Tampilkan postingan dengan label genre cerita anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label genre cerita anak. Tampilkan semua postingan

Kamis, 29 Juli 2010

Royalti 20 persen

Sudah lama Andi tak bertemu dengan Anto, sahabat karibnya. Hari itu, tiba-tiba saja Andi berkunjung ke rumah Anto dan tanpa permisi langsung menghempaskan pantatnya ke kursi malas yang ada di depan rumah Anto. Dengan menghela nafas panjang, Andi hanya menoleh ke dalam rumah sahabatnya itu tanpa memanggilnya walaupun pintu rumah Anto terbuka.

Kebetulan saat itu, Anto sedang membawa setumpuk pakaian basah yang baru saja dicucinya. Saking banyaknya tumpukan pakaian itu, sampai-sampai ia tidak dapat melihat ke depan. Anto pun berjalan sambil mengira-ngira apakah ada halangan atau tidak di depannya. Karena konsentrasi penuh, Anto tidak mengetahiu kalau Andi sedari tadi duduk di kursi malas yang ada di sebelah pintu dan dengan cepat setelah melewaeti pintu rumahnya, Anto meletakkan tumpukan pakaian basah yang dibawanya itu dengan maksud untuk beristirahat dan memperhatikan hendak dijemur dimana pakaiannya itu.

Tiba-tiba…

"Wadaw!!!" teriak Andi yang kaget karena tiba-tiba dirinya kejatuhan pakaian basah.

"Wadaw juga!!!" Anto yang juga kaget spontan berteriak latah.

"Apa-apaan kau ini, Nto?!" semprot Andi yang seluruh tubuhnya jadi setengah basah (bukan setengah mati, ye!).

"Apa-apaan?! Kamu itu yang apa-apaan?! Sejak kapan kamu duduk disitu? Lagian datang-datang bukannya ngucap salam malah duduk diam di teras rumah orang. Kayak maling aja, tahu!!" semprot Anto tak mau kalah.

Baru bertemu, kedua sahabat itu langsung terlibat pertengkaran seru. Setelah saling mengeluarkan kekesalannya masing-masing, akhirnya kedua sahabat itu berdamai dan saling meminta maaf.

"Maaf sih boleh saja. Tapi, gimana dengan cucianku, nih?! Capek-capek aku nyucinya, sekarang jadi kotor lagi, deh," keluh Anto sambil melihat cucian basahnya yang berhamburan di lantai.

"Ya sudah. Kita bilas lagi aja," ajak Andi yang juga merasa bersalah.

Mereka berduapun segera memunguti cucian basah milik Anto dan membilasnya di kamar mandi.

"Eh, ada kabar apaan? Tumben kamu main ke sini?" tanya Anto pada Andi sambil mengguyur cuciannya dengan air bersih.

"Nggak ada apa-apa, kok," jawab Andi berbohong.

"Alaaaa… nggak usah bohong, deh. Aku tahu kalau mukamu kusut begitu, berarti kamu lagi ada masalah, Iya, kan?!" tanya Anto lagi.

"Hooh, nih. Sebenarnya aku lagi kesel banget," jawab Andi akhrinya.

"Kenapa?" tanya Anto.

"Kemaren, aku ke sebuah penerbit dan bernegosiasi soal royalti. Tapi ternyata mereka pelit banget. Akhirnya, aku pulang dan membatalkan naskahku yang akan diterbitkan mereka," kata Andi menceritakan kekesalannya.

"Hmmm… memang berapa royalti yang mereka tawarkan padamu?" tanya Anto yang ingin mengetahui lebih jelas duduk permasalahannya.

"7 persen," jawab Andi singkat.

"Loh, itukan angka yang wajar. Kenapa kamu tolak?" tanya Anto heran.

"Aku maunya royalti 20 persen. Kalau cuman 7 persen, aku nggak bisa cepet kaya, dong!!" sergah Andi yang merasa Anto tidak mendukungnya.

Mendengar jawaban sahabatnya, Anto tertawa sambil memberikan celana jeans yang baru saja diguyurnya dengan air bersih pada Andi.

"Andi… Andi. 7 persen itu adalah angka royalti yang wajar di setiap penerbit. Kalau kamu maunya 20 persen, nggak akan ada penerbit yang mau nerbitin naskah kamu. Lagian, siapa kamu minta royalti setinggi langit begitu," kata Anto menertawakan sahabatnya yang dianggapnya keterlaluan dalam menentukan tarif royaltinya.

Sambil memeras celana jeans yang baru saja diterimanya dari Anto, Andi bertanya balik, "Memang kenapa kalau aku mau 20 persen? Sah-sah saja, kan, permintaanku?"

"Tentu saja sah. Tapi, tidak akan ada yang bersedia menerbitkan naskahmu dan kamu hanya akan berangan-angan mendapatkan royalti 20 persen tanpa pernah merasakan royalti tersebut," jawab Anto sambil menyerahkan sebuah kaos oblong pada Andi.

"Umumnya, penerbit akan menawarkan royalti kepada penulis sekitar 6 sampai 12 persen, meskipun ada juga yang menawarkan hingga 20 persen.. "

"Nah, tuh, kan. Ada yang nawarin 20 persen. Kenapa kamu bilang aku nggak boleh dan nggak mungkin mendapat royalti 20 persen?!" serobot Andi sebelum Anto menyelesaikan penjelasannya.

"Dengar dulu kata-kataku," ucap Anto yang sedikit kesal pada ketidaksabaran Andi.

"Untuk menentukan besaran royalti itu, penerbit akan melihat dulu kapasitas penulis, kelayakan naskah dan juga perkiraan penjualannya dan setiap penulis bisa mendapatkan royalti yang berbeda-beda. Tapi, ada juga yang tidak ingin dibayar secara royalti tapi ingin dibayar flat fee," tambah Anto.

"Apa itu flat fee?" tanya Andi sambil menerima kaos dalam dari tangan Anto setelah selesai memeras kaos oblong sahabatnya itu.

"Flat fe itu adalah pembayaran dengan cara beli putus. Di sini, angka yang ditawarkan sesuai dengan hasil tulisannya, penulisnya siapa, dan perkiraan penjualannya. Untuk penulis baru, jelas tidak sama jumlah yang didapatkannya dengan penulis yang telah mempunyai banyak karya," jawab Anto.

"Emang berapa angkanya?" tanya Andi.

"Ya… sekitar 3 sampai 30 jutaan lah," jawab Anto sambil menyerahkan celana dalamnya yang baru saja diguyur air pada Andi.

"Oh.. begitu. Wadawww apaan nih?!" jerit Andi sambil melemparkan celana dalam yang diterimanya.

"Loh, kok dibuang, sih?!" tanya Anto sewot sambil menambahkan, "Itukan celana dalamku. Emang kamu nggak pernah pegang celana dalam apa?"

"Megang sih pernah. Tapi punyaku sendiri. Kalau punya orang lain mah, cuci dan bilas aja sendiri," kata Andi sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Anto sendiri yang memandang celana dalamnya yang nyemplung ke WC akibat dilemparkan Andi tadi.

Minggu, 02 November 2008

MTM (Mengulang Tentang Menulis)

Sudah sangat lama sekali Anto dan Andi tidak bersua. Saat berjumpa, hal pertama yang ditanyakan oleh Andi adalah mengenai MENULIS!

"Waduh, mbok yao tanya yang lain dulu. Tanya kabar, kek, apa kek gitu. Ini kok langsung tanya soal menulis. Emangnya nggak ada pertanyaan lain apa?" protes Anto sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

"Ya... aku sih udah tahu kabar kamu baik-baik saja," jawab Andi pendek.

"Lho, tahu dari mana?" Anto kali ini kebingungan dan berpikir selama tidak bertemu, mungkin Andi telah belajar ilmu meramal.

"Fakta! Bahwa kamu berdiri di sini dan tidak kurang suatu apa, hal itu menandakan bahwa kamu dalam keadaan sehat wallafiat kan?!" jawab Andi lugas yang membuat Anto tersenyum sendiri.

"Trus apa yang mau kamu tanyakan soal menulis, bukankah sudah banyak kamu mencatat apa yang sudah kita bicarakan selama ini?" tanya Anto lagi.

"Iya, tapi ada beberapa lembar catatan awal gua menghilang," kata Andi memberi alasan.

"Makanya kalau punya catatan penting itu disimpan yang rapi, biar nggak ilang," sungut Anto.

"Yee.. aku sih menyimpan dengan baik, cuman kemaren orangtuaku kekurangan kertas buat bungkus barang dagangannya, dan tanpa tanya kepadaku, dia langsung mengambil tumpukan kertas milikku untuk dijadikan bungkus," jawab Andi dengan nada kesal.

Anto yang mendengar jawaban Andi langsung terpingkal-pingkal. "Oke deh. Aku kasih rambu-rambu aja, ya".

"Rambu Lalu Lintas?" tanya Andi polos.

"Bukan rambu itu, tapi sekedar kata kunci untuk mengingatkan kamu tentang latihan menulis kita terdahulu," tukas Anto sambil melanjutkan, "Yang pertama, seingatku kita membahas tentang Menemukan Ide, kemudian Dongeng 'Cerita Tanpa Batas', lalu Menulis Ulang, Menerjemahkan, Mengadaptasi dan Karya Sendiri. Yang lainnya nanti aku ingat-ingat lagi, sekarang cukup itu dulu, ya".

"Huuu...dasar pelit!" kata Andi tapi dengan rasa terima kasih karena dibantu mengingat latihan-latihan awal mereka menulis dulu.

Jumat, 30 Mei 2008

Warna Ceria pada Buku Anak

Menjadi seorang penulis buku anak dirasakan banyak penulis sebagai hal yang sulit. Hal ini, ternyata juga dialami oleh Andi yang memang menulis apapun akan merasa kesulitan he..he..he...

Hari ini, Andi kembali mengunjungi Anto, sahabatnya, untuk bertanya mengenai masalah buku anak.

Sesampainya di rumah Anto, Andi langsung saja menyodorkan naskah cerita anak yang baru saja ditulisnya.

"Tolong liatin dong, Nto!" kata Andi pada sahabatnya yang juga tengah menulis sebuah naskah pesanan salah satu tabloid anak-anak.

"Ini naskah baru atau naskah lama?" tanya Anto tanpa memegang naskah Andi sama sekali.

"Naskah baru dong!" sambar Andi.

"Bagus atau lumayan atau kurang bagus atau bahkan jelek?" tanya Anto lagi tetap tanpa menyentuh naskah Andi.

"Pasti bagus!" yakin Andi pada Anto.

"Kalau pasti bagus, ya sudah, kirim aja. Nggak usah tanya pendapatku," celetuk Anto sekenanya.

"Yeee...dimintai tolong temen kok pelit banget sih!" protes Andi dengan nada kesel.

Bayangin aja! (harus bener-bener dibayangin, ya)

Waktu berangkat daari rumahnya menuju rumah Anto saja, perjalanan Andi penuh perjuangan. Baru sampai di depan gang rumahnya, Andi melihat Bang Joni (nama aslinya sih Yono, tapi karena lama di Jakarta dia rubah namanya jadi Joni. Kenapa bukan Yoni? Ya...klo Yoni kan kalah keren. Tapi Joni....wah nama orang gedongan tuh!)

Nah, pas melihat Bang Joni si tukang kredit itu, Andi langsung saja balik lagi ke rumahnya dan ngumpet sampe Bang Joni yang manggil-manggil namanya bosen dan meninggalkan rumahnya. Nggak perlu dong dikasih tahu alasan kenapa Andi harus kabur dari Bang Joni.

Yang kedua yang harus dialami Andi adalah begitu lolos di gang pertama, Andi masih harus bertemu dengan Juminten yang jualan jamu. Melihat Juminten yang agak-agak centil ini, Andi pun harus ngumpet di balik pohon sawo milik Pak Haji Safii. Baru setelah Juminten lewat, Andi buru-buru lari menuju rumah Andi.

Klo masalah, Juminten, sebenarnya, Andi nggak punya utang meski sering minum jamu tanpa bayar. Masalahnya adalah Andi udah kadung janji akan nikahin Juminten sejak Lebaran tiga tahun lalu. Nah itulah yang bikin Andi jadi malu hati klo harus ketemu sama Juminten.

Sedang perjuangan ketiga adalah Anjing milik Baba Liong. Anjing ini sebenarnya bukan anjing pengganggu. Tapi setiap kali Andi yang punya badan kurus kerempeng mirip tengkorak berjalan itu lewat di depan hidungnya, Anjing yang punya nama keren "Boy" ini selalu dengan semangat 45 berlari mengejar Andi. Kontan saja, Andi harus pontang-panting lari menyelamatkan diri sampai-sampai sandal jepitnya putus.

Setelah berhasil melewati tiga rintangan menuju rumah Anto, akhirnya Andi berhasil menyentuh gagang pintu rumah Anto dan kejadian selanjutnya pasti sudah pembaca ketahui bersama seperti yang sudah diceritakan di paragraf awal.

"Nah, jadi gimana?" tanya Andi lagi.

"Apanya yang gimana?" Anto balas bertanya.

"Makanya, dilihat dulu dong naskahku. Jangan cuman tanya-tanya melulu," Andi memprotes.

Sekilas Anto akhirnya membaca naskah yang disodorkan sahabatnya itu. Beberapa saat kemudian, Anto berkata, "Beberapa kali aku membaca karya penulis asing untuk menambah pengetahuanku dalam menulis cerita anak.

Karena keterbatasan pemahaman linguistik anak-anak, saat menulis cerita anak kadang kita tak leluasa membuat gaya bahasa seperti layaknya karya sastra untuk orang dewasa.

Oleh karena itu, pemilihan kata untuk anak mesti diperhatikan, sehingga kesederhanaan kalimat sering kita tampilkan. Tapi, kesederhanaan yang kamu buat juga mesti berbobot.

Aku pernah membaca beberapa tips dan trik yang bisa digunakan untuk memberikan "warna" pada buku cerita anak.

Yang pertama adalah membuat perumpamaan dengan kacamata anak-anak. Contohnya, Rida paling tidak suka melihat Tante Lina berpakaian. Tempo hari, Tante Lina sangat mirip terong raksasa yang bisa berjalan. Dari topi sampai sepatunya berwarna ungu tua. Iiiiii, padahal Rida paling malas melihat yang namanya terong.

Bisa kamu bayangin, kan gimana terong ungu berjalan?

Atau contoh lainnya, kamu bisa bikin kalimat seperti ini, Muka Doni pucat. Tiwi langsung ingat udang goreng yang disediakan ibu semalam di meja makan.

Atau yang lain seperti ini. Andi bertubuh kurus. Kurus sekali hingga disangka tengkorak jalan-jalan. Kalo orang menertawakan Andi karena mirip tengkorak, maka Anjing seringkali mengejarnya karena disangka tulang yang siap untuk dimakan," jelas Anto pelan-pelan.

"Wooooi!! Nggak usah pakai fisik dong. Gue emang kurus, tapi jangan dipakai untuk contoh!" protes Andi yang nggak terima fisiknya dijadikan bahan omongan.

"Lho...kan aku ngasih contoh nyata biar kamu lebih mengerti," Anto pun membela diri.

"Ya, udah nggak usah pakai fisik deh sekarang. Trus apalagi yang bisa kamu jelaskan?" tanya Andi akhirnya.

"Oke. Yang kedua adalah mendefinisikan istilah dengan polos. Contohnya aku ambilkan dari buku Konrad.

Kak Wita tadi bercerita soal pelajaran barunya di kelas pada Ibu.
Katanya, ada pelajaran tentang akar-akaran. Tapi yang kudengar bukan akar tumbuhan, tapi akar angka. Katanya, akar 16 itu 4, akar 100 itu 10. Aku bingung. Kalau akar sejuta mungkin pohonnya besar sekali.

Atau Lo bisa ambil contoh yang lain. Tentang Paparazi misalnya. Kamu bisa bikin dialog seperti,

Paparazi itu siapa sih, Oom? Pasti Indo ya? Namanya aneh. Trus, istrinya dipanggil Mama Razi, ya?

Nah, hal-hal seperti itu yang mungkin bisa menambah 'warna' pada naskah atau buku anak-anak kamu.

Senin, 26 Mei 2008

Young Adult

Memahami Genre Buku Cerita Anak #8

Young Adult

"Wah, leganya!" kata Anto.

"Gimana, nih? Ada nggak genre lain lagi?" tanya Andi.

"Masih ada, dong! Ini yang terakhir dan habis ini elo boleh langsung praktek atau langsung pulang terserah elo!" kata Anto.

"OKe! Genre yang terakhir adalah Young Adult!" teriak Anto sambil senyam-senyum melihat Andi yang melotot padanya karena tebakan asal-asalannya disebut sebagai genre terakhir oleh Anto.

"Young Adult ini adalah genre untuk anak usia 12 tahun ke atas. Panjang naskahnya antara 130 sampai 200 halaman.

Plot ceritanya bisa sangat "ruwet" dengan banyak karakter utama, meskipun tetap ada satu karakter yang difokuskan.

Tema-tema yang diangkat seringnya relevan dengan kehidupan remaja saat ini. Buku The Outsiders karta S.E. Hinton menjadi tonggak sejarah buku cerita anak di genre ini yang menceritakan permasalahan remaja saat itu ketika pertama kali diterbitkan pada tahun 1967.

Kategori new-age untuk usia 10 hingga 14 tahun juga perlu diperhatikan, terutama untuk buku-buku kelompok nonfiksi remaja.

Buku-buku di kelompok ini sedikit lebih pendek dibanding untuk kelompok usia 12 tahun ke atas, serta topik yang biasa diambil adalah fiksi dan nonfiksi itu lebih cocok untuk anak-anak yang telah melewati buku genre middle grade, tetapi belum siap membaca buku-buku fiksi atau belum mempelajari subjek nonfiksi yang materinya fitujukan untuk pembaca di kelas sekolah menengah.

Begitu. Nah, sekarang terserah deh kamu mau ngapain," kata Anto pada sahabatnya yang kelihatan mringas-mringis itu.

"A...a..aku.....aku mau nge-bom!!" teriak Andi yang langsung melesat secepat kilat menuju kamar mandi untuk nge-bom alias BAB.

"Dasar JOROK!!!!!!" teriak Anto.

Kamis, 22 Mei 2008

Middle Grade

Memahami Genre Buku Cerita Anak #7

Middle Grade

Setelah seteko kopi panas tersaji di atas meja, Anto mulai melanjutkan lagi penjelasannya tentang kopi..eh, sori tentang genre buku.

"Setelah beberapa genre buku yang sudah aku jelasin, masih ada jenis genre buku yang lain. Yaitu Middle Grade.

Genre ini untuk anak usia 8 sampai 12 tahun yang merupakan usia emas anak dalam membaca. Naskahnya lebih panjang, sekitar 100 sampai 150 halaman deh.

Ceritanya juga mulai kompleks juga, sama dengan Chapter Books. Di Middle Grade ini bagian-bagian sub-plot menampilkan banyak karakter tambahan yang berperan penting dalam jalinan cerita dan tema-temanya cukup modern.

Anak-anak di usia ini biasanya mulai tertarik dan mengidolakan karakter dalam cerita. Hal ini menjelaskan keberhasilan beberapa seri petualangan yang terdiri dari 20 atau lebih buku dengan tokoh yang sama.

Kelompok fiksinya beragam mulai dari fiksi kontemporer, sejaran, hingga sience-fiction atau petualangan fantasi. Sementara yang masuk kelompok nonfiksi antara lain biografi, iptek, dan topik-topik multibudaya."

"Tunggu," kata Andi, "Makin ke sini, kok makin aneh dan ribet genrenya? Ntar lama-lama bakal ada genre Young Adult segala".

"Ya...genre buku itu kan disesuaikan dengan genre atau tingkatan dan untuk siapa pembacanya, makanya.....hop!" teriak Anto yang melihat Andi mau menyela omongannya lagi.

"Ntar kita lanjutin, sekarang gantian gua yang mau pipis," kata Anto sambil langsung lari ke kamar mandi.

bersambung....

Senin, 12 Mei 2008

Chapter Books

Memahami Genre Buku Cerita Anak #6

Chapter Books


Setelah selesai mengeluarkan persediaan pipis di kantong kemihnya, Andi duduk kembali dan makan pisang goreng di atas meja (lho..bukannya pisang gorengnya dah habis di cerita ketiga? Kok sekarang nongol lagi? Tenang aja, soalnya, waktu Andi pipis, ada tukang gorengan lewat dan Anto membeli beberapa pisang goreng untuk menemani mereka ngobrol).

"Eh. elo nggak nanya dari mana pisang goreng yang barusan elo makan?" tanya Anto.

"Nggak perlu, ah! Kan, pembaca dah pada tahu sendiri. Barusan baca penjelasannya, kan?" jawab Andi sekenanya. "Udah deh lanjutin soal genre buku ini".

"Genre buku selanjutnya," kata Anto membuka penjelasannya kembali. "Adalah Chapter Books. Buku ini diperuntukkan bagi anak usia 7 hingga 10 tahun, terdiri dari naskah setebal 45-60 halaman yang dibagi dalam tiga hingga empat halaman per bab.

Kisahnya lebih padat dibanding genre transition books, walaupun tetap memakai banyak ramuan aksi petualangan.

Kalimat-kalimatnya mulai sedikit kompleks, tapi paragraf yang dipakai pendek (rata-rata 2-4 kalimat). Tipikal dari genre ini adalah cerita di akhir setiap bab dibuat menggantung di tengah-tengah sebuah kejadian agar pembaca penasaran dan terstimulasi untuk terus membaca bab-bab selanjutnya.

Serial Herbie Jones karangan Suzy Kline (Puffin Publishing) dan Ramona karya Beverly Cleary (Morrow Publishing) dikatakan masuk dalam genre buku anak ini."

"Udah, nih?" tanya Andi. "Sip dah. Klo masih ada lagi, buruan lanjutin penjelasannya biar sekalian tuntas"

"Buruan gundulmu itu, kopi dah habis nih. Bikin dong!" pinta Anto.

"Yeeee.... yang jadi tuan rumah kan situ. Ngapain aku harus bikinin kopi," protes Andi yang langsung disambit pisang goreng oleh Anto, kali ini pas kena di mulutnya.

"Woooke...woooke...wuaku wuighhinin ghoofi whhuak whhamhhu," kata Andi yang mulutnya masih keganjel pisang goreng anget. Maksud omongannya yang nggk karuan sih begini : "OKE-OKE! AKU BIKININ KOPI BUAT KAMU!'

bersambung....

Rabu, 07 Mei 2008

Transition Books

Memahami Genre Buku Cerita Anak #5

Transition Books


Setelah Anto benar-benar nggak nyemburin kopi ke mukanya lagi, Andi kembali duduk dengan tenang (sebenarnya sih nggak tenang-tenang amat. Soalnya kakinya masih siap siaga untuk melompat apabila Anto menyemburkan sesuatu dari mulut atau nyambitin sesuatu dari tangannya).

"Terusin deh, Nto," pinta Andi akhirnya.

"Oke. Tapi nggak usah pegangan kursi gitu dong. Santai aja," kata Anto. Setelah Andi terlihat benar-benar santai baru Anto melanjutkan penjelasannya.

"Nah, genre buku selanjutnya adalah Transition Books. Buku jenis ini disebut juga sebagai "chapter book tahap awal", untuk anak usia 6-9 tahun. Merupakan jembatan penghubung antara genre easy readers dan chapter books.

Gaya penulisannya persis serperti easy readers, namun lebih panjang (naskah biasanya sebanyak 30 halaman, dipecah menjadi 2-3 halaman per bab), ukuran trim per hlamannya lebih kecil lagi, serta dilengkapi dengan ilustrasi hitam-putih di beberapa halaman.

Serial The Kids of the Pols Stret School karya Patricia Reilly Giff (Dell Young Tearling Publishing) dan seri Stepping Stone Books yang diterbitkan Random House masuk dalam kelompok genre ini," kata Anto sambil meminum lagi kopi di atas meja yang langsung membuat Andi bersiap siaga lagi untuk mengeluarkan jurus langkah seribu nya.

"Eh, mau kemana Lo?" tanya Anto.

"Mau pipis dulu, ntar dilanjutin lagi, ya," jawab Andi sambil ngibrit ke kamar mandi karena udah nggak tahan pengin pipis.

bersambung...

Rabu, 16 April 2008

Memahami Genre Buku Cerita Anak #3

Early Picture Books

Setelah membersihkan meja yang kotor, Anto pun duduk kembali menemani sahabatnya yang haus akan informasi itu.

"Nah, jadi bagaimana?" tanya Andi tidak sabar.

"Yaelah, baru juga duduk. Kasih napas dulu, dong!" sahut Anto sambil terrtawa.

"Oke, setelah dua genre yang sudah kusebutkan tadi, genre yang ketiga adalah Early Picture Books. Genre ini...," belum selesai Anto berbicara, Andi langsung menyambar. "Wah, ngaco nih! Mentang-mentang awalnya ada Picture Books, trus selanjutnya kamu bikin ada ilernya picture books. Ntar, lama-lama ada pipisnya atau ompolnya picture books lagi".

"Lho?! Siapa yang ngomongin iler?" tanya Anto kebingungan.

"Wah, jangan anggap aku orang bodoh, Nto. Biar gini-gini aku masih ada turunan einsten lho," sesumbar Andi yang tentunya makin nunjukkin (waduh nggak tega ngomongnya neh!). Pokoknya tahu sendiri lah!

"Aku kan tadi ngomong early bukan iler. Dan itu aku nggak mengada-ada. Memang dari yang pernah aku baca, genre buku cerita anak ya...kayak gitu," jelas Anto.

"Ya, terserah deh! Lawan kamu gua pasti kalah!" kata Andi.

Anto yang mendengar sahabatnya itu nggak mau tahu cuman geleng-geleng kepala. "Nggak ilang-ilang adat yang sok tahu dari anak ini," batin Anto, tapi kemudian mulutnya berkata, "Oke! Aku lanjutin nih. Genre Early Picture Books ini sebentuk dengan picture books. Namun, dilengkapi sedemikian rupa untuk usia-usia akhir di batas 4 hingga 8 tahun.

Ceritanya sederhana dan berisi kurang dari 1.000 kata. Banyak buku genre ini yang dicetak ulang dalam format board book untuk melebarkan jangkauan pembacanya.

The Very Hungry Caterpilar (Philomel Publishing) karya Eric Carle adalah salah satu contohnya".

"Nah, gimana? Dah paham?" tanya Anto sambil menghirup lagi secangkir kopi panasnya.

"Ya..lumayanlah. Cuman tunggu dulu ya. Aku mau nyatet keterangan kamu tadi biar bisa kuhapal dan kubaca lagi kalau aku perlu. Coba ulangi lagi dari awal penjelasanmu," pinta Andi sambil mencari kertas dan pena, sedangkan Anto yang mendengar permintaan Andi langsung saja tersedak dan akibatnya muncratan air kopi dari mulutnya nyampe juga ke wajah Andi (wuih...sadis banget, gimana rasanya kena muncratan kopi dari mulut gitu, ya? Tapi sengaja tidak digambarkan disini, biar nggak pada muntah. Tapi klo mau ngebayangin sendiri juga nggak papa kok. He.he.he.he...)

Bersambung

Minggu, 06 April 2008

Memahami Genre Buku Cerita Anak #2

Memahami Genre Buku Cerita Anak #2

Picture Books

Setelah memakan habis kedua potong sisa singkong rebus itu, Andi kembali menagih janji pada Anto.

"Ayo, Nto. Apalagi genre buku yang lain?" desak Andi.

"Sabar, dong. Minum juga belum? Keselek nih!" protes Anto yang segera minum kopi dari teko di depannya.

"Bruaaaahhh!" sembur Anto ke wajah Andi yang langsung loncat-loncat karena wajahnya kena sembur kopi panas.

"Woi! Gimana seh, masa wajah sahabat sendiri disembur pakai kopi panas!" protes Andi.

"Sori dori mori ketabrak lori di pagi hari, Ndi. Baru terasa panas banget setelah kopinya masuk mulut," jawab Anto dengan penuh penyesalan.

"Sori dori nggak tahu diri!" Balas Andi. "Makan singkong rebus panas, mulut kamu kuat, kenapa minum kopi panas jadi nggak kuat?"

"Ya, makan dan minum kan dua hal yang berbeda. Sudahlah, kita lanjutkan penjelasannya," kata Anto sambil membersihkan semburan kopi panasnya yang tumpah di sekitar meja.

"Oh ya, yang kedua yang masuk dalam genre buku cerita anak adalah Picture Books. Pada umumnya, picture books berbentuk buku setebal 32 halaman untuk anak usia 4-8 tahun. Naskahnya bisa mencapai 1.500 kata, namun rata-rata 1000 kata saja.

Plotnya masih sederhana, dengan satu karakter utama yang seutuhnya menjadi pusat perhatian dan menjadi alat penyentuh emosi dan pola pikir anak. Ilustrasi memainkan peran yang sama besar dengan teks dalam penyampaian cerita. Buku anak pada genre ini bisa menggunakan lebih dari 1.500 kata, biasanya sebagai persiapan bagi pembaca yang memasuki masa-masa puncak di spektrum usianya.

Buku genre ini sudah membicarakan topik serta menggunakan gaya penulisan yang luas dan beragam. Cerita Nonfiksi dalam format ini dapat menjangkau sampai usia 10 tahun, dengan tebal sampai 48 halaman, dan berisi hingga 2.000 kata dalam teksnya".

"Hem...aku mulai banyak tahu nih. Masih ada lagi?" tanya Andi.

"Masih dong! Cuman ntar dulu ya. Aku bersihin meja ini dulu biar enak kita ngobrolnya," jawab Anto sambil mengelap meja yang kotor kena tumpahan kopi tadi.

Bersambung.......

Memahami Genre Buku Cerita Anak #1

Memahami Genre Buku Cerita Anak #1

Baby Books

Setelah bertemu secara tidak sengaja dengan Boim Lebon, Andi sekarang kembali mau mendengar kritik dan saran dari orang lain, terlebih dari Anto, sahabatnya yang sedari awal membantu dan mendampingi Andi dalam meniti cita-citanya sebagai seorang penulis cerita anak.

"Nto, aku minta maaf, ya. Sekarang aku mau mendengar lagi saran dan kritikmu," kata Andi setelah masuk ke rumah Anto.

Anto hanya tersenyum mendengar kata-kata sahabatnya itu.

"Ya, aku sudah maafin kamu sebelum kamu minta maaf. Lagian, nggak ada yang perlu dimaafkan. Perasaan kamu bahwa tidak perlu meminta saran orang lain lagi terkadang memang diperlukan untuk menumbuhkan rasa percaya diri kita," kata Anto panjang lebar sambil menambahkan, "Aku sendiri terkadang juga langsung mengirim naskah tanpa bertanya pada siapapun. Kuanggap semua proses dari pembuatan sampai editing yang kulakukan telah maksimal. Dan hasilnya, ada yang langsung dimuat dan ada pula yang dikembalikan tentunya dengan catatan-catatan tambahan."

"Iya juga sih. Aku merasa bahwa selama ini aku sudah banyak tahu tentang buku cerita anak, ternyata masih banyak yang aku belum ketahui," keluh Andi.

"Aku merasa sudah mengetahui perbedaan dan genre yang ada dalam buku cerita anak, tapi sebenarnya, aku juga masih bingung, masuk ke kategori apakah cerita yang sedang aku kerjakan itu," makin panjang keluhan Andi.

Seperti biasa, Anto hanya tersenyum dan sembari meletakkan singkong rebus dan kopi panas, Anto berkata, "Kalau kamu masih mau mendengar penjelasanku, aku ada beberapa informasi yang ingin kubagi denganmu".

"Tak perlu menyindirku begitu, Nto. Kalau ada informasi, langsung saja kasih tahu aku. Aku sudah malu untuk bertanya," kata Andi.

"Oke. Sebenarnya tidak terlalu sulit untuk memasukkan ke dalam kategori atau ke dalam genre apa cerita yang kau buat. Yang aku tahu, genre dalam buku cerita anak itu terbagi beberapa genre.

Yang pertama, adalah Genre Baby Books.

Genre ini diperuntukkan bagi bayi dan batita atau bawah tiga tahun. Kebanyakan materinya berupa pantun dan nyanyian sederhana atau bahasa inggrisnya lullabies and nirsey rhymes, bisa juga permainan dengan jari, atau sekedar ilustrasi cerita tanpa kata-kata sama sekali. Kalau yang model cerita tanpa kata-kata berarti sepenuhnya mengandalkan ilustrasi serta kreativitas orang tua dan anak untuk berimajinasi.

Panjang cerita dan formatnya beragam, disesuaikan dengan isi materi. Buku-buku untuk batita biasanya berupa cerita sederhana berisi kurang dari 300 kata. Ceritanya terkait erat dengan keseharian anak, atau bermuatan edukatif tentang pengenalan warna, angka, bentuk, dan lain-lain."

Anto menghentikan penjelasannya dulu untuk menyeruput kopi panasnya dan mengambil sepotong singkong rebus sembari tak lupa mempersilahkan Andi untuk mengambilnya.

"Terima kasih," kata Andi sambil melanjutkan, "Berapa jumlah halaman yang diperlukan bagi buku bergenre Baby Books? Apakah sama dengan novel cerita anak yang kubuat kemarin?"

"Tentu saja tidak," jawab Anto. "Jumlah halaman bagi Baby Books sekitar 12 dan banyak yang berbentuk board books, maksudnya buku yang kertasnya sangat tebal, seperti karton itu, lho. Kemudian ada yang berbentuk pop-ups...," belum selesai Anto menjelaskan, Andi sudah menyela. "Pop Corn? Emang ada genre buku yang menghasilkan makanan Pop Corn, kayak mau nonton bioskop aja, dikasih Pop Corn?"

"Bukan Pop Corn, tapi Pop-Ups. Makanya dengerin yang bener, jangan makan mulu. Kebanyakan makan, kupingmu jadi kesumpet tuh," semprot Anto yang kesal karena singkong rebusnya tinggal dua potong lagi. Padahal, Anto tadi menyiapkan sebanyak 12 potong, jadi, sudah 9 potong yang dimakan Andi dalam keadaan panas ngebul-bul.

Setelah Andi minta maaf dan dua potong singkong rebus itu dipindah Anto ke sebelah tempat duduknya, Anto kembali melanjutkan penjelasannya. "Maksudnya Pop-Ups itu adalah buku yang halamannya berbentuk tiga dimensi.

Selain itu, ada juga Lift-the Flaps atau buku-buku khusus seperti buku yang dapat bersuara, buku yang memiliki format unik atau dengan tekstur tertentu".

"Terus yang lainnya, apa?" tanya Andi.

"Ntar dulu deh. Aku makan sisa singkong rebus ini dulu. Ntar baru aku tambahin penjelasannya," Jawab Anto yang segera memasukkan kedua potong sisa singkong rebus yang masih panas itu ke dalam mulutnya. (Wah, ternyata Andi dan Anto sama-sama doyan singkong rebus yang masih panas ngebul-ngebul. Nggak mlonyot apa tuh bibir mereka, ya)

Bersambung....