya.
"Yeee...dimintai tolong temen kok pelit banget sih!" protes Andi dengan nada kesel.
Bayangin aja! (harus bener-bener dibayangin, ya)
Waktu berangkat daari rumahnya menuju rumah Anto saja, perjalanan Andi penuh perjuangan. Baru sampai di depan gang rumahnya, Andi melihat Bang Joni (nama aslinya sih Yono, tapi karena lama di Jakarta dia rubah namanya jadi Joni. Kenapa bukan Yoni? Ya...klo Yoni kan kalah keren. Tapi Joni....wah nama orang gedongan tuh!)
Nah, pas melihat Bang Joni si tukang kredit itu, Andi langsung saja balik lagi ke rumahnya dan ngumpet sampe Bang Joni yang manggil-manggil namanya bosen dan meninggalkan rumahnya. Nggak perlu dong dikasih tahu alasan kenapa Andi harus kabur dari Bang Joni.
Yang kedua yang harus dialami Andi adalah begitu lolos di gang pertama, Andi masih harus bertemu dengan Juminten yang jualan jamu. Melihat Juminten yang agak-agak centil ini, Andi pun harus ngumpet di balik pohon sawo milik Pak Haji Safii. Baru setelah Juminten lewat, Andi buru-buru lari menuju rumah Andi.
Klo masalah, Juminten, sebenarnya, Andi nggak punya utang meski sering minum jamu tanpa bayar. Masalahnya adalah Andi udah kadung janji akan nikahin Juminten sejak Lebaran tiga tahun lalu. Nah itulah yang bikin Andi jadi malu hati klo harus ketemu sama Juminten.
Sedang perjuangan ketiga adalah Anjing milik Baba Liong. Anjing ini sebenarnya bukan anjing pengganggu. Tapi setiap kali Andi yang punya badan kurus kerempeng mirip tengkorak berjalan itu lewat di depan hidungnya, Anjing yang punya nama keren "Boy" ini selalu dengan semangat 45 berlari mengejar Andi. Kontan saja, Andi harus pontang-panting lari menyelamatkan diri sampai-sampai sandal jepitnya putus.
Setelah berhasil melewati tiga rintangan menuju rumah Anto, akhirnya Andi berhasil menyentuh gagang pintu rumah Anto dan kejadian selanjutnya pasti sudah pembaca ketahui bersama seperti yang sudah diceritakan di paragraf awal.
"Nah, jadi gimana?" tanya Andi lagi.
"Apanya yang gimana?" Anto balas bertanya.
"Makanya, dilihat dulu dong naskahku. Jangan cuman tanya-tanya melulu," Andi memprotes.
Sekilas Anto akhirnya membaca naskah yang disodorkan sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian, Anto berkata, "Beberapa kali aku membaca karya penulis asing untuk menambah pengetahuanku dalam menulis cerita anak.
Karena keterbatasan pemahaman linguistik anak-anak, saat menulis cerita anak kadang kita tak leluasa membuat gaya bahasa seperti layaknya karya sastra untuk orang dewasa.
Oleh karena itu, pemilihan kata untuk anak mesti diperhatikan, sehingga kesederhanaan kalimat sering kita tampilkan. Tapi, kesederhanaan yang kamu buat juga mesti berbobot.
Aku pernah membaca beberapa tips dan trik yang bisa digunakan untuk memberikan "warna" pada buku cerita anak.
Yang pertama adalah membuat perumpamaan dengan kacamata anak-anak. Contohnya, Rida paling tidak suka melihat Tante Lina berpakaian. Tempo hari, Tante Lina sangat mirip terong raksasa yang bisa berjalan. Dari topi sampai sepatunya berwarna ungu tua. Iiiiii, padahal Rida paling malas melihat yang namanya terong.
Bisa kamu bayangin, kan gimana terong ungu berjalan?
Atau contoh lainnya, kamu bisa bikin kalimat seperti ini, Muka Doni pucat. Tiwi langsung ingat udang goreng yang disediakan ibu semalam di meja makan.
Atau yang lain seperti ini. Andi bertubuh kurus. Kurus sekali hingga disangka tengkorak jalan-jalan. Kalo orang menertawakan Andi karena mirip tengkorak, maka Anjing seringkali mengejarnya karena disangka tulang yang siap untuk dimakan," jelas Anto pelan-pelan.
"Wooooi!! Nggak usah pakai fisik dong. Gue emang kurus, tapi jangan dipakai untuk contoh!" protes Andi yang nggak terima fisiknya dijadikan bahan omongan.
"Lho...kan aku ngasih contoh nyata biar kamu lebih mengerti," Anto pun membela diri.
"Ya, udah nggak usah pakai fisik deh sekarang. Trus apalagi yang bisa kamu jelaskan?" tanya Andi akhirnya.
"Oke. Yang kedua adalah mendefinisikan istilah dengan polos. Contohnya aku ambilkan dari buku Konrad.
Kak Wita tadi bercerita soal pelajaran barunya di kelas pada Ibu.
Katanya, ada pelajaran tentang akar-akaran. Tapi yang kudengar bukan akar tumbuhan, tapi akar angka. Katanya, akar 16 itu 4, akar 100 itu 10. Aku bingung. Kalau akar sejuta mungkin pohonnya besar sekali.
Atau Lo bisa ambil contoh yang lain. Tentang Paparazi misalnya. Kamu bisa bikin dialog seperti,
Paparazi itu siapa sih, Oom? Pasti Indo ya? Namanya aneh. Trus, istrinya dipanggil Mama Razi, ya?
Nah, hal-hal seperti itu yang mungkin bisa menambah 'warna' pada naskah atau buku anak-anak kamu.
Hari ini, Andi kembali mengunjungi Anto, sahabatnya, untuk bertanya mengenai masalah buku anak.
Sesampainya di rumah Anto, Andi langsung saja menyodorkan naskah cerita anak yang baru saja ditulisnya.
"Tolong liatin dong, Nto!" kata Andi pada sahabatnya yang juga tengah menulis sebuah naskah pesanan salah satu tabloid anak-anak.
"Ini naskah baru atau naskah lama?" tanya Anto tanpa memegang naskah Andi sama sekali.
"Naskah baru dong!" sambar Andi.
"Bagus atau lumayan atau kurang bagus atau bahkan jelek?" tanya Anto lagi tetap tanpa menyentuh naskah Andi.
"Pasti bagus!" yakin Andi pada Anto.
"Kalau pasti bagus, ya sudah, kirim aja. Nggak usah tanya pendapatku," celetuk Anto sekenanya.
"Yeee...dimintai tolong temen kok pelit banget sih!" protes Andi dengan nada kesel.
Bayangin aja! (harus bener-bener dibayangin, ya)
Waktu berangkat daari rumahnya menuju rumah Anto saja, perjalanan Andi penuh perjuangan. Baru sampai di depan gang rumahnya, Andi melihat Bang Joni (nama aslinya sih Yono, tapi karena lama di Jakarta dia rubah namanya jadi Joni. Kenapa bukan Yoni? Ya...klo Yoni kan kalah keren. Tapi Joni....wah nama orang gedongan tuh!)
Nah, pas melihat Bang Joni si tukang kredit itu, Andi langsung saja balik lagi ke rumahnya dan ngumpet sampe Bang Joni yang manggil-manggil namanya bosen dan meninggalkan rumahnya. Nggak perlu dong dikasih tahu alasan kenapa Andi harus kabur dari Bang Joni.
Yang kedua yang harus dialami Andi adalah begitu lolos di gang pertama, Andi masih harus bertemu dengan Juminten yang jualan jamu. Melihat Juminten yang agak-agak centil ini, Andi pun harus ngumpet di balik pohon sawo milik Pak Haji Safii. Baru setelah Juminten lewat, Andi buru-buru lari menuju rumah Andi.
Klo masalah, Juminten, sebenarnya, Andi nggak punya utang meski sering minum jamu tanpa bayar. Masalahnya adalah Andi udah kadung janji akan nikahin Juminten sejak Lebaran tiga tahun lalu. Nah itulah yang bikin Andi jadi malu hati klo harus ketemu sama Juminten.
Sedang perjuangan ketiga adalah Anjing milik Baba Liong. Anjing ini sebenarnya bukan anjing pengganggu. Tapi setiap kali Andi yang punya badan kurus kerempeng mirip tengkorak berjalan itu lewat di depan hidungnya, Anjing yang punya nama keren "Boy" ini selalu dengan semangat 45 berlari mengejar Andi. Kontan saja, Andi harus pontang-panting lari menyelamatkan diri sampai-sampai sandal jepitnya putus.
Setelah berhasil melewati tiga rintangan menuju rumah Anto, akhirnya Andi berhasil menyentuh gagang pintu rumah Anto dan kejadian selanjutnya pasti sudah pembaca ketahui bersama seperti yang sudah diceritakan di paragraf awal.
"Nah, jadi gimana?" tanya Andi lagi.
"Apanya yang gimana?" Anto balas bertanya.
"Makanya, dilihat dulu dong naskahku. Jangan cuman tanya-tanya melulu," Andi memprotes.
Sekilas Anto akhirnya membaca naskah yang disodorkan sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian, Anto berkata, "Beberapa kali aku membaca karya penulis asing untuk menambah pengetahuanku dalam menulis cerita anak.
Karena keterbatasan pemahaman linguistik anak-anak, saat menulis cerita anak kadang kita tak leluasa membuat gaya bahasa seperti layaknya karya sastra untuk orang dewasa.
Oleh karena itu, pemilihan kata untuk anak mesti diperhatikan, sehingga kesederhanaan kalimat sering kita tampilkan. Tapi, kesederhanaan yang kamu buat juga mesti berbobot.
Aku pernah membaca beberapa tips dan trik yang bisa digunakan untuk memberikan "warna" pada buku cerita anak.
Yang pertama adalah membuat perumpamaan dengan kacamata anak-anak. Contohnya, Rida paling tidak suka melihat Tante Lina berpakaian. Tempo hari, Tante Lina sangat mirip terong raksasa yang bisa berjalan. Dari topi sampai sepatunya berwarna ungu tua. Iiiiii, padahal Rida paling malas melihat yang namanya terong.
Bisa kamu bayangin, kan gimana terong ungu berjalan?
Atau contoh lainnya, kamu bisa bikin kalimat seperti ini, Muka Doni pucat. Tiwi langsung ingat udang goreng yang disediakan ibu semalam di meja makan.
Atau yang lain seperti ini. Andi bertubuh kurus. Kurus sekali hingga disangka tengkorak jalan-jalan. Kalo orang menertawakan Andi karena mirip tengkorak, maka Anjing seringkali mengejarnya karena disangka tulang yang siap untuk dimakan," jelas Anto pelan-pelan.
"Wooooi!! Nggak usah pakai fisik dong. Gue emang kurus, tapi jangan dipakai untuk contoh!" protes Andi yang nggak terima fisiknya dijadikan bahan omongan.
"Lho...kan aku ngasih contoh nyata biar kamu lebih mengerti," Anto pun membela diri.
"Ya, udah nggak usah pakai fisik deh sekarang. Trus apalagi yang bisa kamu jelaskan?" tanya Andi akhirnya.
"Oke. Yang kedua adalah mendefinisikan istilah dengan polos. Contohnya aku ambilkan dari buku Konrad.
Kak Wita tadi bercerita soal pelajaran barunya di kelas pada Ibu.
Katanya, ada pelajaran tentang akar-akaran. Tapi yang kudengar bukan akar tumbuhan, tapi akar angka. Katanya, akar 16 itu 4, akar 100 itu 10. Aku bingung. Kalau akar sejuta mungkin pohonnya besar sekali.
Atau Lo bisa ambil contoh yang lain. Tentang Paparazi misalnya. Kamu bisa bikin dialog seperti,
Paparazi itu siapa sih, Oom? Pasti Indo ya? Namanya aneh. Trus, istrinya dipanggil Mama Razi, ya?
Nah, hal-hal seperti itu yang mungkin bisa menambah 'warna' pada naskah atau buku anak-anak kamu.
Senin, 17 Maret 2008
Bahasa untuk Cerpen Anak
"Wadohhhhh!! Pusing gue. Gue pusing!" teriak Andi suatu pagi.
Anto yang menemani disebelahnya tentu saja terkejut dan meloncat sejauh 10 meter ke samping (weleh, emang punya ilmu meringankan tubuh, hingga bisa loncat sejauh itu?).
"Apaan sih, Ndi? Ngagetin orang aja," omel Anto.
"Sori deh, gue lagi bingung nih, Nto," keluh Andi.
"Bingung apa lagi, bilang dong ama gue," kata Anto.
"Gue malu kalo tanya melulu ama loe," kata Andi yang mukanya memerah karena malu.
"Busyet dah! Ngomong malu aja sampai wajah loe memerah kayak gadis mau dikawinin aja," tawa Anto pun berderai. "Coba ngomong dulu apa masalahnya, ntar kita pecahin bersama biar loe nggak bingung lagi."
"Kita? Loe kali, gue kagak," sambar Andi yang menirukan gaya ruben di acara Mamamia setiap kali mendengar kata KITA.
"Ya, terserah loe aja deh, yang penting ngomong dulu apa masalahnya," kata Anto kalem.
"Gini, Nto. Gue kan bikin cerita anak lagi dan udah gua kirim, tapi naskah itu dibalikin lagi dengan alasan bahasa gue nggak sesuai. Nah, gue kan bingung, emang bahasa yang benar itu kayak apa? Selama ini gue kirim naskah ke tempat lain selalu oke-oke aja," kata Andi akhirnya.
"Selama ini kamu kirim naskah, semuanya dimuat atau diterbitkan?" tanya Anto sebelum menjawab keluh kesah sahabatnya itu.
"Ya, nggak lah. Kan, loe tahu sendiri baru sekali naskah gue dimuat," sembur Andi agak emosi karena mengira Anto mengejeknya.
"Nah, itulah. Mental kamu itu bisa kubilang mental yang lembek. Kena rintangan sesekali aja udah ngeluh, udah nyerah. Tetap berjuang, dong! Semangat!" kata Anto.
"Loe yang tinggal ngomong, enak! Nah gue yang harus ngejalaninnya ini yang bingung, ujung-ujungnya pusing deh. Klo loe bisa ngomong kayak gitu, emang loe tahu bahasa yang seperti apa yang mereka mau?" tanya Andi dengan gaya menantang.
Anto yang udah hapal lagak dan lagu sahabatnya itu senyam-senyum aja sambil mengatakan, "Gue sih bukannya paranormal yang bisa tahu keinginan seseorang dari jarak jauh. Gue juga bukan peramal yang bisa mengatakan ini begini, ini begitu. Tapi gue, sekali lagi gue adalah orang yang suka membaca dan hal ini sudah seringkali gue sarankan sama loe. Sering-seringlah membaca untuk menambah wawasan dan kemampuanmu dalam menulis.
Jangan puas dan berhenti belajar hanya karena satu naskah kamu sudah dimuat oleh media cetak. Hidup ini adalah pembelajaran, mulai kecil sampai kita mati nanti kita harus tetap belajar.
Nah, seperti yang pernah aku baca, di blog Penulis Cerita Anak, bahasa untuk cerita anak adalah bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak. Sederhananya pergunakan bahasa yang biasa digunakan oleh anak-anak agar mereka mengerti dan mudah mencerna cerita kita.
Sementara itu, dari millis Penulis Bacaan Anak, dibilang bahwa bahasa adalah kaca pada jendela. Ide dan cerita adalah pemandangan di luar sana. Jadi, kita harus terus berlatih menulis untuk mencapai tingkat yang baik dalam berbahasa, khususnya bahasa tulis.
Cara lainnya agar kemampuan bahasa tulis kita meningkat adalah memperbanyak kuantitas bacaan kita. Semakin banyak kita membaca, akan kian banyak pula kosakata yang kita serap. Dengan melatihnya dalam penulisan, akan semakin meningkat pula kemampuan kita dalam menata diksi.
Diksi bukan hanya sekedar untuk memilih kata yang tepat. Diksi juga bisa memperjelas ide. Bahkan, diksi juga bisa kita pakai untuk memperindah cerita. Jadi, perkata terus perbendaharaan kata yang loe miliki dan praktikkan dalam menulis.
Kalo maish mau belajar lagi coba ke blog Writer. Disitu juga banyak pembelajarannya, kok.
Gimana, paham nggak?" tanya Anto menutup penjelasannya.
Dan lagi-lagi seperti biasa, Andi hanya manggut-manggut kayak ayam matuk.
"Asyik! Gue sekarang dah ada ide untuk nulis cerita yang baru!" teriak Andi tiba-tiba yang kembali membuat Anto harus meloncat tinggi sejauh 10 meter lagi ke depan.
Anto yang menemani disebelahnya tentu saja terkejut dan meloncat sejauh 10 meter ke samping (weleh, emang punya ilmu meringankan tubuh, hingga bisa loncat sejauh itu?).
"Apaan sih, Ndi? Ngagetin orang aja," omel Anto.
"Sori deh, gue lagi bingung nih, Nto," keluh Andi.
"Bingung apa lagi, bilang dong ama gue," kata Anto.
"Gue malu kalo tanya melulu ama loe," kata Andi yang mukanya memerah karena malu.
"Busyet dah! Ngomong malu aja sampai wajah loe memerah kayak gadis mau dikawinin aja," tawa Anto pun berderai. "Coba ngomong dulu apa masalahnya, ntar kita pecahin bersama biar loe nggak bingung lagi."
"Kita? Loe kali, gue kagak," sambar Andi yang menirukan gaya ruben di acara Mamamia setiap kali mendengar kata KITA.
"Ya, terserah loe aja deh, yang penting ngomong dulu apa masalahnya," kata Anto kalem.
"Gini, Nto. Gue kan bikin cerita anak lagi dan udah gua kirim, tapi naskah itu dibalikin lagi dengan alasan bahasa gue nggak sesuai. Nah, gue kan bingung, emang bahasa yang benar itu kayak apa? Selama ini gue kirim naskah ke tempat lain selalu oke-oke aja," kata Andi akhirnya.
"Selama ini kamu kirim naskah, semuanya dimuat atau diterbitkan?" tanya Anto sebelum menjawab keluh kesah sahabatnya itu.
"Ya, nggak lah. Kan, loe tahu sendiri baru sekali naskah gue dimuat," sembur Andi agak emosi karena mengira Anto mengejeknya.
"Nah, itulah. Mental kamu itu bisa kubilang mental yang lembek. Kena rintangan sesekali aja udah ngeluh, udah nyerah. Tetap berjuang, dong! Semangat!" kata Anto.
"Loe yang tinggal ngomong, enak! Nah gue yang harus ngejalaninnya ini yang bingung, ujung-ujungnya pusing deh. Klo loe bisa ngomong kayak gitu, emang loe tahu bahasa yang seperti apa yang mereka mau?" tanya Andi dengan gaya menantang.
Anto yang udah hapal lagak dan lagu sahabatnya itu senyam-senyum aja sambil mengatakan, "Gue sih bukannya paranormal yang bisa tahu keinginan seseorang dari jarak jauh. Gue juga bukan peramal yang bisa mengatakan ini begini, ini begitu. Tapi gue, sekali lagi gue adalah orang yang suka membaca dan hal ini sudah seringkali gue sarankan sama loe. Sering-seringlah membaca untuk menambah wawasan dan kemampuanmu dalam menulis.
Jangan puas dan berhenti belajar hanya karena satu naskah kamu sudah dimuat oleh media cetak. Hidup ini adalah pembelajaran, mulai kecil sampai kita mati nanti kita harus tetap belajar.
Nah, seperti yang pernah aku baca, di blog Penulis Cerita Anak, bahasa untuk cerita anak adalah bahasa yang mudah dicerna oleh anak-anak. Sederhananya pergunakan bahasa yang biasa digunakan oleh anak-anak agar mereka mengerti dan mudah mencerna cerita kita.
Sementara itu, dari millis Penulis Bacaan Anak, dibilang bahwa bahasa adalah kaca pada jendela. Ide dan cerita adalah pemandangan di luar sana. Jadi, kita harus terus berlatih menulis untuk mencapai tingkat yang baik dalam berbahasa, khususnya bahasa tulis.
Cara lainnya agar kemampuan bahasa tulis kita meningkat adalah memperbanyak kuantitas bacaan kita. Semakin banyak kita membaca, akan kian banyak pula kosakata yang kita serap. Dengan melatihnya dalam penulisan, akan semakin meningkat pula kemampuan kita dalam menata diksi.
Diksi bukan hanya sekedar untuk memilih kata yang tepat. Diksi juga bisa memperjelas ide. Bahkan, diksi juga bisa kita pakai untuk memperindah cerita. Jadi, perkata terus perbendaharaan kata yang loe miliki dan praktikkan dalam menulis.
Kalo maish mau belajar lagi coba ke blog Writer. Disitu juga banyak pembelajarannya, kok.
Gimana, paham nggak?" tanya Anto menutup penjelasannya.
Dan lagi-lagi seperti biasa, Andi hanya manggut-manggut kayak ayam matuk.
"Asyik! Gue sekarang dah ada ide untuk nulis cerita yang baru!" teriak Andi tiba-tiba yang kembali membuat Anto harus meloncat tinggi sejauh 10 meter lagi ke depan.
Langganan:
Postingan (Atom)