Sudah lama Andi tak bertemu dengan Anto, sahabat karibnya. Hari itu, tiba-tiba saja Andi berkunjung ke rumah Anto dan tanpa permisi langsung menghempaskan pantatnya ke kursi malas yang ada di depan rumah Anto. Dengan menghela nafas panjang, Andi hanya menoleh ke dalam rumah sahabatnya itu tanpa memanggilnya walaupun pintu rumah Anto terbuka.
Kebetulan saat itu, Anto sedang membawa setumpuk pakaian basah yang baru saja dicucinya. Saking banyaknya tumpukan pakaian itu, sampai-sampai ia tidak dapat melihat ke depan. Anto pun berjalan sambil mengira-ngira apakah ada halangan atau tidak di depannya. Karena konsentrasi penuh, Anto tidak mengetahiu kalau Andi sedari tadi duduk di kursi malas yang ada di sebelah pintu dan dengan cepat setelah melewaeti pintu rumahnya, Anto meletakkan tumpukan pakaian basah yang dibawanya itu dengan maksud untuk beristirahat dan memperhatikan hendak dijemur dimana pakaiannya itu.
Tiba-tiba…
"Wadaw!!!" teriak Andi yang kaget karena tiba-tiba dirinya kejatuhan pakaian basah.
"Wadaw juga!!!" Anto yang juga kaget spontan berteriak latah.
"Apa-apaan kau ini, Nto?!" semprot Andi yang seluruh tubuhnya jadi setengah basah (bukan setengah mati, ye!).
"Apa-apaan?! Kamu itu yang apa-apaan?! Sejak kapan kamu duduk disitu? Lagian datang-datang bukannya ngucap salam malah duduk diam di teras rumah orang. Kayak maling aja, tahu!!" semprot Anto tak mau kalah.
Baru bertemu, kedua sahabat itu langsung terlibat pertengkaran seru. Setelah saling mengeluarkan kekesalannya masing-masing, akhirnya kedua sahabat itu berdamai dan saling meminta maaf.
"Maaf sih boleh saja. Tapi, gimana dengan cucianku, nih?! Capek-capek aku nyucinya, sekarang jadi kotor lagi, deh," keluh Anto sambil melihat cucian basahnya yang berhamburan di lantai.
"Ya sudah. Kita bilas lagi aja," ajak Andi yang juga merasa bersalah.
Mereka berduapun segera memunguti cucian basah milik Anto dan membilasnya di kamar mandi.
"Eh, ada kabar apaan? Tumben kamu main ke sini?" tanya Anto pada Andi sambil mengguyur cuciannya dengan air bersih.
"Nggak ada apa-apa, kok," jawab Andi berbohong.
"Alaaaa… nggak usah bohong, deh. Aku tahu kalau mukamu kusut begitu, berarti kamu lagi ada masalah, Iya, kan?!" tanya Anto lagi.
"Hooh, nih. Sebenarnya aku lagi kesel banget," jawab Andi akhrinya.
"Kenapa?" tanya Anto.
"Kemaren, aku ke sebuah penerbit dan bernegosiasi soal royalti. Tapi ternyata mereka pelit banget. Akhirnya, aku pulang dan membatalkan naskahku yang akan diterbitkan mereka," kata Andi menceritakan kekesalannya.
"Hmmm… memang berapa royalti yang mereka tawarkan padamu?" tanya Anto yang ingin mengetahui lebih jelas duduk permasalahannya.
"7 persen," jawab Andi singkat.
"Loh, itukan angka yang wajar. Kenapa kamu tolak?" tanya Anto heran.
"Aku maunya royalti 20 persen. Kalau cuman 7 persen, aku nggak bisa cepet kaya, dong!!" sergah Andi yang merasa Anto tidak mendukungnya.
Mendengar jawaban sahabatnya, Anto tertawa sambil memberikan celana jeans yang baru saja diguyurnya dengan air bersih pada Andi.
"Andi… Andi. 7 persen itu adalah angka royalti yang wajar di setiap penerbit. Kalau kamu maunya 20 persen, nggak akan ada penerbit yang mau nerbitin naskah kamu. Lagian, siapa kamu minta royalti setinggi langit begitu," kata Anto menertawakan sahabatnya yang dianggapnya keterlaluan dalam menentukan tarif royaltinya.
Sambil memeras celana jeans yang baru saja diterimanya dari Anto, Andi bertanya balik, "Memang kenapa kalau aku mau 20 persen? Sah-sah saja, kan, permintaanku?"
"Tentu saja sah. Tapi, tidak akan ada yang bersedia menerbitkan naskahmu dan kamu hanya akan berangan-angan mendapatkan royalti 20 persen tanpa pernah merasakan royalti tersebut," jawab Anto sambil menyerahkan sebuah kaos oblong pada Andi.
"Umumnya, penerbit akan menawarkan royalti kepada penulis sekitar 6 sampai 12 persen, meskipun ada juga yang menawarkan hingga 20 persen.. "
"Nah, tuh, kan. Ada yang nawarin 20 persen. Kenapa kamu bilang aku nggak boleh dan nggak mungkin mendapat royalti 20 persen?!" serobot Andi sebelum Anto menyelesaikan penjelasannya.
"Dengar dulu kata-kataku," ucap Anto yang sedikit kesal pada ketidaksabaran Andi.
"Untuk menentukan besaran royalti itu, penerbit akan melihat dulu kapasitas penulis, kelayakan naskah dan juga perkiraan penjualannya dan setiap penulis bisa mendapatkan royalti yang berbeda-beda. Tapi, ada juga yang tidak ingin dibayar secara royalti tapi ingin dibayar flat fee," tambah Anto.
"Apa itu flat fee?" tanya Andi sambil menerima kaos dalam dari tangan Anto setelah selesai memeras kaos oblong sahabatnya itu.
"Flat fe itu adalah pembayaran dengan cara beli putus. Di sini, angka yang ditawarkan sesuai dengan hasil tulisannya, penulisnya siapa, dan perkiraan penjualannya. Untuk penulis baru, jelas tidak sama jumlah yang didapatkannya dengan penulis yang telah mempunyai banyak karya," jawab Anto.
"Emang berapa angkanya?" tanya Andi.
"Ya… sekitar 3 sampai 30 jutaan lah," jawab Anto sambil menyerahkan celana dalamnya yang baru saja diguyur air pada Andi.
"Oh.. begitu. Wadawww apaan nih?!" jerit Andi sambil melemparkan celana dalam yang diterimanya.
"Loh, kok dibuang, sih?!" tanya Anto sewot sambil menambahkan, "Itukan celana dalamku. Emang kamu nggak pernah pegang celana dalam apa?"
"Megang sih pernah. Tapi punyaku sendiri. Kalau punya orang lain mah, cuci dan bilas aja sendiri," kata Andi sambil melangkah keluar dari kamar mandi dan meninggalkan Anto sendiri yang memandang celana dalamnya yang nyemplung ke WC akibat dilemparkan Andi tadi.
Blog ini mencoba menyuguhkan teknik yang berbeda mengenai tips dan trik bagaimana menulis sebuah cerita untuk anak! Jujur, saya banyak mendapatkan referensi dari berbagai milis dan saya coba tuangkan dalam bentuk "pembelajaran" yang berbeda, yaitu melalui dialog dua orang yang bernama Anto dan Andi.
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Kamis, 29 Juli 2010
Kamis, 05 November 2009
Mengirim Naskah Ke Penerbit
Sambil berlari-lari menghindari genangan air akibat hujan deras semalam, Andi berusaha secepat mungkin tiba di rumah sahabatnya, Anto.
Akhirnya, dengan terengah-engah sampai juga Andi di teras rumah Anto (jadi belum sampai masuk rumah, ya. Hal ini perlu diperjelas karena terkadang pembaca suka salah menafsirkan tulisan..hehehe just kidding).
"Assalamualaikum," teriak Andi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam... ," setelah beberapa lama hening akhirnya terdengar jawaban dari dalam rumah.
Begitu pintu rumah dibuka, tampaklah Anto dengan tubuh yang masih basah dan penuh dengan busa sabun. Andi yang melihatnya langsung terlompat kaget (lompatnya dikit doang, kok).
"Astagfirullah!!" teriak Andi sambil melompat (penjelasan melompat ada di alinea atas, ya).
"Hei, emang kenapa kaget gitu. Orang lagi mandi, kamunya malah datang. Ntar kalo nggak dibuka katanya kelamaan. Klo dibuka sekarang.. ya begini jadinya," kata Anto sekenanya.
"Ya... sudahlah. Kamu terusin aja mandinya. Aku tunggu di ruang tamu," kata Andi sambil nyelonong masuk dan langsung duduk di kursi, sedangkan Anto kembali melanjutkan mandinya yang tertunda.
Tak berapa lama kemudian, Anto keluar dari kamarnya dengan dandanan yang rapi jali dan badan yang harum mewangi.
"Eits!! Wangi amat," mau nglamar kerja dimana?" tanya Andi.
"Bukan nglamar kerja, tapi mau nglamar penerbit biar naskahku diterbitkan," jawab Anto.
"Oh gitu toh! Emang gimana caranya nglamar penerbit?" tanya Andi lagi.
Mendengar pertanyaan Andi, Anto langsung tahu bahwa sahabatnya itu tidak bisa dipuaskan dengan jawaban-jawaban yang singkat. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjelaskan cara melamar penerbit agar mau menerbitkan naskahnya dengan sejelas-jelasnya.
"Begini, yang pertama tentunya kita harus memastikan dahulu bahwa penerbit yang akan kita lamar itu membutuhkan naskah seperti yang sedang kita tulis," kata Anto.
"Bagaimana caranya kita tahu bahwa penerbit itu membutuhkan naskah sesuai yang kita tulis?" sambar Andi dengan pertanyaan.
"Ya... kita kan bisa menelepon penerbit itu lalu tanya sana tanya sini yang berhubungan dengan naskah dan penerbit itu sendiri," jawab Anto.
"Ih.. SKSD tuh!" celetuk Andi.
"Apaan tuh SKSD?" tanya Anto.
"Sok Kenal Sok Dekat! Lom kenal siapa-siapa sudah main tanya sana tanya sini. Apa bukan SKSD tuh!" jawab Andi.
"Ya.... kan kalo lom kenal, pada saat telpon itu kita bisa sekalian kenalan. Kan ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Kalo nggak kenalan trus tanya sana tanya sini, itu namanya nggak tahu etika," kata Anto sambil menambahkan, "mau dilanjutin nggak penjelasannya?"
"Mau... mau," kata Andi.
"Nah, itu tadi yang pertama. Kita mesti memastikan bahwa penerbit yang kita hubungi membutuhkan naskah yang sedang kita tulis.
Kemudian yang kedua, print-lah karya kita secara rapi dengan sampul depan dan belakang. Jangan lupa sertakan sinopsisnya jika karya kita itu sebuah novel. Jika karya kita berupa seri buku anak-anak, maka sertakan pula konsep produknya yang mengandung unsur-unsur kelebihan naskah tersebut dari buku lain. Untuk ini, kita bisa menampilkan visualisasinya ataupun desain covernya dan jangan lupa CV lengkap kita.
Yang ketiga, tulis besar-besar di pojok amplop jenis naskah yang kita kirim, misalkan Novel Misteri. Tulis nama editor yang pernah ngobrol dengan kita di telepon. Oh ya, waktu ngirim naskah pergunakan jasa pengiriman kilat khusus semacam TIKI, kemudian simpan resinya sebagai tanda bukti.
Kemudian yang keempat, setelah seminggu dikirim, coba telepon ke editor yang pernah berkomunikasi dengan kita, tanyakan apakah naskah kita telah tiba dengan selamat," jelas Anto panjang lebar.
"Sudah pakai jasa pengiriman kilat khusus, masa nggak sampai sih?" tanya Andi memotong penjelasan Anto.
"Ya.. kemungkinan itu pasti ada. Makanya resinya disimpan yang rapi supaya dapat dipergunakan sebagai bukti apabila menanyakan naskah kita yang nggak sampai ke alamat tujuan.
Sudah sekarang kita lanjut ke poin nomer lima. Setelah naskah kita sampai dengan selamat, tunggu selama satu hingga tiga bulan. Jika lebih dari tiga bulan tidak ada kabar berita, sebaiknya ditarik kembali dan memulai proses dari awal. Tapi kalo ada jawaban dari penerbitnya, maka naskah kita layak terbit dan itu berarti peluang untuk terbit semakin besar.
Tapi, proses ini baru sampai di editor akuisisi, nanti naskah kita akan melewati proses rapat-rapat lanjutan dan pada rapat lanjutan ini bagian marketing akan mencari info di pasar, penanggung jawab naskah tersebut akan mencari referensi tambahan dan copy edtornya akan membaca berulang kali kalau naskah tersebut jadi terbit. Jadi, siap-siap untuk masuk jadwal edit. Selain itu, editor development juga siap-siap mencari referensi visual dan desain serta layoutnya."
"Wah, ternyata perjalanan sebuah naskah itu ribet juga, ya," kata Andi sambil merenung.
"Udah nggak usah banyak merenung, pokoknya sekarang Stop Dreaming Start Action," kata Anto sambil melanjutkan, "Yang keenam, jika naskah kita kemudian dinyatakan akan diterbitkan, segera minta surat perjanjian. Baca satu per satu pasal yang ada dalam surat perjanjian tersebut. Jangan sampai ada yang terlewat. Kadang penulis pemula yang naskahnya baru pertama kali akan diterbitkan sering melupakan hal ini. Dia tidak perduli isi surat perjanjian tersebut karena yang terbayang di benaknya adalah naskahnya yang siap menjadi buku.
Jadi, di poin keenam ini, kita harus jeli memperhatikan apa judulnya sudah sesuai, berapa nilai kontraknya, berapa royaltinya, bagaimana cara pembayarannya, berapa lama kira-kira naskah kita akan diproses. Apakah tiga bulan atau satu tahun. Pokoknya kalo ada yang aneh, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya.
Lantas, bagaimana kalo setelah masa perjanjian, buku kita belum terbit juga? Nah, ini masuk ke dalam poin selanjutnya atau yang ketujuh. Apabila setelah masa perjanjian terlewati, naskah kita belum terbit juga, segera tanyakan kepada editor yang menjadi penanggungjawab naskah tersebut. Jangan menanyakan hal ini kepada bagian keuangan, OB atau resepsionisnya, pasti jawabannya akan sukses membingungkan kita...hehehe...," kata Anto mencoba melucu. Tapi melihat Andi tidak tersenyum apalagi tertawa, Anto menyadari bahwa Andi sedang mendengarkan penjelasannya secara cermat.
Oleh karena itu, Anto kembali melanjutkan penjelasannya, "Kebalikan dari poin tujuh adalah poin delapan, yaitu bagaimana jika tiba-tiba sudah terbit dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Malah dikasih tahu orang lain. Pasti kita surpraise dan bangga dunks. Tapi, menyikapi hal ini bukan surparise atau kebanggaan yang seharusnya kita tonjolkan melainkan segeralah telepon untuk mendapat penjelasan dari editor atau pihak penerbitnya.
Tindakan ini sah-sah saja bahkan harus kita lakukan. Apabila dasar hukumnya kuat, kita bahkan bisa meminta agar buku yang telah diedarkan ditarik kembali."
"Lho, kok poin ketujuh dan kedelapan bisa terjadi. Bukankah lembaga penerbitan itu lembaga yang telah mempunyai prosedur kerja yang baku dan tidak sembarangan saja cara kerjanya?" tanya Andi yang tampak kebingungan.
Mendengar pertanyaan Andi, Anto tersenyum dan memuji ketelitian sahabatnya itu. "Kenapa bisa terjadi? Ya, bisa saja editor kan juga manusia. Pada intinya, kejadian pada poin ketujuh dan kedelapan dapat terjadi dikarenakan banyak faktor, diantaranya adanya rotasi jabatan pada perusahaan tersebut, atau ada orang baru yang menangani proyek buku kita, atau bisa jadi lagi pihak penerbit sudah berusaha menghubungi kita, tapi kitanya lagi nggak berada di bumi. Hehehe..lebay banget, ya?
Pokoknya, kalau alasan yang pertama, yaitu rotasi jabatan yang terjadi, kita bisa mengatakan bahwa ini kesalahan dari atasannya, karena atasannya wajib meminta laporan sedetil mungkin kepada editor yang pernah ada di bawahnya. Jadi semua proses naskah yang akan terbit, sedang dikerjakan, sedang dibaca atau masih antri untuk dibaca semua harus dimiliki oleh atasannya sehingga poin ke tujuh dan kedelapan tidak harus terjadi," urai Anto sambil menambahkan, "Ya sudah. Aku mau berangkat dulu, ntar keburu siang dan editor yang menungguku bisa-bisa kabur entah kemana."
"Okelah kalo begitu. Aku juga mau ikut kamu ke penerbit," kata Andi sambil berdiri dari duduknya.
"Lho, ngapain?" Anto bertanya dengan heran.
"Aku kan juga mau memasukkan naskahku ke penerbit," jawab Andi singkat.
"Memang...," tanya Anto yang keburu dipotong oleh Andi.
"Memang semua yang barusan kamu katakan sudah kulakukan. Pokoknya aku yakin naskahku kali ini akan diterbitkan. Jadi, yuk kita berangkat," potong Andi sambil menunjukkan amplop besar yang sedari tadi ditentengnya.
Akhirnya kedua sahabat itu berangkat bersama dengan membawa mimpi-mimpi indah tentang buku mereka yang meledak di pasaran menjadi buku BEST SELLER!!
Akhirnya, dengan terengah-engah sampai juga Andi di teras rumah Anto (jadi belum sampai masuk rumah, ya. Hal ini perlu diperjelas karena terkadang pembaca suka salah menafsirkan tulisan..hehehe just kidding).
"Assalamualaikum," teriak Andi mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam... ," setelah beberapa lama hening akhirnya terdengar jawaban dari dalam rumah.
Begitu pintu rumah dibuka, tampaklah Anto dengan tubuh yang masih basah dan penuh dengan busa sabun. Andi yang melihatnya langsung terlompat kaget (lompatnya dikit doang, kok).
"Astagfirullah!!" teriak Andi sambil melompat (penjelasan melompat ada di alinea atas, ya).
"Hei, emang kenapa kaget gitu. Orang lagi mandi, kamunya malah datang. Ntar kalo nggak dibuka katanya kelamaan. Klo dibuka sekarang.. ya begini jadinya," kata Anto sekenanya.
"Ya... sudahlah. Kamu terusin aja mandinya. Aku tunggu di ruang tamu," kata Andi sambil nyelonong masuk dan langsung duduk di kursi, sedangkan Anto kembali melanjutkan mandinya yang tertunda.
Tak berapa lama kemudian, Anto keluar dari kamarnya dengan dandanan yang rapi jali dan badan yang harum mewangi.
"Eits!! Wangi amat," mau nglamar kerja dimana?" tanya Andi.
"Bukan nglamar kerja, tapi mau nglamar penerbit biar naskahku diterbitkan," jawab Anto.
"Oh gitu toh! Emang gimana caranya nglamar penerbit?" tanya Andi lagi.
Mendengar pertanyaan Andi, Anto langsung tahu bahwa sahabatnya itu tidak bisa dipuaskan dengan jawaban-jawaban yang singkat. Akhirnya, dia memutuskan untuk menjelaskan cara melamar penerbit agar mau menerbitkan naskahnya dengan sejelas-jelasnya.
"Begini, yang pertama tentunya kita harus memastikan dahulu bahwa penerbit yang akan kita lamar itu membutuhkan naskah seperti yang sedang kita tulis," kata Anto.
"Bagaimana caranya kita tahu bahwa penerbit itu membutuhkan naskah sesuai yang kita tulis?" sambar Andi dengan pertanyaan.
"Ya... kita kan bisa menelepon penerbit itu lalu tanya sana tanya sini yang berhubungan dengan naskah dan penerbit itu sendiri," jawab Anto.
"Ih.. SKSD tuh!" celetuk Andi.
"Apaan tuh SKSD?" tanya Anto.
"Sok Kenal Sok Dekat! Lom kenal siapa-siapa sudah main tanya sana tanya sini. Apa bukan SKSD tuh!" jawab Andi.
"Ya.... kan kalo lom kenal, pada saat telpon itu kita bisa sekalian kenalan. Kan ada pepatah, tak kenal maka tak sayang. Kalo nggak kenalan trus tanya sana tanya sini, itu namanya nggak tahu etika," kata Anto sambil menambahkan, "mau dilanjutin nggak penjelasannya?"
"Mau... mau," kata Andi.
"Nah, itu tadi yang pertama. Kita mesti memastikan bahwa penerbit yang kita hubungi membutuhkan naskah yang sedang kita tulis.
Kemudian yang kedua, print-lah karya kita secara rapi dengan sampul depan dan belakang. Jangan lupa sertakan sinopsisnya jika karya kita itu sebuah novel. Jika karya kita berupa seri buku anak-anak, maka sertakan pula konsep produknya yang mengandung unsur-unsur kelebihan naskah tersebut dari buku lain. Untuk ini, kita bisa menampilkan visualisasinya ataupun desain covernya dan jangan lupa CV lengkap kita.
Yang ketiga, tulis besar-besar di pojok amplop jenis naskah yang kita kirim, misalkan Novel Misteri. Tulis nama editor yang pernah ngobrol dengan kita di telepon. Oh ya, waktu ngirim naskah pergunakan jasa pengiriman kilat khusus semacam TIKI, kemudian simpan resinya sebagai tanda bukti.
Kemudian yang keempat, setelah seminggu dikirim, coba telepon ke editor yang pernah berkomunikasi dengan kita, tanyakan apakah naskah kita telah tiba dengan selamat," jelas Anto panjang lebar.
"Sudah pakai jasa pengiriman kilat khusus, masa nggak sampai sih?" tanya Andi memotong penjelasan Anto.
"Ya.. kemungkinan itu pasti ada. Makanya resinya disimpan yang rapi supaya dapat dipergunakan sebagai bukti apabila menanyakan naskah kita yang nggak sampai ke alamat tujuan.
Sudah sekarang kita lanjut ke poin nomer lima. Setelah naskah kita sampai dengan selamat, tunggu selama satu hingga tiga bulan. Jika lebih dari tiga bulan tidak ada kabar berita, sebaiknya ditarik kembali dan memulai proses dari awal. Tapi kalo ada jawaban dari penerbitnya, maka naskah kita layak terbit dan itu berarti peluang untuk terbit semakin besar.
Tapi, proses ini baru sampai di editor akuisisi, nanti naskah kita akan melewati proses rapat-rapat lanjutan dan pada rapat lanjutan ini bagian marketing akan mencari info di pasar, penanggung jawab naskah tersebut akan mencari referensi tambahan dan copy edtornya akan membaca berulang kali kalau naskah tersebut jadi terbit. Jadi, siap-siap untuk masuk jadwal edit. Selain itu, editor development juga siap-siap mencari referensi visual dan desain serta layoutnya."
"Wah, ternyata perjalanan sebuah naskah itu ribet juga, ya," kata Andi sambil merenung.
"Udah nggak usah banyak merenung, pokoknya sekarang Stop Dreaming Start Action," kata Anto sambil melanjutkan, "Yang keenam, jika naskah kita kemudian dinyatakan akan diterbitkan, segera minta surat perjanjian. Baca satu per satu pasal yang ada dalam surat perjanjian tersebut. Jangan sampai ada yang terlewat. Kadang penulis pemula yang naskahnya baru pertama kali akan diterbitkan sering melupakan hal ini. Dia tidak perduli isi surat perjanjian tersebut karena yang terbayang di benaknya adalah naskahnya yang siap menjadi buku.
Jadi, di poin keenam ini, kita harus jeli memperhatikan apa judulnya sudah sesuai, berapa nilai kontraknya, berapa royaltinya, bagaimana cara pembayarannya, berapa lama kira-kira naskah kita akan diproses. Apakah tiga bulan atau satu tahun. Pokoknya kalo ada yang aneh, jangan sungkan-sungkan untuk bertanya.
Lantas, bagaimana kalo setelah masa perjanjian, buku kita belum terbit juga? Nah, ini masuk ke dalam poin selanjutnya atau yang ketujuh. Apabila setelah masa perjanjian terlewati, naskah kita belum terbit juga, segera tanyakan kepada editor yang menjadi penanggungjawab naskah tersebut. Jangan menanyakan hal ini kepada bagian keuangan, OB atau resepsionisnya, pasti jawabannya akan sukses membingungkan kita...hehehe...," kata Anto mencoba melucu. Tapi melihat Andi tidak tersenyum apalagi tertawa, Anto menyadari bahwa Andi sedang mendengarkan penjelasannya secara cermat.
Oleh karena itu, Anto kembali melanjutkan penjelasannya, "Kebalikan dari poin tujuh adalah poin delapan, yaitu bagaimana jika tiba-tiba sudah terbit dengan tanpa pemberitahuan terlebih dahulu? Malah dikasih tahu orang lain. Pasti kita surpraise dan bangga dunks. Tapi, menyikapi hal ini bukan surparise atau kebanggaan yang seharusnya kita tonjolkan melainkan segeralah telepon untuk mendapat penjelasan dari editor atau pihak penerbitnya.
Tindakan ini sah-sah saja bahkan harus kita lakukan. Apabila dasar hukumnya kuat, kita bahkan bisa meminta agar buku yang telah diedarkan ditarik kembali."
"Lho, kok poin ketujuh dan kedelapan bisa terjadi. Bukankah lembaga penerbitan itu lembaga yang telah mempunyai prosedur kerja yang baku dan tidak sembarangan saja cara kerjanya?" tanya Andi yang tampak kebingungan.
Mendengar pertanyaan Andi, Anto tersenyum dan memuji ketelitian sahabatnya itu. "Kenapa bisa terjadi? Ya, bisa saja editor kan juga manusia. Pada intinya, kejadian pada poin ketujuh dan kedelapan dapat terjadi dikarenakan banyak faktor, diantaranya adanya rotasi jabatan pada perusahaan tersebut, atau ada orang baru yang menangani proyek buku kita, atau bisa jadi lagi pihak penerbit sudah berusaha menghubungi kita, tapi kitanya lagi nggak berada di bumi. Hehehe..lebay banget, ya?
Pokoknya, kalau alasan yang pertama, yaitu rotasi jabatan yang terjadi, kita bisa mengatakan bahwa ini kesalahan dari atasannya, karena atasannya wajib meminta laporan sedetil mungkin kepada editor yang pernah ada di bawahnya. Jadi semua proses naskah yang akan terbit, sedang dikerjakan, sedang dibaca atau masih antri untuk dibaca semua harus dimiliki oleh atasannya sehingga poin ke tujuh dan kedelapan tidak harus terjadi," urai Anto sambil menambahkan, "Ya sudah. Aku mau berangkat dulu, ntar keburu siang dan editor yang menungguku bisa-bisa kabur entah kemana."
"Okelah kalo begitu. Aku juga mau ikut kamu ke penerbit," kata Andi sambil berdiri dari duduknya.
"Lho, ngapain?" Anto bertanya dengan heran.
"Aku kan juga mau memasukkan naskahku ke penerbit," jawab Andi singkat.
"Memang...," tanya Anto yang keburu dipotong oleh Andi.
"Memang semua yang barusan kamu katakan sudah kulakukan. Pokoknya aku yakin naskahku kali ini akan diterbitkan. Jadi, yuk kita berangkat," potong Andi sambil menunjukkan amplop besar yang sedari tadi ditentengnya.
Akhirnya kedua sahabat itu berangkat bersama dengan membawa mimpi-mimpi indah tentang buku mereka yang meledak di pasaran menjadi buku BEST SELLER!!
Minggu, 02 November 2008
MTM (Mengulang Tentang Menulis)
Sudah sangat lama sekali Anto dan Andi tidak bersua. Saat berjumpa, hal pertama yang ditanyakan oleh Andi adalah mengenai MENULIS!
"Waduh, mbok yao tanya yang lain dulu. Tanya kabar, kek, apa kek gitu. Ini kok langsung tanya soal menulis. Emangnya nggak ada pertanyaan lain apa?" protes Anto sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Ya... aku sih udah tahu kabar kamu baik-baik saja," jawab Andi pendek.
"Lho, tahu dari mana?" Anto kali ini kebingungan dan berpikir selama tidak bertemu, mungkin Andi telah belajar ilmu meramal.
"Fakta! Bahwa kamu berdiri di sini dan tidak kurang suatu apa, hal itu menandakan bahwa kamu dalam keadaan sehat wallafiat kan?!" jawab Andi lugas yang membuat Anto tersenyum sendiri.
"Trus apa yang mau kamu tanyakan soal menulis, bukankah sudah banyak kamu mencatat apa yang sudah kita bicarakan selama ini?" tanya Anto lagi.
"Iya, tapi ada beberapa lembar catatan awal gua menghilang," kata Andi memberi alasan.
"Makanya kalau punya catatan penting itu disimpan yang rapi, biar nggak ilang," sungut Anto.
"Yee.. aku sih menyimpan dengan baik, cuman kemaren orangtuaku kekurangan kertas buat bungkus barang dagangannya, dan tanpa tanya kepadaku, dia langsung mengambil tumpukan kertas milikku untuk dijadikan bungkus," jawab Andi dengan nada kesal.
Anto yang mendengar jawaban Andi langsung terpingkal-pingkal. "Oke deh. Aku kasih rambu-rambu aja, ya".
"Rambu Lalu Lintas?" tanya Andi polos.
"Bukan rambu itu, tapi sekedar kata kunci untuk mengingatkan kamu tentang latihan menulis kita terdahulu," tukas Anto sambil melanjutkan, "Yang pertama, seingatku kita membahas tentang Menemukan Ide, kemudian Dongeng 'Cerita Tanpa Batas', lalu Menulis Ulang, Menerjemahkan, Mengadaptasi dan Karya Sendiri. Yang lainnya nanti aku ingat-ingat lagi, sekarang cukup itu dulu, ya".
"Huuu...dasar pelit!" kata Andi tapi dengan rasa terima kasih karena dibantu mengingat latihan-latihan awal mereka menulis dulu.
"Waduh, mbok yao tanya yang lain dulu. Tanya kabar, kek, apa kek gitu. Ini kok langsung tanya soal menulis. Emangnya nggak ada pertanyaan lain apa?" protes Anto sebelum menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
"Ya... aku sih udah tahu kabar kamu baik-baik saja," jawab Andi pendek.
"Lho, tahu dari mana?" Anto kali ini kebingungan dan berpikir selama tidak bertemu, mungkin Andi telah belajar ilmu meramal.
"Fakta! Bahwa kamu berdiri di sini dan tidak kurang suatu apa, hal itu menandakan bahwa kamu dalam keadaan sehat wallafiat kan?!" jawab Andi lugas yang membuat Anto tersenyum sendiri.
"Trus apa yang mau kamu tanyakan soal menulis, bukankah sudah banyak kamu mencatat apa yang sudah kita bicarakan selama ini?" tanya Anto lagi.
"Iya, tapi ada beberapa lembar catatan awal gua menghilang," kata Andi memberi alasan.
"Makanya kalau punya catatan penting itu disimpan yang rapi, biar nggak ilang," sungut Anto.
"Yee.. aku sih menyimpan dengan baik, cuman kemaren orangtuaku kekurangan kertas buat bungkus barang dagangannya, dan tanpa tanya kepadaku, dia langsung mengambil tumpukan kertas milikku untuk dijadikan bungkus," jawab Andi dengan nada kesal.
Anto yang mendengar jawaban Andi langsung terpingkal-pingkal. "Oke deh. Aku kasih rambu-rambu aja, ya".
"Rambu Lalu Lintas?" tanya Andi polos.
"Bukan rambu itu, tapi sekedar kata kunci untuk mengingatkan kamu tentang latihan menulis kita terdahulu," tukas Anto sambil melanjutkan, "Yang pertama, seingatku kita membahas tentang Menemukan Ide, kemudian Dongeng 'Cerita Tanpa Batas', lalu Menulis Ulang, Menerjemahkan, Mengadaptasi dan Karya Sendiri. Yang lainnya nanti aku ingat-ingat lagi, sekarang cukup itu dulu, ya".
"Huuu...dasar pelit!" kata Andi tapi dengan rasa terima kasih karena dibantu mengingat latihan-latihan awal mereka menulis dulu.
Labels:
Books,
buku cerita anak,
cerita,
genre cerita anak,
ide,
Menulis Cerita Anak
Rabu, 02 Juli 2008
Alternatif Pencarian Ide untuk Cerita
Lebih dari satu bulan Andi dan Anto tak bersua. Sebagai seorang sahabat, Andi sangat kangen pada temannya itu sehingga hari ini dia pergi untuk mengunjungi sahabat karibnya tersebut.
Seperti biasanya juga, selain kangen, Andi juga membawa misi untuk mengorek ilmu Anto mengenai tulis menulis.
Sesampainya di rumah Anto, kebetulan Anto sedang memandikan Si Bagong, burung kesayangannya. "Woi, dah rubah haluan jadi pedagang burung, nih?" kata Andi menyapa sahabatnya.
Karena kaget, Anto yang lagi nyemprot si Bagong memutar tubuhnya ke belakang. Tapi karena memegang selang, maka arah semprotan selang yang tadinya ke tubuh si Bagong, jadi berubah menyemprot tubuh Andi.
Terang aja Andi mencak-mencak mengeluarkan ginkang (ilmu ringan tubuh)-nya. Tapi dasar emang nggak punya ilmu meringankan tubuh, maka sebagian bajunya sudah kena semprot air duluan.
"Sory, Ndi... sorry. Habis kamu ngageting aja, sih," kata Anto sembari meminta maaf dan mematikan aliran air.
"Tumben, ada apa nih?" tanya Anto sambil memberikan handuk untuk mengeringkan tubuh Andi.
Andi menyambut handuk itu sambil tetap manyun. "Tadinya aku kangen sama kamu, tapi sekarang aku jadi males. Soalnya, bukan di kasih air minum malah disuruh mandi," jawab Andi.
"Aku kan sudah minta maaf. Ayo duduk sini," kata Anto mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Setelah duduk dan meminum teh hangat, Andi kemudian menceritakan masalah pokoknya selain rasa kangen terhadap Anto.
Andi merasa sudah mulai bisa menulis, terbukti dengan beberapa hasil karyanya dan pernah memenangkan sebuah lomba penulisan cerita pendek di sebuah majalah ibu kota.
Namun, saat ini, Andi mengalami kesulitan mencari ide-ide segar.
Setelah mendengar, Anto tiba-tiba berkata, "Aku mau pergi."
Andi yang baru saja meminum teh hangatnya langsung menyemburkannya karena kaget. "Bruah!"
Ganti Anto sekarang yang harus jumpalitan menghindari semburan air teh hangat dari mulut Andi. "Gila, loe, ya" teriak Anto.
"Kamu yang gila," balas Andi nggak mau kalah. "Masa' aku minta bantuan, kamu malah mau pergi."
"Lha, kan itu tadi sudah aku bantu," balas Anto sengit.
"Bantu apaan?" tanya Andi nggak ngerti.
"Aku mau pergi. Itu kalimat bantuan dari aku. Tinggal kamu sendiri yang harus bisa ngembangin," kata Anto.
"Aku masih belum ngerti," kata Andi.
Terpaksa Anto menjelaskan mengenai beberapa metode alternatif mencari ide. "Dalam mencari ide, kita tidak harus menyendiri atau pergi ke tempat-tempat sepi. Tapi ada juga beberapa alternatif untuk mencari ide yang sederhana tapi sangat manjur. Di antaranya:
1. Metode Daftar Kata
Metode ini bisa diterapkan dengan mengambil kata secara acak dari buku atau kamus. Kalau memungkinkan, minta teman yang memilihkan.
Buatlah daftar kata yang harus dimuat cerita itu sekitar 8-10 kata. Contohnya, hutan, harimau, pohon, tertawa, rumah.
Nah, kata-kata itu tidak saling berhubungan, jadi asyiknya ya merangkai cerita agar kata-kata tersebut ada semua.
2. Metode First Line
Ambil kalimat pertama dari buku manapun, tapi yang belum dibaca atau minta bikinin kalimat sama teman, dan coba kamu karang sendiri lanjutannya.
Metode kedua inilah yang aku berikan padamu tadi.
3. Metode Judul
Seperti metode kedua, kamu bisa lihat-lihat judul buku di perpustakaan atau toko buku. Coba tulis cerita berdasarkan judul yang menarik perhatian tanpa tahu isinya terlebih dahulu.
Nah, dari tiga metode ini, coba kamu pilih salah satu atau gabungkan ketiga metode tersebut untuk mendapatkan ide bagi naskah ceritamu. Mudah-mudahan berhasil," jelas Anto panjang lebar.
Setelah mengerti, Andi jadi tersenyum dan ganti dia yang minta maaf sama Anto.
"Memang nggak pernah rugi aku main ke rumahmu, Nto," kata Andi pada sahabatnya sambil tersenyum.
"Itulah gunanya teman," jawab Anto sambil menepuk pundak sahabat tercintanya itu dan mereka pun meneruskan menikmati segelas teh hangat dan pisang goreng kegemaran mereka berdua yang baru dibeli saat Mak Ijah lewat.
Seperti biasanya juga, selain kangen, Andi juga membawa misi untuk mengorek ilmu Anto mengenai tulis menulis.
Sesampainya di rumah Anto, kebetulan Anto sedang memandikan Si Bagong, burung kesayangannya. "Woi, dah rubah haluan jadi pedagang burung, nih?" kata Andi menyapa sahabatnya.
Karena kaget, Anto yang lagi nyemprot si Bagong memutar tubuhnya ke belakang. Tapi karena memegang selang, maka arah semprotan selang yang tadinya ke tubuh si Bagong, jadi berubah menyemprot tubuh Andi.
Terang aja Andi mencak-mencak mengeluarkan ginkang (ilmu ringan tubuh)-nya. Tapi dasar emang nggak punya ilmu meringankan tubuh, maka sebagian bajunya sudah kena semprot air duluan.
"Sory, Ndi... sorry. Habis kamu ngageting aja, sih," kata Anto sembari meminta maaf dan mematikan aliran air.
"Tumben, ada apa nih?" tanya Anto sambil memberikan handuk untuk mengeringkan tubuh Andi.
Andi menyambut handuk itu sambil tetap manyun. "Tadinya aku kangen sama kamu, tapi sekarang aku jadi males. Soalnya, bukan di kasih air minum malah disuruh mandi," jawab Andi.
"Aku kan sudah minta maaf. Ayo duduk sini," kata Anto mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di kursi yang ada di teras rumah.
Setelah duduk dan meminum teh hangat, Andi kemudian menceritakan masalah pokoknya selain rasa kangen terhadap Anto.
Andi merasa sudah mulai bisa menulis, terbukti dengan beberapa hasil karyanya dan pernah memenangkan sebuah lomba penulisan cerita pendek di sebuah majalah ibu kota.
Namun, saat ini, Andi mengalami kesulitan mencari ide-ide segar.
Setelah mendengar, Anto tiba-tiba berkata, "Aku mau pergi."
Andi yang baru saja meminum teh hangatnya langsung menyemburkannya karena kaget. "Bruah!"
Ganti Anto sekarang yang harus jumpalitan menghindari semburan air teh hangat dari mulut Andi. "Gila, loe, ya" teriak Anto.
"Kamu yang gila," balas Andi nggak mau kalah. "Masa' aku minta bantuan, kamu malah mau pergi."
"Lha, kan itu tadi sudah aku bantu," balas Anto sengit.
"Bantu apaan?" tanya Andi nggak ngerti.
"Aku mau pergi. Itu kalimat bantuan dari aku. Tinggal kamu sendiri yang harus bisa ngembangin," kata Anto.
"Aku masih belum ngerti," kata Andi.
Terpaksa Anto menjelaskan mengenai beberapa metode alternatif mencari ide. "Dalam mencari ide, kita tidak harus menyendiri atau pergi ke tempat-tempat sepi. Tapi ada juga beberapa alternatif untuk mencari ide yang sederhana tapi sangat manjur. Di antaranya:
1. Metode Daftar Kata
Metode ini bisa diterapkan dengan mengambil kata secara acak dari buku atau kamus. Kalau memungkinkan, minta teman yang memilihkan.
Buatlah daftar kata yang harus dimuat cerita itu sekitar 8-10 kata. Contohnya, hutan, harimau, pohon, tertawa, rumah.
Nah, kata-kata itu tidak saling berhubungan, jadi asyiknya ya merangkai cerita agar kata-kata tersebut ada semua.
2. Metode First Line
Ambil kalimat pertama dari buku manapun, tapi yang belum dibaca atau minta bikinin kalimat sama teman, dan coba kamu karang sendiri lanjutannya.
Metode kedua inilah yang aku berikan padamu tadi.
3. Metode Judul
Seperti metode kedua, kamu bisa lihat-lihat judul buku di perpustakaan atau toko buku. Coba tulis cerita berdasarkan judul yang menarik perhatian tanpa tahu isinya terlebih dahulu.
Nah, dari tiga metode ini, coba kamu pilih salah satu atau gabungkan ketiga metode tersebut untuk mendapatkan ide bagi naskah ceritamu. Mudah-mudahan berhasil," jelas Anto panjang lebar.
Setelah mengerti, Andi jadi tersenyum dan ganti dia yang minta maaf sama Anto.
"Memang nggak pernah rugi aku main ke rumahmu, Nto," kata Andi pada sahabatnya sambil tersenyum.
"Itulah gunanya teman," jawab Anto sambil menepuk pundak sahabat tercintanya itu dan mereka pun meneruskan menikmati segelas teh hangat dan pisang goreng kegemaran mereka berdua yang baru dibeli saat Mak Ijah lewat.
Labels:
cerita,
ide,
Menulis Cerita Anak
Langganan:
Postingan (Atom)